Aya menundukkan kepalanya setelah jujur dengan apa yang dilakukannya kemarin, rasa bersalah akibat kebohongannya membuat Aya bahkan tidak mempunyai keberanian untuk menatap Divo saat ini.
"Maaf,"
Aya menunduk mendengar permintaan maaf itu. Aya benar-benar tidak menyangka kalau Divo akan balik meminta maaf kepadanya. Aya masih menundukkan kepalanya meski kini rasa bingung menyelimutinya. Bagaimanapun, dalam hal ini dialah yang salah. Jadi wajar kalau Aya yang meminta maaf, bukan malah sebaliknya. Divo menarik dagu Aya, memaksa Aya untuk melihat matanya. Setelah mereka saling tatap, barulah Divo melanjutkan kata-katanya, “maaf kalau aku membuat mu harus berbohong.”
Aya speechless, sungguh bukan ini yang dia harapkan. Aya sadar kalau semua ini murni adalah kesalahan dia, bukan Divo. Salah dia yang mempunyai rasa tidak sabar mengetahui perasaan Divo dan salahnya jugalah yang terlalu KEPO sudah sejauh mana perasaan Divo kepadanya.
"Aku tau kalau kamu menginginkan kepastian dalam perasaan aku, kamu juga pasti ingin bukti nyata perasaan cinta aku pada kamu hingga membuat kamu bohong. Aku mungkin terlalu bodoh dan naïf.” Divo tempak berpikir sejenak.
Lalu Divo melanjutkan kembali perkataannya, “Aku selalu berpikir kalau semuanya akan berjalan dengan baik jika aku melakukannya sesuai dengan apa yang aku rencanakan tanpa memikirkan kamu maunya apa. Padahal seharusnya aku sadar kalau kamu pasti mau tau juga tentang rencanaku. Aku tau, kau pasti merasa bingung selama ini hingga perlu meraba-raba tentang perasaan ku yang tidak pernah aku jelaskan,” kata Divo lagi sambil memperbaiki poni Aya yang jatuh menutupi wajah gadis itu.
“Jadi aku mengerti kalau kamu sampai harus berbohong seperti kemarin, bagaimanapun aku salah juga disini. Tapi mulai sekarang, aku mau kita belajar bersama. Kita juga bisa saling terbuka satu sama lain. Jadi aku mohon bimbingannya." Akhirnya Divo menyelesaikan penjelasannya kenapa dia meminta maaf juga. Divo juga mengakhiri perkataannya dengan candaan garing miliknya.
Mendengar perkataan Divo membuat Aya semakin menangis kuat. Perasaan lega akhirnya melingkupi perasaan Aya. Padahal, beberapa hari belakangan ini dia selalu gelisah karena kebohongannya sendiri.
***
Divo mendekap erat Aya dalam pelukannya dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain berpegangan erat pada pegangan KRL. Seperti biasa, transportasi umum ini selalu dipenuhi oleh penumpang dijam-jam memasuki pulang kerja, sehingga membuat Divo dan Aya harus ikut berjuang didalamnya.
"Panas?" tanya Divo sambil melap keringat Aya yang berada didahinya.
Aya menganggukkan kepalanya, namun senyum semangat masih trukir di wajah cantiknya. Bagaimana tidak, dari dulu dia selalu membayangkan semua ini. Kencan seperti inilah yang pernah Aya inginkan sebelumnya. Saling menggenggam tangan di busway atau kereta, lalu berjalan mengelilingi Jakarta seharian dan mencoba makanan pinggiran jalan yang biasanya jarang dia cicipi karena selalu dilarang oleh orangtuanya, itu karena betapa sensitifnya perutnya. Sayangnya keinginannya itu tidak pernah terpenuhi karena sialnya semua pacar Aya selalu menolak untuk melakukannya. Kata mereka, kenapa untuk kencan saja harus bersusah-susah kalau bisa kencan dengan enak dan santai. Alhasil Aya tidak bisa mewujudkan keinginannya ini sampai dia menikah dengan Divo.
