Dia senang bisa melihat senyum gadis itu dari jarak dekat. Hatinya berbunga-bunga, hatinya damai tapi dia tak menyadari itu. Dia masih terus menatap wajah cantik gadis didepannya itu. Menikmati senyum manis gadis ini.Tuhan terimakasih telah kau kirim gadis cantik ini untuknya.
"Pak Liandra pak Candra saya permisi dulu, terimakasih untuk makan paginya" pamit Zeline ramah, gadis cantik itu melangkah meninggalkan Liandra dan Candra, namun langkahnya terhenti. Ada yang memanggilnya.
"Zeline" panggil Liandra, gadis itu menoleh kearahnya namun Liandra tak berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum, ini adalah senyum termanisnya, tersenyum pada gadis yang sangat dia cintai, Zeline membalas senyumnya. Senyum yang Zeline berikan tak kalah manis dari senyum Liandra. Wajah laki-laki itu memerah, seperti kepiting yang disiram air panas. Hatinya bersorak bahagia. Dia bahagia sangat bahagia. Dia terus memperhatikan gadis itu sampai gadis itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Wwaahh... ada yang terhipnotis ni" suara itu menyadarkan Liandra dari pandangan Zeline, Candra selalu suka menggoda sahabatnya ini. Dia tau betul kalau saat ini sahabatnya sedang jatuh cinta. Namun mungkin sahabatnya itu tak menyadarinya.
"Kita ke bandara sekarang" titah Liandra, dia tak mau menggubris sahabatnya itu karna dia memang tidak tau akan perasaannya.
Di ruangan Zeline, gadis itu masih terngiang-ngiang akan senyum manis Liandra yang baru saja dia dapatkan tadi. Dia sering melihat Liandra tersenyum namun tak semanis senyum yang ia dapatkan tadi. Dia teringat malam itu, betapa manisnya Liandra memperlakukannya waktu itu. Dia teringat semua tentang Liandra. Dia segera menggelengkan kepala. Dia ingin menghilangkan bayangan Liandra.
Harusnya dia senang karna Minggu ini Minggu terakhir dia di kantor Liandra. Harusnya dia senang karna hari ini Liandra akan terbang ke pulau M dan itu artinya dia tak akan bertemu Liandra. Tapi kenapa hatinya malah merasa sedih, dia sedih karna tak bisa melihat senyum manis Liandra lagi.
Tidak, dia tidak boleh mengingat Liandra lagi.
Dia segera ke toilet, dia membersihkan mukanya dia ingin menghapus semua tentang Liandra, setelah selesai magangnya dia hanya ingin berkonsentrasi sama kuliahnya. Dia hanya ingin fokus mencari ilmu.
"Zel... hp loe dari tadi bunyi terus tu..." ujar Stela memberi tau Zeline setelah dia selesai dari toilet, Zeline segera mengecek hpnya.
"Sepuluh kali panggilan dari kak Damar, ada apa?" gumam Zeline.
"Ada apa?" ujar Zeline setelah Damar mengangkat telponnya.
[......]
Handphone Zeline terjatuh air matanya tak bisa dibendung lagi, dia menangis sesenggukan di ruangan itu. Tak lama dia pergi meninggalkan ruangan itu, dia tak memperdulikan teman-temannya yang bertanya padanya. Bagai disambar petir disiang bolong, mungkin itu yang dirasakan Zeline saat ini.
Dia terus berlari sambil menangis tak peduli orang melihatnya. Tak sengaja dia bertabrakan dengan Candra. Bbrruukk
"Maaf" kata Zeline yang tanpa melihat Candra, dia kembali berlari terburu-buru. Badannya sudah gemetar. Dia berharap apa yang dikatakan kakaknya tidak benar.
"Kenapa dia, kenapa lari terburu-buru dan kenapa dia menangis?" tanya Candra oleh dirinya sendiri.
Sedangkan di sana di rumah Zeline, Damar sudah berada di rumah, laki-laki itu juga tak kuasa menahan tangisnya. Dia segera memeluk adiknya. Dia tak kuasa berucap kata pada adiknya hanya air mata yang mewakili hatinya.
"Kak, katakan pada El kalau ini bohong, katakan pada El kalau pesawat yang jatuh itu bukan pesawat yang ditumpangi mama sama papa, katakan sama El kalau ini semua salah kak?" ujar Zeline dengan sesunggukan, namun tak ada jawaban dari Damar, dia mencoba kembali bertanya Arin "Kak Arin bilang sama El kak, kalau kak Damar ngebohongin El?"
"Dek...." ucap Arin yang langsung memeluk Zeline , tangis mereka semakin pecah, mereka saling menguatkan.
"Enggak mungkin kak, ini pasti bohong, gak mungkin mama sama papa meninggal, gak mungkin" ujar Zeline tak percaya "Zeline, akan pergi ke maskapai yang ditumpangi mama sama papa" lanjutnya, Zeline berdiri dari duduknya dan hendak pergi, namun tangan Damar mencegahnya, laki-laki itu memeluk kembali adiknya.
"Kakak sama kak Arin sudah ke sana El kakak juga berharap ini salah tapi memang ini tidak salah El, pesawat yang jatuh itu memang benar pesawat yang ditumpangi papa sama Mama dan...." Damar tak kuasa memberitahu adiknya, ucapnya menggantung dia sakit melihat adiknya saat ini dia kembali memeluk adiknya.
"El.... pihak maskapai bilang mereka tidak bisa menemukan jenazah para korban, semuanya hancur dek, pesawat meledak sebelum terjatuh" ucapnya dengan pelan.
Hati Zeline hancur benar-benar hancur, dia harus kehilangan orang yang teramat dia cintai, dia kehilangan orang yang belum sempat dia bahagiakan. Hanya air mata yang mewakili hatinya.
Berita kepergian tuan Permana sudah tersebar dikalangan pebisnis. Mereka bergantian datang kekediaman tuan Permana, mereka merasa kehilangan. Tuan Permana terkenal ramah dan selalu rendah hati, orang-orang selalu menghormatinya. Mereka masih tak percaya kalau tuan Permana pergi dengan cara seperti ini.
"Mar, gue turut berduka cita ya atas kepergian om sama Tante Permana, loe yang sabar ya yang kuat, Tante dan Om Permana orang yang baik, beliau pasti ditempatkan di surganya" kata Candra.
"Makasih ya Cand"
"Sama-sama Mar, oh ya Liandra titip salam dia turut berduka cita dia juga minta maaf belum bisa kesini, dia lagi diluar kota"
"Iya gak papa, salam balik buat Liandra"
"Sayang aku tenangin El dulu ya, cand aku tinggal dulu ya" ujar Arin yang meninggalkan Damar dan Candra.