Ben melesat cepat ke arah kediamannya. Ia seperti bocah kecil yang membutuhkan dekapan ibunya. Rasanya, hati Ben begitu penuh dengan rasa. Ada bahagia, haru, sedih, dan juga hasrat. "Binar!" panggil Ben bersama langkah cepat, sesaat setelah tiba di kediamannya. "Ya?" jawab Binar seraya menggendong Ray. "Ada apa, Sayang?" Wanita bermata safir itu tampak kaget dengan cara Ben memanggil namanya. Ben mengatur napas yang tersengal-sengal. Lalu ia langsung mendekap dua orang kesayangannya tersebut, dengan penuh cinta. Ben memeluk erat cukup lama, hingga Ray merasakan keringat mulai timbul di dahinya. "Papa ... ." Panggilan Ray menyadarkan Ben bahwa dirinya sudah cukup lama mendekap dan membuat putranya kepanasan. Berbeda dengan Binar yang tetap saja tersenyum, meskipun sulit untuk bernapas.

