Divo menggenggam tangan Aya erat ketika memasuki pintu salah satu mall terbesar di Jakarta. Setelah tadi malam sepakat untuk menghabiskan weekend ini dengan berkencan ala anak muda biasanya, maka siang ini disinilah mereka sekarang untuk memulai kencan itu. Dimulai dengan belanja, lalu kesalon, makan, lalu ditutup dengan menonton nantinya.
Aya menarik tangan Divo kesebuah toko yang menjual tas dengan merk terkenal. Seperti wanita kebanyakan yang memang sangat menyukai shopping. Aya langsung melepaskan tangannya dari genggaman tangan Divo dan segera pergi menjelajah untuk memilih tas yang diinginkannya. Aya sibuk dengan dunia belanjanya, sendiri, sedangkan Divo mengikutinya dengan sabar dan setia dibelakang Aya. Sesekali Divo juga memberikan pendapat seperlunya jika Aya menanyakan tentang pendapatnya.
“Menurut kamu lebih bagus mana, warna merah atau warna hitam?” tanya Aya sambil menunjukkan dua tas berbentuk sama dengan warna berbeda.
“Warna merah,” jawab Divo.
Aya mengangguk, lalu meletakkan tas berwarna hitam kembali kerak dan membawa tas berwarna merah bersamanya.
“Gunakan ini,” Divo menyerahkan sebuah kartu ATM ketangan Aya.
Tentunya Aya segera menerimanya, Aya sudah sedikit mengenal Divo sekarang. Divo adalah tipe pria yang sangat menjungjung harga dirinya sebagai pria. Itulah kenapa Divo memegang prinsip untuk bertingkah laku sebagai pria sejati. Membayarkan seluruh kebutuhan istrinya adalah salah satu bentuk sikap pria sejati menurut Divo.
Satu hal yang membuat Aya salut dengan Divo dan pemikirannya soal pria sejati ini. Divo melakukan semua itu bukan hanya untuk citra Divo sendiri, tetapi juga karena kesadarannya memiliki Diva. Divo percaya kalau dia memperlakukan wanita baik-baik, maka Diva juga akan diperlakukan baik-baik oleh pria. Makanya Aya tidak mau menolak pemberian Divo karena selain takut melukai harga diri laki-laki itu, Aya juga ingin merasakan dibayari oleh suami sendiri.
Aya kemudian menarik Divo menuju sebuah toko pakaian khusus untuk laki-laki. Disana dia membelikan Divo beberapa baju dan celana. Tidak berhenti disitu Aya memuaskan hasrat belanjanya, Aya membawa Divo keluar masuk dari satu toko ketoko lain hanya untuk berburu barang yang dia mau, meskipun Aya lebih banya keluar dari toko itu dengan tangan kosong.
Divo sendiri dengan sabar mengikuti kemanapun Aya membawanya. Divo juga membawakan sebagian belanjaan milik Aya. Sebagiannya lagi dipegang oleh Aya. Setelah puas menghabiskan waktu mereka dengan shopping, mereka lalu pergi menuju salon langganan Aya. Aya sengaja memilih sebuah salon keluarga yang menyediakan pijat dan perawatan sekalian. Salon ini sering dia kunjungi bersama mama papanya kalau mereka sedang ingin kesalon bersama. Tidak seperti pria kebanyakan yang biasanya anti dan gengsi untuk masuk kesalon, Divo tampak biasa saja memasuki salon dan ikut menerima perawatan di salon yang dipilih Aya itu.
Setelah dari salon, barulah keduanya makan malam dulu sebelum akhirnya menuju bioskop. Saat keduanya berjalan hendak mengantri ticket nonton, tiba-tiba saja seseorang hampir terjatuh di depan Divo yang membuat Divo juga hampir ikut terjatuh. Beruntung Divo cepat tanggap dengan segera mengembalikan balance-nya dan segera menahan orang itu juga agar tidak terjatuh.
“Melati?” kata Divo saat sadar siapa yang menubruknya itu.
Aya yang memeluk lengan Divo tadi ikut melihat gadis yang menabrak Divo itu.
