Pengakuan

1501 Kata

Dinginnya malam menyapa dalam diam, hingga helaian rambut panjang itu diterbangkan oleh angin dan menyentuh lembut kedua pipi Binar, seakan memintanya untuk bangun dan menghadapi dunia. Sinar samar-samar dari lampu pojok kamar, berhasil menerangi kulit yang ditutupi gulita sejak tadi. Ia masih terlentang di atas kasur empuk bersama bercak darah miliknya yang berwarna merah segar. "Sttt ... aaah," keluhnya sambil berusaha untuk memahami keadaan. "Apa?" Binar mendapati tubuhnya tak ditutupi benang, sehelai pun. Napasnya terasa sesak, matanya berkaca-kaca. Tetapi bukan karena kesuciannya yang telah direnggut. Melainkan kekhawatirannya terhadap keselamatan kedua orangtuanya. "Tidak! Aku harus menjelaskan semua ini sebelum terlambat! Apa pun yang terjadi, aku harus memenangkan permainan kal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN