Dia sedang jatuh cinta, hatinya sangat bahagia karna gadisnya menyambutnya dengan hangat.
Pagi ini ada rapat, Candra ikut serta dalam rapat ini, semua kolega-kolega sudah berkumpul diruang rapat jika biasanya Liandra datang agak telat namun kali ini tidak, dia datang lebih awal itu karna Zeline sudah mengingatkannya semalam dan hari ini wajahnya juga begitu fres. Ya karna semalam dia tidur lebih awal dari biasanya.
Candra menyadari ada yang berbeda dari Liandra. Sahabatnya itu lebih semangat dan tak sering telat lagi ketika rapat seperti ini dan dia sekarang juga selalu tepat waktu untuk makan siang. Candra bersyukur atas perubahan Liandra.
Rapat berjalan dengan lancar, semua kolega-kolega sudah pada kembali tinggal dia Candra dan Lisa yang masih ada diruang rapat itu, dia melihat jam ditangannya waktu menunjukkan pukul 15.00, dia segera pergi meninggalkan ruangan rapat dia janji hari ini akan menjemput Zeline, dia tak mau telat karna ini adalah kali pertama dia menjemput gadisnya dan bertemu kembali dengan gadisnya.
"Mau kemana loe ndra?" tanya Candra sedikit berteriak karna Liandra sudah menjauh darinya
"Jalan dulu" jawab Liandra datar
"Kalau patah hati aja nyariin gue terus giliran lagi jatuh cinta lupa sama gue" oceh Candra , Lisa hanya tertawa melihat kelakuan Candra.
Dikampus Zeline
Liandra sudah didepan kampus Zeline, namun gadis itu belum juga menampakkan dirinya, Liandra menunggunya mungkin masih ada kelas tambahan namun tak lama gadisnya keluar.
"Wwaauu nona siapa pria tampan itu?" tanya Lula yang menunjuk kearah Liandra yang menyandarkan pinggangnya di depan mobil, dia memang begitu tampan dengan kacamata hitam yang dia kenakan tak jarang cewek-cewek dikampus itu meliriknya bahkan ada yang menggodanya.
"Itu Liandra" jawab Zeline
"Apa kau sduah jadian dengannya nona?" tanyanya menggoda Zeline
"Lula...." ujar Zeline sambil memelototkan matanya "Jangan kau punya pikiran macam-macam" lanjutnya
"Peace" ucap Lula sambil mengangkat dua jarinya
"Ya udah aku duluan yyaa, la" Kata Zeline yang langsung meninggalkan Lula dan berjalan menghampiri Liandra.
"Maaf membuat pak Liandra menunggu lama?" ujarnya dengan ramah namun sedikit canggung
"Tak masalah" ujar Liandra "ya udah kita cabut sekarang ya" lanjutnya yang langsung membukakan pintu mobil untuk Zeline
"Terimakasih" ucapnya, Liandra hanya tersenyum, tak lama mobilnya meninggalkan kampus Zeline.
"Apa kau sudah makan?" tanya Liandra
"Sudah, apa bapak belum makan?" jawab Zeline dan bertanya
"Zeline ini bukan dikantor dan kau bukan lagi bawahanku jadi tak perlu kau memanggilku bapak" ujar Liandra
"Lalu saya harus memanggil bapak apa?" tanya Zeline polos
"Panggil saja Liandra"
"Tidak sopan, anda lebih tua dari saya"
"Aku belum tua-tua amat gadis" ujarnya yang membuat Zeline tertawa, dia bahagia sangat bahagia bisa melihat tawa gadisnya kembali.
"Baiklah kak Liandra" ujarnya dengan senyum manisnya
"Kak Liandra, hheemm itu lebih baik" ucap Liandra, Liandra melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dia ingin mengajak gadisnya bermain.
Di kantor Damar, pria tampan itu duduk dikursi kebesarannya, dia memikirkan hubungannya dengan Arin, sudah hampir tujuh tahun dia bersama Arin namun dia tak kunjung menikahi kekasihnya itu. Apa yang membuatnya tak kunjung menikahi kekasihnya? Dari usia dia sudah matang untuk menikah dan dari materi, dia sudah punya segalanya dan lebih dari cukup bahkan, lalu apa yang membuatnya tak kunjung juga menikahi kekasihnya?
Papa mama nya juga sering memintanya untuk segera menikahi Arin namun dia selalu menolaknya, dia selalu berkata belum siap. Dia kembali mengingat ucapan mamanya.
flashback on
"Mar, kapan kau akan menikahi Arin?" tanya mama dengan lemah lembut seorang ibu
"Ma, damar belum siap ma, damar masih ingin menikmati masa muda damar" jawab damar dengan santai
"Mar, Arin itu perempuan sayang, dia sudah menunggumu terlalu lama, bagaimana kalau dia mulai lelah menunggumu? bagaimana kalau dia mulai berpaling darimu? sayang, perempuan itu yang diinginkan kepastian dari seorang laki-laki jangan kau terlalu lama membuatnya untuk menunggumu, ingat diluar sana ada banyak laki-laki yang siap meminangnya" ujar Mama dengan penuh kasih sayang
flashback off
"Apa kau sudah mulai lelah menungguku Arin? apa kau akan berpaling dariku?" tanya Damar dalam hatinya. "Maafkan aku sayang, aku sudah membuatmu menunggu terlalu lama"
======
Disana_ dua insan itu sedang menikmati pasar malam yang ada dipinggir kota. Mereka menaiki semua permainan yang ada disitu. Canda tawa selalu mengiringi dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
"Apa kau bahagia gadis?" tanya Liandra
"Ya aku bahagia sangat bahagia" jawab gadis itu dengan semangat "terimakasih kak Liandra" lanjutnya
"Apa kau lapar?" tanya Liandra
"Sedikit" jawab Zeline
"Mari kita cari makan" ajaknya, mereka pergi meninggalkan keramaian itu Liandra selalu menggandeng tangan Zeline dia tak ingin melepasnya.
"Kau mau makan apa?" tanya Liandra
"Aku ngikut kak Liandra saja" jawab Zeline
"Baiklah" ujar Liandra, tak lama mobilnya sampai di sebuah restoran yang sederhana, restoran itu sangat sederhana namun masakan direstauran itu tak kalah enak dari restauran bintang lima. Liandra dan Zeline turun dari mobilnya setelah mobilnya terparkir. Dia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke restoran itu tak lupa dia menggandeng Zeline.
Semua pagawai di restoran itu sudah hafal dengan Liandra, semua karyawan menyambutnya dengan ramah.
"Kau mau pesan apa?" tanya Liandra
"Aku pesan......." ujar Zeline
"Samakan aja mbak" ujar Liandra kepada pelayan, sembari menunggu pesanan datang mereka mengobrol, banyak hal yang Liandra tanyakan pada Zeline dan gadis itu dengan senyum manisnya menjawab apa saja yang ditanyakan Liandra.
Tak lama makanan yang mereka pesan datang dan tanpa menunggu lama lagi keduanya langsung melahap makanannya.
"Kenapa tidak dihabisin, apa gak enak makanannya?" tanya Liandra
"Enggak.. enggak.. makanannya enak sangat enak tapi aku lagi diet" jawab Zelien yang memelankan ucapannya dikata diet, Liandra terkekeh mendengar jawaban Zeline
"Jangan terlalu diet gak baik buat kesehatan" ujar Liandra "Lagian badanmu sudah bagus kalau kau terlalu kurus tar jadinya kayak nenek-nenek" lanjutnya dengan sedikit tertawa
"biarin, wlek ?" ujar Zeline sambil mengeluarkan sedikit lidahnya