"Sayang?" Binar menatap suaminya dalam-dalam karena ekspresi wajah Ben begitu kaku dan tegang. "Ini obatnya!" serah Binar yang sadar bahwa suhu tubuh Ben lebih tinggi daripada biasanya. "Apa ini?" "Ayo diminum!" pinta Binar sambil mengambil posisi duduk yang begitu dekat dengan suaminya. "Jangan lagi menatapku seperti itu!" "Aku tidak butuh obat ini," tolak Ben sambil mendorong pil penurun suhu panas tubuh tersebut. "Hmmm ... ." Binar menghela napas panjang dan mulai menyiapkan rayuannya. Namun, Ben mengatakan sesuatu yang membuat wanita bermata safir itu kembali tersenyum. "Aku mau kamu, Sayang. Kamu adalah obat yang tepat," bisik Ben yang sudah mendekati bibirnya dengan telinga Binar. Sontak, aksi itu membuat Binar memukul sayang paha kanan Ben hingga menimbulkan suara keluhan manj

