Pria itu masih enggan pulang, dia masih berada dikantor. Hatinya bimbang, dia tak tau apa yang harus dia lakukan. Dia memijit-mijit pelipisnya, kepalanya begitu sakit. Entah apa yang menghantui pikirannya.
Dia mengambil ponselnya, dia melihat chat terakhirnya dengan sang kekasih, sudah dua hari mereka tak saling memberi kabar. Dia membuka chatnya dengan adiknya. Adiknya malam ini menginap diapartemen. Dia ingin menghubungi adiknya namun tidak jadi dia hanya mengirim pesan.
"Besok pulanglah pagi-pagi" send, dia meletakkan handphone nya diatas meja dan segera menyandarkan kepalanya dikursi. Dia memejamkan matanya namun kenangan indah tentang kekasihnya kembali muncul dibenaknya.
"Arin apa harus aku membawamu lari" gumamnya, dia membuka lacinya masih ada sisa rokok, dia mengambilnya dan membakarnya, pria itu type perokok namun saat ini pikirannya lagi kacau. Dia hanya tak mau salah melengkah.
Disana didalam mobil Liandra, tak ada obrolan antara mereka hanya ada sebuah lagu yang dinyalakan dari audio mobil Liandra yang menemani perjalanan mereka. Sesekali mereka ikut menirukan lagu itu.
"Suara kamu bagus" puji Liandra, gadis itu hanya tersenyum
"Kak Liandra lebih bagus" ujarnya kembali memuji Liandra
"Iya dong dulu aku kan calon penyanyi" jawabnya pede, Zeline terkekeh mendengar jawaban Liandra "hei.. kenapa kau tertawa gadis, apa kau tak parcaya?" ujarnya sambil menoleh kearah Zeline, terlihat wajah gadis itu menjadi sedih.
"Gadis?" ujarnya pelan namun tertedengar jelas oleh Liandra, dia sudah tak ingin mengingat kejadian malam itu tapi tetiba kejadian malam itu teringat olehnya kembali. Dia yang menggoda Liandra, dia yang begitu agresif pada Liandra lalu ciuman waktu itu, belaian malam itu semua hadir kembali di hati dan pikirannya. Dia merasa jijik dengan dirinya jika mengingat itu dan dia merasa sangat malu jika bertemu Liandra namun mengapa Liandra mengingatkannya kembali. Bukan Liandra bukan mengingatkannya, dia hanya memanggilnya dengan sebutan gadis.
Menyadari akan hal itu Liandra mempercepat laju mobilnya dia membawa mobilnya sedikit jauh dari keramaian dan segera dia memarkirkan mobilnya. Dia keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Zeline, mereka berjalan kesebuah taman kota namun taman itu sudah tak ada pengunjung.
"Apa ada yang salah dengan ucapanku hingga membuatmu sedih?" tanya Liandra setelah mereka duduk dibangku pinggir taman
"Ah tidak" jawab Zeline
"Maafkan aku" ucap Liandra, dia menatap Zeline dengan penuh penyesalan tangannya terus menggenggam jemari gadisnya.
"Maaf untuk apa kak Liandra?" tanya Zeline tersenyum menyembunyikan kesedihannya, dia masih tak mengerti mengapa Liandra tiba-tiba meminta maaf
"Aku minta maaf Zeline untuk malam itu, aku minta maaf sudah merenggut sesuatu yang sangat berharga darimu, aku minta maaf sudah merusak masa depanmu, aku minta maaf sudah menghancurkan hidupmu Zeline, aku minta maaf untuk semuanya" ucap Liandra, Zeline membalas tatapannya gadis itu melihat ketulusan dari Liandra.
Zeline tersenyum "Kak, ini bukan sepenuhnya salah kak Liandra, aku yang salah kak tak seharusnya aku menggodaku, maafkan aku tak seharusnya aku melakukan itu semua aku tak lebih dari seorang w*************a kak" ujarnya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya
Liandra segera menyeka air mata gadis itu dengan kedua jarinya "Hhuuzz kamu gak boleh bicara seperti itu, kamu perempuan yang luar biasa Zeline, kamu perempuan yang istimewa, kamu jangan berpikir kalau ini salah kamu, kita pikul beban ini sama-sama, jangan kau bersedih lagi aku akan bertanggungjawab dengan segala perbuatanku, aku akan segera menemui orangtuamu" ujar Liandra, dia langsung memeluk gadisnya, memeluk dengan erat, dia tak ingin melepaskannya.
"Terimakasih Liandra, terimakasih sudah sedikit mengurangi beban hidupku, terimakasih sudah mengisi hari-hari ku, terimakasih Liandra terimakasih untuk segalanya" ujar Zeline dalam hati.