Makanya, ketika Divo memberikan Aya kesempatan untuk memilih kemana mereka akan kencan, lalu apa yang akan mereka lakukan dikencan mereka kali ini, Aya memberanikan diri untuk mengatakan keinginannya ini. Beruntungnya, Divo mengabulkan permintaan Aya ini. Divo dengan baiknya melakukan semua apa yang Aya minta lakukan. Pria itu bahkan melakukannya diluar ekspetasi Aya, membuat semua perlakuannya yang simple namun terasa spesial buat Aya.
"Setelah ini, kita kemana?" tanya Divo ketika memasuki antrian untuk pemesanan kartu harian KRL.
"Bagaimana kalau monas?" tanya Aya sambil menengadahkan kepalanya hingga bertatapan langsung dengan wajah suaminya itu.
Divo terlihat berpikir sejenak lalu mengangguk. Senyum Aya semakin lebar, seharian ini apapun yang Aya inginkan dan apapun yang Aya ingin lakukan bersama dengan Divo, selalu dipenuhi dan dipatuhi oleh Divo. Jadi tidak salah kalau Aya begitu bahagia hari ini dengan kencan dia. Setelah berhasil mendapatkan kartu harian KRL untuk mereka berdua, Divo kembali menggenggam tangan Aya dan menuntun Aya untuk memasuki tempat tunggu kereta. Seperti tadi, ketika Aya mengelilingi kawasan kota tua di daerah Jakarta Kota, Aya begitu besemangat. Sekarangpun begitu, Aya begitu bersemangat berjalan menuju Monas. Alasan Aya memilih Monas sebagai tempat kencannya karena dia malu sebagai warga Jakarta. Meski dia telah hidup selama 24 tahun menjadi warga Jakarta dan tinggal di Jakarta, tapi belum pernah sekalipun dia berkunjung secara langsung kesana.
"Kamu capek?" tanya Divo dengan senyum geli karena kesan lelah berlebihan yang ditunjukkan oleh Aya.
Aya hanya bisa menganggukkan kecil kepalanya karena begitu lelah. Aya baru menyadari, ternyata kencan seharian mengelilingi Jakarta dengan transportasi umum tidak seindah bayangannya selama ini.
“Mau pulang?” tanya Divo lagi
Aya lagi-lagi hanya bisa mengangguk lemah. Aya kemudian mendongakkan kepalanya, lalu ditatapnya Divo yang juga terlihat sedikit lelah. Aya kembali memperhatikan wajah Divo dengan lebih teliti. Kalau dilihat secara cermat, wajah Divo sudah sedikit kuyu, lepek dan kusam yang entah kenapa malah membuat Aya sedikit merasa lucu. Aya berpikir, mungkin saat ini adalah penampilan terburuk Divo selama dia hidup. Beruntung wajah Divo memang tampan, sehingga kekuyuan, kekusaman dan kelepekannya tidak menghilangkan pesonanya.
"Kalau begitu kita menginap di hotel saja malam ini," usul Divo.
"Kenapa kita harus menginap?, bukankah kita masih bisa pulang. Ini masih jam 6 kok," Aya mengernyitkan keningnya mendengar usulan Divo ini.
"Aku ingin merasakan bagaimana rasanya membawa wanitaku kehotel sehabis berkencan. Sepertinya Deva selalu menyukai hal itu, makanya aku menginginkannya. Kamu maukan mengabulkan permintaan aku?"
Divo berkata dengan senyum kecilnya, tapi itu malah membuat Divo seolah sedang tersenyum jahil kepadanya. Aya mengangguk semangat lalu merangkul tangan Divo. Membiarkan Divo membawa kemanapun Divo ingin membawanya
***
"Jadi kamu belum pernah berkencan seperti ini sebelumnya?" tanya Divo pada Aya yang ada dalam pelukannya.
"Iya, semua pacar aku menolak untuk melakukannya. Kata mereka permintaan ku terlalu merepotkan," kata Aya yang juga semakin mendekatkan dirinya kedalam dekapan pelukan Divo.
Keduanya telah berada di atas ranjang hotel yang Divo pesankan untuk tempat mereka menginap malam ini.
