CHAPTER 14

1003 Kata
Satu hal yang pasti Divo lakukan ketika dia sedang ada di luar negri, yaitu menghubungi Aya. Jika biasanya dia menghubungi gadis itu sekali dalam sehari. Sekarang dia lebih sering lagi menghubungi Aya sejak mengetahui gadis itu sedang sakit. Tidak hanya Aya, Diva juga menjadi sasaran gangguan Divo sekarang karena dia telah menitipkan Aya kepada Diva. Divo mungkinlah pria dengan julukan pria kolot dan kaku, tapi bukan berarti Divo tidak peduli atau tidak peka dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Divo juga selalu menginginkan yang terbaik untuk orang-orang yang dia sayangi. Jadi logis menurut Divo kalau dia menginginkan agar Aya mendapatkan yang terbaik. Seharusnya memang dialah yang memberikan yang terbaik untuk Aya sekarang, mengingat mereka telah menikah, tapi saat ini dia sedang berada jauh dari Aya. Bukannya Divo tidak percaya pada kemampuan Diva yang jelas-jelas adalah seorang dokter. Hanya saja Divo tenang kalau dia sendiri yang merawat Aya yang kembali sakit. Divo khawatir dengan keadaan Aya, beberapa hari lalu Aya sempat bilang dia sudah sehat, tapi keesokan harinya dia mendapat kabar dari Diva kalau Aya sakit lagi. Alhasil Divo segera pulang, setelah mengurus ijinnya, administrasi dan keperluan lain yang dia butuhkan untuk penggantian jadwalnya supaya dia bisa segera pulang ke Indonesia. Seharusnya mengurus semua itu sangat rumit dan lama, tapi setelah Divo menghubungi pimpinannya dan dengan bantuan temannya sesama pilot, akhirnya Divo bisa pulang duluan dengan melakukan pergantian jadwal penerbangan. Mungkin terdengar berlebihan, tapi Divo khawatir dengan kondisi Aya. *** Divo membuka pintu kamarnya dengan pelan-pelan. Setelah mendapatkan kabar dari Diva kalau istrinya itu sedang istirahat di kamar miliknya, di rumah orangtuanya, Divo segera menuju rumah papa mamanya. Divo melihat Aya yang tengah tertidur lemas di atas ranjangnya, perlahan didekatkannya dirinya pada gadis itu. Divo kemudian duduk disampingnya masih dengan tatapan yang terfokus pada wajah memerah Aya dan bibirnya yang terlihat pucat. Menurut Diva dan mamanya, Aya baru saja istirahat setelah Diva memberikannya obat penurun demam. Divo tidak mengerti kenapa sakit Aya tidak kunjung membaik. Padahal kalau dihitung sejak pertama kali Aya memberitahunya sakit, itu sudah beberapa hari yang lalu. Awalnya Divo sudah merasa lega saat Aya dan Diva sempat berkata kalau kondisi Aya sudah membaik, tapi setelah Diva memberitahunya kalau Aya sakit lagi, dia akhirnya memilih pulang. Divo menggeser poni Aya, lalu melepaskan kompres di kening gadis itu. Disentuhnya kening Aya untuk memeriksa suhu badan Aya. Divo sedikit lega ketika dia merasakan suhu tubuh Aya tidak begitu tinggi lagi, kemudian Divo mengusap kening Aya ketika kening gadis itu berkerut. Aya seolah-olah sedang berada dalam mimpi buruk. Setelah merasa Aya kembali tenang, Divo mengembalikan kompres yang telah digantinya kekening Aya. Barulah setelah dia memastikan kompresnya sudah pas dan Aya kembali tenang, Divo baru pergi untuk mandi. Divo menggosokkan rambut basahnya ketika keluar dari kamar mandi. Dia sudah menggunakan baju tidur sutra warna biru gelapnya yang disesuaikan dengan pakaian yang digunakan oleh Aya Divo bergerak menuju ranjangnya. Namun langkahnya terhenti ketika dilihatnya Aya yang berlutut di atas ranjangnya. "Kenapa Ya?, butuh sesuatu?" tanya Divo yang semakin mendekati Aya setelah dia menggantungkan handuknya ditempatnya. Aya tidak menjawab, kepala gadis itu bahkan