Hanya satu minggu Aya merasakan bagaimana rasanya memiliki Divo sebagai suami yang selalu ada didekatnya. Minggu selanjutnya, tepatnya pagi ini, Aya harus rela ditinggal Divo untuk kembali sibuk dengan pekerjaan pria itu sebagai pilot. Pagi ini Aya masih mengerjakan kerjanya sebagai istri, dimulai dengan bagun pagi, kemudian menyiapkan sarapan untuk dia dan Divo. Hal yang berbeda hanyalah ketika Aya menyusun pakaian untuk persiapan Divo selama bekerja. Divo menyusun semua pakaiannya itu di sebuah koper kecil yang selalu dibawanya bekerja. Aya juga menyiapkan seragam kerja yang akan digunakan oleh Divo untuk penerbangannya hari ini.
Saat Aya tengah sibuk mempersiapkan makanan untuk sarapan Divo, Divo sudah muncul lengkap dengan seragamnya. Kesan tenang, tampan dan mempesona langsung bisa orang tangkap ketika melihat Divo yang begini. Bahkan Aya yang telah menjadi istri Divo saja kembali terpesona dengan Divo. Menurut Aya, dia bisa jatuh cinta lagi dan lagi pada sosok Divo kalau dia semakin mengenalnya nanti.
"Pagi," sapa Divo sambil tersenyum pada Aya yang sedang terbengong.
"Eh...eoh pagi," sapa Aya balik dengan gugup karena ketahuan terbengong dengan wajah mupeng miliknya.
Setelah memastikan dia tidak akan terbengong bodoh lagi karena terpesona, Aya baru berjalan menuju arah Divo lalu menyerahkan nasi goreng buatannya buat Divo. Divo menyambutnya, lalu menunggu Aya untuk duduk agar mereka bisa memulai sarapan mereka bersama.
"Mas, kalau Aya ikut nganterin mas kerja pagi ini boleh nggak mas?" tanya Aya serius pada Divo.
Divo tampak berpikir lalu mengangguk setuju. “Boleh.”
Aya tersenyum dengan senang. Ah, sejak semalam dia berpikir untuk melakukan ini. Aya sempat berpikir kalau Divo akan menolak maunya tadi. Tapi Divo tidak memerlukan waktu yang lama untuk menyetujuinya maunya. Dengan cepat Aya menyelesaikan sarapannya.
"Kamu cepat siap-siap, mas tunggu di depan ya," ujar Divo.
Aya segera mengangguk, pertama dia mengantar piring dan gelas kotor mereka dulu kedapur, setelahnya dia bersiap-siap. Urusan mencuci piring dan bersih-bersih bisa dia lakukan nanti setelah mengantar Divo, pikirnya.
Setelah mengganti pakaiannya dan menggunakan makeup tipis, Aya langsung turun. Tidak lupa dia mengambil tas kecil miliknya yang dia isi dompet dan handphone sebagai jaga-jaga.
"Udah mas, ayo!" seru Aya sambil memasuki mobil dan duduk di sebelah Divo yang akan mengemudikannya.
Divo mengangguk, lalu mulai menjalankan mobil milik Aya. Dengan begitu Aya bisa membawa pulang mobilnya nanti. Tidak banyak pembicaraan yang terjadi diantara keduanya karena Divo sama seperti biasanya yang lebih memilih untuk menjadi pihak yang lebih banyak mendengarkan. Biasanya Aya akan membicarakan banyak hal tentang keseharian dia. Sedangkan untuk hari ini Aya sibuk memberikan pesan soal Divo yang harus ingat untu makan, banyak istirahat, selalu berhati-hati dan selalu berdoa sebelum memulai penerbangannnya.
Sesampainya mereka di bandara, Divo membawa Aya ke hanggar penerbangannya. Divo memperkenalkan Aya pada crew penerbangannya serta teman sepekerjaannya yang lain yang memang kebetulan berada disana. Dari situ Aya bisa melihat Divo adalah sosok yang cukup disegani dan dihormati oleh rekan-rekan sepekerjanya yang lain. Sepertinya pribadi Divo memang tidak pernah neko-neko dan banyak bicara terlihat dari bagaimana cara dia berinteraksi dengan rekan-rekannya yang lain. Meski sikap Divo begitu, bukan berarti Divo tidak dekat dengan rekan-rekannya yang lain, karena pada kenyataannya rekan-rekan Divo menyambut Divo dan Aya dengan hangat.
"Pagi captain Divo," sapa seorang wanita yang baru saja muncul di hanggar.
Divo menoleh lalu tersenyum kecil. "Pagi Mel," balas Divo.
"Kenalin Mel, ini Aya. Istri saya."
Divo memperkenalkan Aya pada wanita yang Aya pastikan adalah salah satu pramugari dari perusahaan penerbangan Divo. Pakaian gadis itu sama dengan pakaian gadis-gadis lainnya yang tadi sempat Divo kenalkan kepadanya sebagai pramugari dipenerbangannya hari ini. Aya menampilkan senyumnya, lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengn gadis yang tadi ditunjuk Divo. Gadis itu menyambut uluran tangan Aya, dia juga tersenyum kecil. Namun senyum itu terlihat janggal dimata Aya.
"Melati," ucap wanita itu datar dengan wajah yang masih tersenyum.
"Cahaya," balas Aya.
Kening Aya sedikit berkerut dan alis yang sedikit mengernyit tidak jelas. Namun Aya segera menyamarkannya karena tidak mau Divo menanyainya nanti. Dengan cepat Aya kembali menyunggingkan senyum miliknya untuk menyembunyikan perasaan aneh yang mendatanginya.
"Em captain, saya masuk dulu untuk bersiap-siap," pamit Melati. Melati menganggukkan kecil kepalanya kepada Divo dan Aya, sebagai bentuk pamitnya. Aya balas mengangguk kecil sambil tersenyum, sedangkan Divo hanya membalasnya dengan anggukan untuk mempersilahkan dia pergi.
"Aku harus bersiap-siap, sebentar lagi aku harus memasuki pesawat. Kamu mau pulang sekarang?" tanya Divo dengan menatap langsung pada mata Aya.
Aya menggeleng lalu berkata, "Tidak, aku akan menunggu sampai pesawat mas terbang, aku mau menyaksikan suami aku membawa pesawat untuk pertama kalinya setelah menikah."
Divo terkekeh lalu mengangguk, Divo lalu menarik tangan Aya menuju gate tempat penumpang biasanya duduk untuk menunggu penerbangan. Tapi dari tempat itu penumpang bisa langsung melihat dan berhadapan dengan pesawat yang akan terbang nantinya. Divo membawa Aya ketempat itu. Divo mengabaikan bisik-bisik dan tatapan dari penumpang lain yang ditujukan pada dia dan Aya.
"Kamu lihat dari sini,” kata Divo.
Aya mengangguk mengerti. Lalu Divo melanjutkan perkataannya, “Nanti aku akan menghubungi mu," kata Divo.
Sebelum Divo meninggalkan Aya, Divo memberikan kecupan di kening dan bibir Aya sebentar, lalu dia memberikan Aya pelukan kecil.
"Dua minggu lagi aku akan pulang, jadi tunggu aku ya," pamit Divo masih dengan memeluk Aya.
Aya mengangguk sambil membalas pelukan Divo sebentar. Setelah Divo dan Aya melepaskan pelukan mereka, barulah Divo menjauh untuk kembali kehanggarnya dan bersiap-siap untuk terbang.
***
Aya sudah bersiap untuk tidur, hari ini cukup melelahkan buatnya. Selain lelah badan, Aya juga lelah hati dan pikiran. Percaya atau tidak Aya sudah merasakan kesepian dan rindu karena ditinggalkan oleh Divo. Kadang Aya bertanya-tanya pada dirinya sendiri sudah seberapa besar sebenarnya perasaan dia pada Divo? Bayangkan saja, baru tadi pagi Aya mengantarkan pria itu, tapi dia sudah merindukannya seharian ini? Entahlah itu masuk ukuran normal atau tidak, dia benar-benar seperti orang terkena syndrome ‘love sick’.
Aya dan Divo memang baru menikah selama satu minggu, tapi sikap dan perhatian pria itu mampu membuat Aya begitu merasakan kehilangan Divo seperti ini. Saat Aya hendak memasuki selimutnya untuk mulai tidur, handphone miliknya berbunyi. Layanan videocall LIN* miliknya menginterupsi pergerakannya, dilihatnya nama Divo tertera disana, dengan cepat Aya menggeser icon terima di layar handphone miliknya itu."Hai," sapa Aya dengan semangat, rasa lelah yang tadi dia rasakan langsung menghilang begitu saja dari tubuh, pikiran dan hatinya.
"Hai," balas Divo sambil tersenyum.
"Bagaimana hari mu?" tanya Divo dari layar handphonennya.
"Baik, hanya saja aku mulai merasakan kesepian ditinggalkan kamu mas," ucap Aya jujur.
Divo semakin melebarkan senyumnya. Melihat senyum Divo, membuat Aya juga ikut tersenyum. Walau begitu Aya masih bisa melihat raut lelah di wajah Divo.
"Apa mas lelah?" tanya Aya.
Aya sudah tau jawabannya, tapi Aya tetap menanyakannya karena dia mau Divo mengatakannya langsung pada Aya.
"Ya cukup lelah," jawab Divo namun tetap berusaha memunculkan senyum kecil khas miliknya.
"Kenapa menghubungi aku kalau kamu lelah mas? sebaiknya mas istirahat saja," kata Aya pelan.
Jujur dia sedikit tidak ikhlas kalau harus memutuskan pembicaraan ini sekarang. Dia rindu Divo, dia juga mau melihat wajah Divo lebih lama lagi, namun wajah lelah pria itu membuatnya kasihan.
"Tidak papa, bukankah kita sudah janji dan sepakat untuk selalu berbicara sebelum tidur untuk membangun komunikasi diantara kita, jadi aku akan menemanimu sampai tidur."
Hanya itu jawaban Divo, hingga membuat bibir Aya mengkerucut tidak suka. Padahal dia berharap Divo mengatakan ‘Aku merindukan mu, makanya aku menghubungi mu.’
‘Itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu Aya!’ ejek Aya pada dirinya.
"Jadi ceritakan tentang hari mu," kata Divo tidak menyadari wajah kecut Aya.
Divo hanya mau segera memulai obrolan malamnya bersama Aya.