“Eh… eum, captain Divo,” kata Melati terlihat terkejut.
“Kamu sendiri?” tanya Divo melihat kesekitaran Melati.
Melati hanya menampilkan senyum tipis, dia tidak menjawab perkataan Divo. Melati memilih menatap Aya dengan tatapan yang selalu Melati berikan kepadanya. Tatapan itu tidak Aya mengerti apa maksudnya.
“Saya bersama kakek saya captain,” jawab Melati akhirnya setelah mengalihkan tatapannya dari Aya.
Raut wajah dan tatapan Melati segera berubah ketika tatapan Melati tidak lagi tertuju pada Aya. Wajah Melati tampak sangat berbeda ketika melihat Divo, itulah yang Aya lihat sekarang. Aya mengkerutkan alis dan keningnya, tidak ada yang aneh sebenarnya pada tingkah laku Melati ini. Hanya saja, Aya dapat merasa tidak nyaman dan merasakan keanehan dari raut dan tatapan gadis itu. Bukan karena raut tidak suka atau jahat dari Melati karena sesungguhnya Melati tidak pernah menunjukkan hal itu. Namun sikap dan tatapan tidak terbaca dari Melati itulah yang membuat Aya malah merasa harus was was.
“Oh, Divo. Lama tidak bertemu, bagaimana kabar mu?” tanya seorang pria yang menggunakan tongkat meski tubuhnya masih terlihat sedikit tegap.
“Hai tuan Adrian, lama tak bertemu.” Divo menyambut uluran tangan pria tua yang Aya tebak sudah berumur hampir 60 tahun.
“Sepertinya kamu dan Melati berjodoh hingga kalian bertemu disini,” canda pria tua itu lalu tertawa lepas sepertinya kesenangan.
Aya merasa tidak suka dan tidak nyaman dengan dengan perkataan pria itu. Lagi-lagi Aya tidak sengaja menangkap tatapan dan raut wajah aneh dari Melati ketika menatapnya. Melati kembali menatap Aya setelah kakeknya mengatakan itu pada Divo. Saat Aya sibuk menebak-nebak apa sebenarnya makna dari tatapan Melati itu, dia merasakan tangan Divo berpindah kepinggangnya dan menariknya hingga mendekat kepadanya.
“Kenalkan tuan Adrian, ini Cahaya. Istri saya.” Divo mengenalkan Aya pada pria tua bernama Adrian itu.
Tidak ada perubahan pada raut wajah pria itu, tidak ada raut terkejud dan rasa bersalah diwajahnya. Wajah pria tua itu masih tersenyum, raut wajahnyapun masih terlihat bahagia. Namun tidak dengan tatapan mata pria itu, entah kenapa tatapan mata itu malah membuat Aya ketakutan.
“Karena kita bertemu disini, bagaimana kalau kita menonton bersama. Sedari tadi Melati ingin sekali merasakan menonton di tempat umum,” kata Adrian dengan nada tenangnya.
Namun Melati segera menggengam lengan kakeknya seolah menahan kakeknya. Divo dan Aya terdiam, kalau boleh jujur Aya ingin menolaknya. Mood-nya untuk menonton hilang seketika. Rasa tidak nyaman dan takut tiba-tiba menghinggapinya. Aya memilih untuk pulang sekarang saking tidak nyamannya dia akan kehadiran Melati dan kakeknya. Aya mencengkram kuat lengan Divo tanpa disadarinya untuk menghilangkan perasaan tidak nyamannya.
“Captain Leon tidak perlu ikut dengan kami kalau captain memang mau pergi berdua saja.” Melati tampak salah tingkah mengatakannya karena kini Divo menatapnya secara keseluruhan.
“Saya memang mau mengatakan itu, hari ini adalah hari kencan saya dengan istri saya. Jadi saya ingin menghabiskan seharian ini hanya berdua dengan istri saya,” kata Divo datar lalu menampilkan senyum tipisnya.
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Divo sambil membungkukkan kecil tubuhnya, lalu Divo menarik Aya sambil berkata “ayo sayang.”