CHAPTER 10

1068 Kata
Aya memainkan kakinya sambil dengan serius membaca handphone miliknya. Setelah mendapat kabar kalau hari ini adalah jadwal kepulangan Divo, Aya segera meminta ijin agar dia datang untuk menjemput Divo kebandara. Aya tetap ngotot untuk menjemput Divo meskipun pria itu menolak untuk djemput. Namun rasa rindu Aya yang telah ditinggal selama 2 minggu lebih, membuat Aya nekat untuk menjemput Divo. “Aya,” panggil seseorang yang sudah berdiri di hadapan Aya. Aya mangangkat kepalanya dan langsung bertemu dengan wajah lelah Divo. Aya tersenyum lebar, lalu dengan cepat Aya melompat kearah Divo dan memeluknya. Seolah sudah tau apa yang akan Aya lakukan Divo segera menangkap Aya dan membalas pelukan Aya. “Aku pulang,” kata Divo pelan yang di balas Aya dengan pelukan yang semakin erat sambil berucap “selamat datang.” Keduanya tidak menyadari ada beberapa tatapan mata yang melihat iri kepada mereka. Tapi dari sekian jenis tatapan mata yang sedang mengarah kepada mereka, ada satu tatapan yang seharusnya tidak layak untuk dimiliki orang itu. Tatapan itu mengawasi setiap detail gerakan mereka Aya dan Divo. Semakin orang itu memperhatikan Aya dan Divo semakin besar juga rasa tidak suka dan cemburu dari orang itu. “Captain Divo, kami masuk duluan,” seorang crew Divo ijin untuk memasuki hanggar duluan. Divo mengangguk lalu sedikit melonggarkan pelukannya pada Aya. “Aku masuk dulu, kamu tunggu sebentar disini ya,” kata Divo sambil menepuk puncak kepala Aya pelan sebelum memasuki hanggar. Ketika Divo berjalan, Aya masih dapat melihat Melati mengikuti Divo dibelakangnya. Tidak ada sapaan dari gadis itu, namun gadis itu hanya menatap Aya dengan tatapan datarnya serta anggukan kecilnya sebelum memasuki hanggar bersama Divo. Aya mengernyitkan alis dan keningnya seolah tidak mengerti dengan sikap gadis itu sejak pertamakalinya mereka bertemu. Menurut Aya gadis itu sedikit aneh. Walau begitu Aya memilih untuk mengabaikan perasaannya tidak enaknya akan gadis itu. Aya memilih untuk memikirkan apa yang akan dilakukannya bersama Divo nantinya setelah mereka pulang. Jam masih menunjukkan pukul 1 siang, ingin rasanya Aya mengajak Divo untuk berjalan-jalan dulu. Namun, setelah mengingat wajah lelah suaminya tadi membuat Aya akhirnya mengurungkan niat Aya meminta hal itu pada Divo. Aya memilih untuk melepas rindunya pada Divo di rumah saja Saat Aya sibuk dengan pikirannya, Divo sudah terlebih dahulu membuyarkan pemikirannya. “Ayo kita pulang!” ajak Divo. Aya segera menyambut uluran tangan Divo, keduanya lalu berjalan menuju parkiran tempat Aya memarkirkan mobilnya. Divo menggenggam tangan kanan Aya, sedangkan tangan kiri Divo menarik koper kecil miliknya. Saat keduanya hendak memasuki mobil Aya, Melati tiba-tiba muncul didekat mereka. “Captain Divo,” panggil gadis itu dengan nada ragu-ragu. Divo memutar tubuhnya lalu mendapati Melati di belakang mereka. “Ya, ada yang bisa saya bantu?” tanya Divo. Aya yang disebelah Divo melepaskan genggaman tangan Divo lalu beralih memeluk lengan Divo. Insting Aya seolah menyuruh Aya untuk melindungi apa yang dia miliki. Tingkah Aya ini layaknya wanita yang bersiap betempur, kapan seorang wanita lain datang untuk menggoda suaminya. “Bolehkah saya menumpang bersama anda? Saya terburu-buru tetapi supir saya belum menjemput,” ujar Melati terlihat gelisah. Kalau boleh jujur, Aya tidak nyaman dengan keberadaan Melati, meski dia tidak tau kenapa dia harus merasa tidak nyaman. Ingin rasanya Aya meminta Divo untuk menolak permintaan Melati itu. Tapi, akan sangat egois jika