Liandra melepaskan pelukannya dia masih menatap gadisnya, gadis itu hanya tersenyum. Dia bahagia melihat senyum gadisnya.
"Aku akan selalu ada untukmu Zeline, kau tak boleh merasa sendirian ada aku untukmu" ucap Liandra
"Terimakasih kak" ucap Zeline
Hari sudah semakin malam Liandra segera mengantar gadisnya pulang, Zeline tak ingin pulang kerumahnya dia akan menginap di apartemen malam ini.
"Apa kak Liandra mau mampir?" tanya Zeline, dia tak langsung menjawab tawaran Zeline, dia melihat jam ditangannya sudah pukul 22.20 sudah hampir dini.
"Sudah malam istirahatlah, lain kali saja aku pasti akan mampir"
Zeline tersenyum dalam hatinya lega karna Liandra tak ingin mampir. "Baiklah terimakasih" ucap Zeline "Hati-hati jangan ngebut-ngebut bawa mobilny" lanjutnya
"Siap" jawab Liandra dengan menunjukkan senyum manisnya.
Sesampainya dikamar apartemen miliknya, gadis itu langsung merebahkan badannya, dia merasa sangat lelah hari ini. Dia kembali berdiri, dia ingin membersihkan badannya namun dia teringat sedari sore tadi dia belum mengaktifkan handphone nya, dia segera mengambil handphone nya dan segera mengaktifkannya tak lama ada satu pesan masuk dari kakaknya.
"Kak Damar menyuruhku pulang pagi-pagi, kenapa? ada apa dengan kak damar? gumamnya, tak biasanya dia menyuruh Zeline pulang pagi-pagi.
=======
Disana dirumah Liandra, dia memasuki rumah dengan senyum sumringah, hatinya sangat bahagia hari ini. Dia ingin segera kekamarnya dan ingin segera menelpon Candra, dia tak ingin melupakan sahabatnya disaat lagi bahagia seperti ini namun langkahnya terhenti, senyumnya seketika pudar, lagi dan lagi dia harus mendengar pertengkaran mama dan papanya. Dia sudah sangat muak dengan keadaan seperti ini. Dia merindukan keluarga yang harmonis seperti dulu lagi namun akhir-akhir ini mama dan papanya lebih sering cek-cok.
"Kenapa, kenapa selalu bertengkar?" Liandra kesal, dia kembali pergi meninggalkan rumah. Dia ingin keapartemen Candra namun dia urungkan dia tak ingin selalu merepotkan Candra. Damar, dia ingin kerumah Damar namun sudah hampir dini dia memutar balikkan mobilnya dan pada akhirnya dia menginap di apartemen miliknya.
Dia merebahkan badannya disana, dia memejamkan matanya, pertengkaran orangtuanya selalu mengiang dipikirannya. Papanya yang tergoda oleh wanita lain dan mamanya yang hanya tau shopping, mereka sudah tak lagi memperhatikan Liandra. Mereka sudah tak mengingat ada Liandra. Mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Dia mengguyur badannya dibawah shower dia ingin melupakan masalah keluarganya, dia tak ingin mengingatnya.
Pagi hari Zeline buru-buru kembali kerumah, dia mengkhawatirkan kakaknya. Setelah sampai dirumah dia segera mencari kakaknya, gadis itu mancari kakaknya dikamar namun tak menemukannya, dia kembali kebawah mencari kakaknya diruang kerja namun dia tak menemukannya juga. Dia pergi kedapur dan tepat disana ada kak Damar yang sedang membuat kopi.
"Kakak..." sapanya yang langsung memeluk kakaknya dari belakang "ada apa kakak menyuruhku pulang pagi-pagi?" tanyanya yang masih memeluk kakaknya.
"Apa kau akan selalu manja seperti ini gadis?" tanya Zeline
"He'em" jawab Zeline
"Hei... kau tak boleh seperti ini terus kau sudah bukan gadis kecil lagi" ujar Damar
"Tidak masalah" jawab Zeline yang melepaskan pelukannya "Apa kakak sudah sarapan?" tanyanya perhatian
"Sudah" jawab kak Damar datar "Duduklah kakak mau bicara denganmu" pinta Damar dan gadis itu menuruti apa yang dibilang kakaknya, mereka duduk dikursi makan
"El.... kak Arin minta kakak nikahi" ujar Damar hati-hati
"Bagus dong kak, lalu kenapa kakak kelihatannya bingung?" tanya Zeline
"El... sebenarnya mama kak Arin tidak merestui hubungan kita" ujar Damar dengan hati yang berat