terus menunduk hingga membuat Divo kebingungan. Setelah Divo berhasil duduk dihadapan Aya, kening Divo semakin mengkerut bingung, apalagi ketika dilihatnya airmata gadis itu membasahi tangannya. "Kamu kenapa hmmm?" tanya Divo sembari mengangkat wajah Aya dengan mengangkat dagu Aya. "Ada yang sakit?, atau kita perlu kerumah sakit?" tanyanya dengan lembut. Divo menekan rasa lelahnya, dia perlu memastikan Aya baik-baik saja. Urusan lelahnya, bisa dia lepaskan nanti kalau Aya sudah sedikit baikan. Divo bertanya, tapi Aya tidak menjawab. Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan kuat. Akhirnya Divo mengalah dengan membiarkan Aya memuaskan tangisnya terlebih dahulu, sebelum menanyainya lagi nanti. Divo kini memilih untuk tetap tenang dan diam sembari mememeluk dan mengelus punggung Aya untuk menenangkan gadis itu. Setelah dirasanya Aya cukup tenang, barulah Divo melepaskan pelukannya dari Aya. Setelah itu Aya segera kembali berlutut di hadapan Divo dan di atas ranjang. "Maaf..." katanya dengan lirih. Divo tidak menjawab, menunggu gadis itu untuk melanjutkan kata-katanya dan menjelaskan kepadanya kenapa dia menangis dan terus meminta maaf. "Maaf telah berbohong kepada mu," kata Aya dengan nada lirih yang diselingi dengan suara sesenggukan miliknya. "Kamu tau kalau aku itu bodoh, makanya aku bohong. Mungkin ini hukuman buat aku karena aku bohong." Aya seolah meracau, kepala Aya kembali menunduk untuk menyembunyikan rasa bersalahnya. "Mungkin kalau aku tidak bohong semuanya tidak akan menjadi begini, kamu juga nggak akan pulang terburu-buru dan cepat begini." Divo masih memilih untuk diam tidak menanggapi, Divo yakin gadis itu masih akan melanjutkan kata-katanya. "Maaf aku jadi sakit begini, ini semua mungkin karena ulah ku yang berbohong soal aku yang sakit yang pertama kalinya." Kata Aya akhirnya. Divo masih saja tidak mengatakan apapun, yang dia lakukan hanya mengusap kepala gadis itu. Setelah merasa Aya sudah menyelesaikan penjelasannya, barulah Divo berkata, "Sebaiknya kita tidur dulu, kamu masih sakit, aku juga masih lelah. Kita bicarakan semuanya setelah keadaan kita berdua sudah membaik," ucap Divo sambil tersenyum. Aya mendongakkan kepalanya dan mendapati senyum manis dari Divo. Namun rasa bersalah Aya semakin besar saat pria itu malah tersenyum dan tidak memarahinya sama sekali. Padahal Aya sudah jelas-jelas mengaku pada Divo kalau dia sudah membohongi Divo, belum lagi pria Aya yakin kalau Divo pasti terburu-buru pulangnya. Divo pasti sangat lelah, pikir Aya. Terlihat dari mata dan wajah Divo yang begitu sayu, 'apa yang aku harus lakukan sekarang?' Tanya Aya dalam hatinya. Namun semua pemikirannya itu segera menghilang ketika Divo menariknya untuk berbaring dan membawanya kedalam pelukannya. Dengan menepuk-nepuk pelan punggung Aya, Divo mencoba membuat Aya untuk lebih cepat tidur. Suhu tubuh gadis itu sudah turun sejak tadi, jadi Divo tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya lagi. Divo berpikir yang dia dan Aya butuhkan sekarang adalah beristirahat. Itulah kenapa dia meminta Aya melanjutkan tidur Aya, biar dia bisa pulih total. "Selamat tidur sayang, cepat sembuh. Mimpi indah." Divo masih sempat membisik kata itu sebelum Aya tertidur dan dia ikut menyusul Aya untuk tertidur. Sedangkan Aya, dia masih sempat mendengar kata-kata itu meski samar. Tapi cukup untuk membuat dia merasakan bahagia, hingga tanpa dia sadari bibirnya sudah menyunggingkan senyum kecilnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN