CHAPTER 12

1288 Kata
Hanya beberapa hari Aya dan Divo bisa bersama, hari selanjutnya Divo sudah kembali sibuk dengan aktivitasnya sebagai pilot. Seperti sebelum-sebelumnya, Aya mengantarkan Divo kebandara lagi hari ini, sepulang dari sana, Aya kembali sibuk dengan toko miliknya. Aya sebenarnya sangat kesepian dan bosan kalau Divo sudah kembali sibuk dengan penerbangannya, tapi mana bisa dia protes. Jangan-jangan, kalau Aya protes Divo akan melemparnya dari hidup Divo. Dari apa yang Aya dengar, Divo itu sangat mencintai pekerjaannya itu. Aya pernah dengar cerita Diva dan Anila bagaimana pengorbanan Divo agar bisa menjadi pilot di usianya yang masih muda. Divo rela mengurangi jam mainnya, pergaulannya dan banyak lagi demi mimpinya itu. Menikmati rasa rindu dan kesepiannya adalah 2 hal yang bisa dilakukannya saat ini. Dia bisa apa selain melakukan hal itu, dia tidak mungkin mencari orang buat ngusir kesepiannya. Lagipula soal rindu, dia mesti belajar menikmatinya dari sekarang. Pernah sekali Aya berpikir untuk meminta seorang anak pada Divo, tapi bagaimana ceritanya dia bisa punya anak kalau Divo saja belum pernah menyentuhnya. Dan kalau boleh Aya jujur, semua sentuhan fisik yang diberikan Divo padanya hanya sebuah formalitas yang bahkan masih dibatasi oleh pria itu. Kalau Aya bisa menggambarkannya bagaimana Divo memperlakukannya sampai sekarang, itutuh seperti Divo masih melihatnya seperti bukan istrinya, jadilah sekarang Aya menjadi fakir sentuhan. sedih memang nasibnya Aya. Tapi Aya tidak bisa complaint karena Divo selalu berkata kalau dia pasti akan melakukannya ketika cinta itu sudah ada diantara mereka. Jelas Aya mau patuh, diming-imingi cinta sama Divo. Aya sebenarnya dilemma antara mana yang paling membahagiakan antara diperlakukan dengan sangat terhormat oleh lelakinya meski harus berkorban sabar. Atau diperlakukan seperti wanita lainnya yang bisa ditiduri tanpa ada cinta, yang juga tentunya akan membuat dia makan hati. Aya menghela napasnya sampai tidak menyadari ada dua orang wanita yang kini tengah menatapnya dengan kening dan alis mengernyit. “Apa kamu mempunyai masalah dengan Divo?” tanya salah satu dari wanita itu yang langsung mengagetkan Aya. “Oh, mbak Diva, mbak Anila. Kalian disini? Sudah lama?” tanya Aya gugup. “Cukup lama untuk tau kalau kamu hampir menghela napas setiap menitnya.” Seperti biasa bibir Diva tidak bisa direm kalau sudah begini. “Mau jalan bersama kami?” tanya Anila menengahi. Aya tersenyum lalu mengangguk. Lebih baik berjalan-jalan dengan kedua kakak iparnya ini daripada mati bosan karena merasakan kesal akibat menahan sepi dan rindu pada Divo kan? Dengan cepat Aya berlari menuju ruangannya lalu mengambil tas dan handphone miliknya, jaga-jaga manatau Divo menelpon dia. Aya lalu pamit pada pegawainya sebelum benar-benar pergi meninggalkan toko bersama Anila dan Diva. Layaknya wanita kebanyakan, ketika mereka berkumpul, maka ketiganya memilih untuk shopping sambil bergosip ria tentang kehidupan mereka. “Aku dengar Deva mempercepat masa pelatihan dan tugasnya di US ya Mbak La?” tanya Aya sembari memilih-milih sepatu yang akan dibelinya. “Iya, aku tidak mau kalau harus tinggal disana.” jawab Anila yang tengah mencoba-coba sepatu yang dipilihnya. “Bukannya sulit ya mbak buat pengantin baru untuk berpisah?” tanya Aya seolah lupa dengan keadaannya. “Kamu ngomong gitu, kamu nggak ingat kalau kamu juga LDR-an ama Divo?” tanya Diva seolah mengejek Aya yang disambut kerucutan bibir dari Aya. “Aku beda ama mbak Anila, setidaknyakan mbak Anila sedang hamil. Artinya mbak Anila sama mas Deva hubungannya lagi hot-hotnya. Kalau aku, boro-boro hot, anget-anget kukuh aja enggak,” kata Aya dengan nada merajuk. Meski begitu, Diva dan Anila masih bisa mendengarkan sungut-sungutan dari Aya itu. Sungutan Aya itu otomatis membuat Diva terbahak karenanya. “Kenapa?, Divo masih terlalu kaku ya?” tanya Diva setelah tawanya mereda. Itupun dia berhenti tertawa karena wajah Aya yang semakin cemberut masam karena tawanya yang kuat. Aya tidak menjawab pertanyaanya, tapi Diva sudah bisa membayangkan itu semua. Bukannya apa-apa, dia cukup mengenal dua kembarannya itu jadi Diva akan dengan mudah menebak keluhan para pasangan kedua kembarannya itu. “Kamu jangan bedain ke-hot-an rumah tangga kamu sama kehotan orang Anila dan Deva. Mereka itu belum nikah juga udah hot-hotan,” sindir Diva yang disambut wajah masam oleh Anila. “Lo ya Va, lo ama mulut ember lo.” Anila menarik sedikit rambut Diva kencang. “Auhhh…” Diva meringis kesakitan lalu memasang cengiran lebarnya. “Intinya Ya, kamu jangan berharap Divo itu akan seperti Deva. Hal itu imposible, suami kamu itu kolot. Kamu ingat itukan?” kata Diva serius. Aya menghela napasnya berat, dia merutuki dirinya yang selalu lupa akan fakta ini. Ingin rasanya dia bercerita tentang dilemanya pada Diva dan Anila. Meskipun Aya baru mengenal kedua kakak iparnya itu, tapi entah kenapa Aya bisa merasa sudah sangat akrab dengan Diva dan Anila. Mungkin karena keduanya adalah pribadi yang ramah, baik dan tipe orang yang open minded. Meski Aya berniat bercerita pada Diva dan Anila tentang dilemmanya, tapi dia kembali ragu. Bukankah aneh kalau Aya menceritakan tentang Divo pada Diva yang notabenenya kembaran Divo. Untuk Anila, Anila adalah ipar Divo, akan sangat aneh kalau dia menceritakan hal begini pada Divo, pikir Aya. Tapi kalau dia tidak cerita kepada salah satu dari mereka, lalu kesiapa lagi Aya harus curhat?, hanya Anila dan Diva teman dekatnya saat ini. Intensnya pertemuan dan komunikasi ketiganya sejak mereka jadi keluarga menjadi penyebab mereka dekat seperti sekarang. Sepertinya tidak akan terlalu buruk kalau bercerita dengan kedua iparnya ini, pikir Aya. “Aku mau cerita mbak, tapi kita sambil makan. Kasihan bayi mbak Anila kalau kita nanti keasikan ngomong” kata Aya akhirnya setuju untuk cerita. Barulah ketiganya kemudian berjalan menuju sebuah restoran yang menyediakan ruangan privat. Aya sengaja menyewa ruang itu agar mereka bisa berbicara lebih leluasa tapi tetap lebih privat. “Jadi?” tanya Diva setelah semua pesanan mereka diantar. “Aku dan Divo belum melakukan hubungan suami istri mbak sama mas Divo. Entahlah, satu sisi aku senang karena mas Divo menghormati aku dengan menjanjikan akan melakukannya kalau dia sudah mencintai aku. Hanya saja sampai sekarang aku tidak merasa sempurna dalam pernikahan kami mbak karena semua ini,” curhat Aya. Anila tersenyum kecil sedangkan Diva menghela napasnya pelan. “Kamu tau Ya, Divo mungkinlah orang terkolot dan terkaku yang akan pernah kamu kenal sepanjang hidup kamu, tapi kalau kamu tau apa maksud dari dia bersikap kolot dan kaku seperti itu, maka saat itu juga kamu akan jatuh sedalam-dalamnya untuk dia.” Diva menjelaskan dengan nada memuji sang kembaran, lalu Diva diam sejenak sebelum melanjutkan ucapannya. “Deva dan Divo mungkin terlihat sangat bertolak belakang dalam meperlakukan wanita, jika Deva bisa dengan mudahnya bergonta-ganti wanita layaknya sempak,” ujar Diva sedikit bercanda. “Maka Divo akan sulit menyukai seorang wanita. Dia itu menyukai sesuatu itu seperti dia menyukai suatu barang, sekalinya Divo menyukai barang maka dia akan memilih untuk tetap menggunakan barang itu sepanjang waktu, hingga barang itu rusak karenanya. Bahkan kalau kamu menyadari, Divo akan menyimpan semua barang yang disukainya meski itu sudah rusak. Iyakan?” tanya Diva yang segera diangguki Aya. “Begitu jugalah Divo dalam memperlakukan perempuan, kamu pasti tau kalau Divo bahkan belum pernah berpacaran?” Tebak Diva lagi yang lagi-lagi diangguki oleh Aya. “Meski begitu kami tidak pernah khawatir kepadanya. Kami tidak pernah bertanya apakah dia mengalami penyimpangan orientasi s*x atau tidak, karena apa?, karena kami tau Divo tipe cowok yang berprinsip sama seperti Deva. Bedanya cara mereka berprinsip berbeda-beda.” “Bukannya aku mau membela Divo, hanya saja aku bisa menjamin Divo tidak akan menyakiti kamu dan aku juga yakin kalau dia serius belajar mencintai kamu,” ujar Diva mengakhiri perkataannya. “Tapi, bagaimana aku tau kalau dia mulai mencintai ku?” tanya Aya ragu. "Aku kasih tau kamu cara mengetahui perasaan Divo." Diva berkata dengan senyum licik yang menghiasi wajah cantiknya. Diva sepertinya telah merencanakan sesuatu, untuk membuktikan perasaan Divo pada Aya sudah berkembang. Itu semua dia lakukan karena Diva kasihan dengan kakak iparnya yang belum tersentuh itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN