Liandra, masih enggan membuka matanya. Namun alarm ponselnya membuatnya harus membuka mata. Dia meraih ponselnya, dilihatnya masih pukul setengah tiga dini. Masih terlalu malam untuk melanjutkan perjalanan. Tak tega juga bila harus membangunkan Zeline yang masih tertidur nyenyak itu. Wajahnya memperhatikan wajah ayu yang tengah tidur di sampingnya itu. Bibirnya tersenyum. Gadis ini, mampu mengubah hidupnya. Gadis ini benar-benar membuatnya melupakan semua masalahnya kini dan gadis ini pula yang membuatnya kehilangan keperjakaannya. Kembali, Liandra ikut tidur bersama Zeline, tangan dan tubuhnya tak ingin lepas dari zeline. Liandra, mengecup kening Zeline. Hanya mengecup kening Zeline, mampu membuat sesuatu dalam dirinya bergejolak. "Sial, hanya mengecup keningnya tapi kenapa dia sudah b

