Aya masih mengingat pesan pertama Diva mengenai bagaimana membuktikan perubahan perasaan Divo padanya. Diva berjanji untuk membantu Aya membuktikan perasaan Divo telah berkembang untuk Aya. Menurut Diva, sebelum Aya mencari tau soal cinta Divo, pertama-tama Aya harus melihat dulu seberapa peduli Divo kepada Aya.
Kepedulian itu menurut Diva, adalah dimana seorang pria akan lebih mengutamakan wanitanya dari apa yang biasanya yang sangat dia junjung tinggi. Untuk kasus Divo, Divo sangat mencintai pekerjaannya sebagai pilot. Sekarang dia telah menikah dengan Aya, jadi Diva ingin lihat apakah Divo akan mengutamakan pekerjaannya atau Aya. Dari situ Diva akan melihat apakah Divo sudah memiliki rasa pada Aya atau belum. Tapi Diva yakin kalau kembarnya itu pasti akan lulus test tentang kepeduliannya pada Aya. Untuk percobaan pertama, Diva meminta Aya untuk berbohong pada Divo.
Bohong?, hei Aya bukannya orang sempurna atau orang yang kelewat alim hingga membuat Aya tidak pernah bohong. Hanya saja, Aya bukanlah pembohong profesional. Apalagi pada Divo, bukan apa-apa, hanya saja Aya merasa Divo sudah mengenali dia dengan baik. Aya yakin kalau Divo bisa menebak apakah dia sedang berbohong atau tidak. Berbeda jauh dengan Aya yang merasa belum bisa mengerti dan memahami Divo. Beruntung Aya, Diva mau membantunya untuk melihat perasaan Divo padanya. Saat ini mereka bersiap untuk menelpon Divo yang sekarang sedang ada di luar negeri.
Setelah menghirup napas, lalu membuangnya. Kemudian Aya menenangkan jantungnya yang berdetak cepat. Barulah setelah itu Aya menenelpon Divo yang kini tengah berada di China.
"Halo," sapa Divo dari seberang.
Tidak ada jawaban dari Aya sejenak, sampai Divo harus mengulang kembali sapaannya. "Halo, Aya?" panggil Divo lagi.
"Hai mas Divo," sapa Aya dengan suara serak dan lirih layaknya orang yang sedang dalam keadaan sakit.
Semua tingkah Aya sekarang ini diatur oleh Diva. Diva yang mengambil posisi duduk dihadapan Aya. Diva mau tau, apakah kembarannya itu peka terhadap perubahan pada Aya atau tidak. Mengingat mereka baru menikah belum sampai setengah tahun. Kalau mau jujur, sebenarnya Diva yakin kalau Divo akan menyadari perubahan pada suara Aya.
"Kamu sakit?" tanya Divo langsung.
Senyum Diva langsung muncul, Diva yakin kalau Divo sudah melewati tahap peduli. Hei, menyadari perubahan orang disekitar kita bukanlah hal yang mudah. Setidaknya Diva yakin kepekaan terhadap orang sekitar kita berasal dari kepedulian kita, begitulah Divo selalu menasehati Diva. Dan sekarang Diva menggunakan nasehat Divo untuk pembuktian terhadap laki-laki itu.
"Iya, kemarin aku kehujanan." Dengan suara lirih Aya mengatakan hal itu.
Aya kemudian menggigit bibir bawahnya. Sumpah, Aya ketakutan Divo segera menangkap kebohongannya. Divo diam tidak mengatakan apapun, membuat Aya kecewa dengan tanggapan Divo yang begini.
Namun setelahnya Aya tidak tau harus bersikap seperti apa ketika Divo akhirnya berkata, "Kamu sebaiknya istirahat, aku akan menyuruh Diva kerumah kita segera. Kalau ternyata sakit kamu parah, aku akan menghubungi perusahaan untuk mencari tau apakah penerbangan aku bisa diganti pilot pengganti aku. Aku akan usahakan pulang secepat yang aku bisa."
Wajah Aya berubah kaku, perasaannya yang tadi sempat menghangat seketika berubah panik karena takut akan kebohongannya sendiri. Sedangkan Diva, Diva malah kesenangan karena berpikir tujuannya melakukan semua ini berhasil. Diva mengabaikan wajah panik Aya karena terlalu senang kalau kembarannya itu ternyata mudah menerima keberadaan Aya dalam hidupnya.
"Mas nggak perlu pulang, sakitnya nggak parah kok," kata Aya buru-buru melupakan kalau dia harus akting.
"Tunggu kamu diperiksa Diva dulu, kalau sakit kamu memang parah, tidak mungkinkan kalau aku membiarkan kamu dirawat orang lain."
Perkataan Divo semakin membuat Aya panik, membayangkan Divo pulang dan ternyata dia baik-baik saja bukanlah hal baik. Apalagi Aya tau kalau Divo masih punya 11 hari untuk berada diluar.
"Tapi ini tidak terlalu parah, aku yakin besok sudah sembuh," ucap Aya meyakinkan Divo. Kembali hening, tidak ada jawaban dari Divo sampai akhirnya Aya mendengarkan helaan napas Divo.
"Baiklah, tapi aku akan lebih tenang kalau kamu menginap dirumah mama. Aku akan menghubungi Diva segera. Aku akan meminta dia menjemput kamu dan merawat kamu hingga sembuh. Kamu sekarang bersiap-siap, kenakan baju hangat dan celana panjang," perintah Divo.
Aya hanya bisa menjawab, “Baiklah.”
"Nanti akan aku hubungi lagi," pamit Divo sebelum mematikan hubungan teleponnya.
Setelah terputus, senyum Diva mengembang lebar from ear to ear. Mata Diva semakin sipit karena senyumnya itu, membuat Diva terlihat semakin cantik. Senyum itu terbit karena saking puasnya Diva dengan hasil eksperimennya.
Baru saja dia hendak berbicara, handphone miliknya segera berbunyi. Layar handphonenya menampilkan nama kembaran kolot tersayannya.
"Halo Di," sapa Divo.
"Kenapa Vo?" tanya Diva dengan nada yang telah diatur sedemikian rupa.
"Gue bisa minta tolong nggak Di?, Aya lagi sakit, gue khawatir karena dia nggak ada yang jagain. Bisa nggak lo gantiin gue buat jagain dia?" tanya Deva dengan nada memohon.
Diva diam sebentar untuk membuat aktingnya semakin meyakinkan.
"Va?" panggil Divo.
"Emang dia nggak bisa jaga diri sendiri? Manja banget harus dijagaain segala, belum tentukan sakitnya parah." kata Diva dengan nada sedikit tidak suka.
"DIVA!" sentak Divo.
Diva tau kalau Divo marah, dia pasti tidak suka dengan perkataanya.
"Dia itu istri gue Va, mau dia hanya sakit kecil atau sakit biasa. Wajar kalau gue khawatir sama dia. Kalau gue bisa, gue bakal ngurus dia sendiri dengan tangan gue. Gue nggak bakal minta tolong ama lo kalau emang gue bisa ngelakuinnya sendiri sekarang. Dia itu sekarang, sudah menjadi salah satu prioritas utama gue juga Di," kata Divo akhirnya dengan suara pelan.
"Gue tau, maaf kalau gue ngebuat lo marah," kata Diva dengan nada lirih.
Terdengar helaan napas dari seberang sana, lalu Divo kembali bersuara, "Lupain aja. Gue tau kalau lo pasti nggak bilangnya dari hati. Gue hanya minta lo jagain Aya baik-baik aja ya Di. Pastiin kalau dia sehat dan baik-baik aja. Gue bakal usahain pulang secepat mungkin," kata Divo.
Diva menganggukkan kepalanya kecil, sekaligus berdeham sebagai jawabannya dalam bentuk suara.
"Kalau gitu udah dulu ya, Va. Bye bye," pamit Divo sebelum mematikan sambungan telepon mereka.