Aya meminta Divo untuk menolak permintaan Melati. Selain itu ada diakan ada bersama Divo sekarang, jadi dia tidak perlu takut. Lagi pula orang-orang tidak perlu berpikir yang aneh-aneh jika Divo setuju untuk membawa Melati pulang bersama mereka, dia ada disini. Seperti biasanya, Divo bukanlah seperti kebanyakan pria yang Aya kenal. Jadi untuk mempersilahkan Melati ikut dengan mereka saja, Divo menyerahkan keputusannya pada Aya. “Sebaiknya kamu tanyakan saja pada istri saya, karena pasti akan tidak nyaman bagi istri saya jika saya dengan mudahnya mengijinkan wanita lain ikut bersama saya,” jelas Divo dengan nada seperti dia yang biasanya. Melati tidak mengatakan apapun, tapi raut wajahnya kembali berubah tidak terbaca. Merasa tidak enak Aya segera mengijinkan Melati untuk ikut bersama mereka meski gadis itu belum menanya dia. “Tentu saja boleh, ayo!” ajak Aya. Suasana begitu hening dalam perjalanan pulang mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk memulai membuka pembicaraan diantara mereka. Hanya sekali Divo berbicara pada Aya dan Melati, itupun hanya untuk sekedar menawarkan mereka makan siang bersama, tetapi Aya segera menolak karena tidak mau lebih lama lagi bersama Melati. Melati ikut menolak ajakan Divo tersebut dan memilih untuk langsung pulang. “Mas, Aya boleh nanya nggak?” tanya Aya saat keduanya tengah menikmati makan siang mereka. Setelah mereka sampai dirumah mereka, Divo menghentikan suapannya lalu menatap Aya sebagai bentuk ijinnya untuk Aya melanjutkan pertanyaannya. “Melati itu siapa mas?” tanya Aya. Divo bingung, kening dan alisnya mengkerut seolah tidak mengerti pertanyaan Aya. “Maksudnya?” tanya Divo. “Maksud aku, siapa Melati itu?” kata Aya kesulitan menjelaskan maksudnya. Divo kembali berpikir mencoba mencerna apa maksud Aya. “Dia pramugari di perusahaan tempat mas bekerja, dia juga adalah cucu salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan penerbangan tempat mas bekerja. Kebanyakan penerbangannya mas ada bersama dia,” jawab Divo jujur yang hanya diangguki oleh Aya. “Terus selain urusan pekerjaan, mas punya hubungan pribadi nggak sama dia?” tanya Aya. Lagi-lagi Divo mengernyit bingung, Divo tampak mencerna kemana arah pertanyaan Aya ini sebenarnya. Setelah sedikit memahami maksud Aya, Divo menghela napasnya sebelum kembali menjawab pertanyaan Aya. “Tidak, tidak pernah ada hubungan pribadi diantara kami. Hanya saja dia pernah menyatakan perasaannya pada mas. Satu hari sesudah mas setuju untuk dijodohkan dengan kamu,” jawab Divo. “Aku pikir selain itu kami tidak punya hubungan lain lagi.” Divo dengan yakin mengatakan itu hal itu pada Aya, karena Aya tadi masih melihat dia dengan tatapan menyelidik, seolah menanti penjelasan yang lebih panjang. Tetapi, setelah Divo mengatakan hal itu Aya tempak lebih santai dan lega. Aya sendiri langsung mesam-mesem sendiri. Perasaan Aya campur aduk, Aya tidak tau harus mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Perasaannya bisa campur aduk entah karena apa. Perasaan Aya itu, antara lega, senang, takut dan cemas. Aya benar-benar merasa lega karena Divo tidak pernah memiliki hubungan pribadi dengan Melati. Senang karena Divo bisa jujur dan terbuka dengannya. Aya takut karena merasa Melati sebagai saingannya. Menurut Aya akut saingannya itu begitu cantik, elegan dan banyak menghabiskan waktu bersama Divo. Itulah yang membuat Aya cemas, cemas memikirkan Divo yang mungkin akan berpaling pada gadis itu nanti. ‘Ah, apa yang harus aku lakukan?’ pikir Aya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN