Episode 10

986 Kata
Tujuh hari kepergian orangtuanya tapi Zeline masih enggan untuk keluar kamar, gadis itu mengunci diri dikamar. Hatinya masih sangat sakit. Dia masih tidak percaya, ini pasti bohong? berita ini pasti bohong? mama papanya pasti masih hidup? "El......" panggilnya dengan lembut namun gadis itu memalingkan wajahnya "El... kita turun yuk, acara pengajian sebentar lagi dimulai, kita berdoa untuk papa mama kita yuk..." bujuknya dengan lembut, namun gadis itu masih enggan untuk menjawab dia masih memalingkan pandangannya. "Dek, kamu gak boleh seperti ini terus, kasihan papa sama Mama kalau kamu seperti ini terus, kamu harus ikhlas dek, kamu ingin mama sama papa bahagiakan?" ujar Arin dengan penuh kasih sayang, Zeline tak kuasa berucap kata dia hanya menganggukkan kepalanya. "Ya udah kita turun yuk, kita ikut tahlilan untuk mendoakan mama sama papa" Arin memang selalu bisa membujuk Zeline, dengan perhatian dia membenarkan rambut calon adik iparnya yang berantakan, dia juga dengan telaten memakaikan kerudung untuk Zeline. Arin begitu menyayangi Zeline, gadis itu sudah seperti adiknya sendiri. Mereka semua berdoa dengan khusuk dan khidmat. Air mata Zeline tak bisa ditahannya, dia selalu menangis di setiap doanya. Gadis yang ceria dan tegar ini seketika menjadi gadis yang begitu rapuh. Selesai acara Zeline langsung kembali ke kamarnya, dia menangis sejadi-jadinya dikamar. Dia mengingat dosa yang sudah dia lakukan dibelakang orangtuanya. "Mama papa... maafin El, maafin El yang kotor ini, mama sama papa yang tenang di sana ya, El sudah ikhlas dan El janji ini yang terakhir El nangis, El janji El gak akan sedih lagi, El akan bangkit kembali dari keterpurukan El, El janji..." Gadis itu kembali tersenyum, dia sudah berjanji tidak akan bersedih lagi, dia ingin menata hidupnya kembali dan memulai kehidupannya yang baru. Besok hari terakhir dia magang, dia harus semangat dia harus memberikan yang terbaik dihari terakhirnya dia bahagia bisa kembali ke kampus lagi dan berkumpul sama teman-temannya namum terselip sedikit kesedihan dihatinya, dia harus berpisah dengan Liandra. Dia tidak lagi bisa melihat senyum manis Liandra. Pagi hari di rumah tuan Permana_ "Pagi kakak ku yang paling tampan" sapa Zeline dengan wajah yang sumringah, Damar hanya terdiam tak membalas sapaan adiknya dia heran melihat adiknya, semalam adiknya masih menangis sesunggukan tapi mengapa pagi ini adiknya begitu sumringah, why? "Kok kak Damar diam El sapa?" tanya Zeline kembali. "Tidak tidak, kakak hanya heran saja sama kamu, kemarin kamu masih sangat terpuruk tapi kenapa sekarang kamu begitu sumringah?" tanya Damar. "Bukankah kemarin kak Damar mendengar sendiri apa yang dibilang kak Arin.. papa dan mama gak akan bahagia kalau melihat El terus menangis jadi El harus bangkit, El harus bisa mengikhlaskan semua, El gak boleh terus-terusan bersedih" ujar Zeline beraturan. "Bagus... kakak bangga padamu, apa kau sudah siap ngantor?" tanya Damar. "Siap dong....." jawab Zeline dengan bahagia. "Apa perlu kakak antar?" tanya kak Damar. "Oh tidak-tidak El akan bawa mobil El sendiri, El hari ini hanya setengah hari di kantor hanya pamitan saja habis itu El langsung ke kampus" "Baiklah kau hati-hati" kata Damar mereka kembali melanjutkan sarapan mereka. Di sana di kantor Liandra, seperti biasa Zeline berangkat pagi-pagi tapi hari ini dia berangkat lebih pagi, tidak seperti biasanya jika biasanya dia naik taksi hari ini dia bawa mobil sendiri, mobil mewah yang kakaknya berikan diwaktu ulang tahunnya ke dua puluh satu tahun bulan lalu. Zeline memang jarang membawa mobil sendiri, dia terbiasa naik taksi atau gak terkadang diantar pak sopir tapi hari ini dia ingin memakai mobil sendiri. Belum banyak karyawan yang datang, baru ada OB dan beberapa karyawan, dia belum melihat Lira karna biasa Lira karyawan yang pertama datang, tapi dia belum ada itu artinya Liandra belum tiba di ibu kota karna Lisa ikut menemani Liandra ke pulau M. Liandra belum tiba, dia masih di pulau M harusnya dia senang dong karna dia tak perlu mengatur kata untuk pamitan sama Liandra, tapi mengapa hatinya malah sedih, dia tidak bisa melihat wajah tampan direkturnya, dia tidak bisa melihat senyum manis direkturnya. Makan pagi kemarin mungkin adalah pertemuannya yang terakhir dan juga mungkin itu senyum manis Liandra untuknya sebagai tanda perpisahan. Aacchhh hatinya jadi galau deh. . . Dia berhenti sejenak didepan ruangan Liandra tak lama dia melangkah menuju ruangannya. Sedih hanya kata itu yang terucap dari bibirnya. Ruangan ini tempat dia menghabiskan waktu selam tiga bulan ini, ruangan ini yang mengajarkan dia banyak hal dan ruangan ini yang mengenalkan dia dengan Liandra Adhitama Wijaya. Tiga bulan waktu yang singkat yang memberikan banyak kisah untuknya. Waktu yang singkat yang mampu memberikan banyak kenangan untuknya dan hari ini dia harus meninggalkan ruangan ini. Dia segera merapikan ruangannya selesai merapikan ruangannya dia pergi keruangan Candra. Dia ingin pamitan sama Candra karna selama dia magang di kantor ini Candra sudah banyak mengajarinya banyak hal, Candra juga banyak membantunya. Tak lupa juga dia mau berterimakasih karna Candra sudah memberinya nilai A. Ttookk ttookk ttookk dia mengetuk pintu ruangan Candra, pria itu langsung mempersilahkannya masuk. "Eehh Zeline, apa ada masalah pagi-pagi kau sudah menemuiku?" tanya Candra dengan datar setelah mempersilahkan Zeline duduk. "Tidak pak, saya mau pamitan sama pak Candra, besok saya mau kembali ke kampus dan saya juga mau berterimakasih sama pak Candra karena pak Candra sudah memberikan saya kesempatan untuk magang di kantor ini dan terimakasih juga pak Candra sudah mengajarkan saya banyak hal dan banyak pengalaman, sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan terima kasih juga untuk nilai A nya" ujar Zeline dan dikata terakhir tak lupa dia selipkan senyum manisnya. Candra tersenyum, dia memperhatikan gadis didepannya ini Cantik ucapnya dalam hati "Pantas Liandra menyukainya" ujarnya dalam hati. "Tidak perlu kau berterimakasih padaku, aku tak akan memberimu kesempatan kalau Liandra tak mengizinkanku jadi berterimakasih lah sama Liandra" ucapnya. "Nanti kalau pak Liandra sudah balik saya pasti akan berterimakasih padanya" ucapnya dengan senyum yang dipaksakan, bagaimana cara dia berterimakasih pada Liandra, dia sangat menghindari Liandra. "Oh yyaa saya ada bingkisan buat pak Candra dan semoga pak Candra menyukainya" ujarnya sambil memberikan bingkisan pada Candra. "Tak perlu repot-repot Zeline" "Tidak pak tidak merepotkan" "Baiklah, terimakasih Zeline"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN