Tuan Wijaya masih termenung di tempatnya setelah perdebatan panas dan panjang bersama putra semata wayangnya. Beliau sadar, jika enam tahun terakhir ini beliau sangat jarang memperhatikan Liandra secara langsung, beliau hanya menyuruh orang kepercayaannya untuk mengawasi Liandra. Keluar masuk club malam sudah biasa tuan Wijaya lihat dari Liandra. Bahkan kadang Liandra pulang dalam keadaan mabuk berat juga rasanya biasa bagi tuan Wijaya. Sebejat-bejatnya Liandra, senakal-nakalnya Liandra tak pernah tuan Wijaya dengar kalau Liandra main perempuan. Jangankan main perempuan, dekat dengan perempuan pun tak pernah tuan Wijaya lihat atau bahkan sekedar mendengar. Tapi kenapa kini bisa Liandra menghamili anak gadis orang? bukan, tapi anak gadis sahabatnya sendiri. Anak gadis yang seharusnya ia j