"Kenapa kamu memenuhi permintaan aku ini mas?, bukankah ini merepotkan?" tanya Aya yang merasa aneh dengan Divo yang malah setuju.
Keseringan ditolak pacar tedahulunya setiap kali meminta kencan begini membuat Aya tentu penasaran dengan jawaban Divo. Selain itu, Aya tau dari Diva kalau Divo adalah tipe orang yang tidak suka dengan hal-hal yang merepotkan. Lalu, kenapa dia melakukan ini semua buatnya.
"Karena itu salah satu mimpi kamu," jawab Divo santai, namun terlalu ambigu buat Aya, hingga alis dan keningnya mengernyit karena tidak mengerti.
"Bukankah aku sudah bilang, sebagai suami aku akan berusaha memenuhi apapun mau kamu, selama permintaan kamu itu tidak salah menurut aku. Lagi pula, bukankah memang kewajiban seorang pria untuk memenuhi apapun mau wanitanya?" tanya Divo kembali.
Aya tidak mengatakan apapun, lagi-lagi jantungnya berdetak cepat. Bisakah Divo berhenti untuk tidak selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi? pikir Aya dalam hati. Aya menengadahkan kepalanya hingga bisa bertatap muka langsung dengan Divo. Perbuatan Aya itu membuat dia dan Divo saling bertatapan.
"Kalau kamu selalu memenuhi apa mau aku, bukankah itu akan membuat aku manja nantinya?" tanya Aya pelan.
Divo diam tidak menjawab untuk sesaat, tapi mereka masih saling menatap. "Selama permintaan mu itu masih bisa aku mengerti, maka aku akan mengabulkannya. Yang penting kamu juga bisa melaksanakan apa yang aku minta dari kamu dan tidak merusak apa yang harusnya kita jaga dalam pernikahan kita."
"Apa itu yang tidak boleh aku rusak dalam pernikahan kita?" tanya Aya semakin lirih, tatapannya semakin terkunci pada tatapan Divo.
"Kepercayaan," jawab Divo sebentar lalu melanjutkannya lagi.
"Buat ku kepercayaan adalah salah satu pondasi utama dalam pernikahan dan hubungan. Apalagi pekerjaan aku yang sangat rentan dengan masalah kepercayaan karena pekerjaan aku yang menuntut aku tidak bisa selalu ada dekat dengan kamu.” Divo tidak melanjutkan perkataannya untuk sejenak,
“Jadi aku harap kamu jangan merusak kepercayaan aku kepada mu dan akupun akan berusaha menjaga kepercayaan mu. Aku juga berharap kamu mempercayai aku ketika kita ada masalah yang terjadi dimasa depan. Aku percaya kepercayaan kita kepada pasangan akan menjadi salah satu modal kita untuk bertahan,” lanjut Divo
Jawaban simple seperti kalau Divo menjawab pertanyaannya selama ini, namun selalu memiliki makna yang begitu dalam. Aya selalu tau ada makna yang besar dalam setiap jawaban Divo itu. Aya bergeming kaku ditempatnya ketika Divo mendekatkan wajahnya ke Aya. Detak jantung Aya bekerja dengan gila-gilaan. Aya sungguh gugup karena tingkah Divo ini. Bahkan saking gugupnya Aya merasa kalau waktu disekeliling Aya berhenti.
Aya berhenti bernapas ketika bibir Divo berhasil menempel dibibir Aya. Tangannya berubah menjadi dingin. Hei, ini bukan ciuman pertama Aya. Tapi Aya malah bertingkah layaknya gadis yang bibirnya masih perawan dan belum pernah tersentuh oleh bibir pria. Aya yakin, kalau bibir Divolah yang perawan disini. Tapi, kenapa malah dia yang bertingkah kagok.
Meski begitu, otak Aya langsung memerintahkan mata Aya untuk terpejam dan menikmati ciuman Divo. Ciuman yang diberikan Divo begitu pelan dan lembut pada awalnya, lalu berubah cepat dan memburu. Tidak mau tinggal diam, Aya membalas setiap ciuman Divo padanya, Aya juga membalasnya sesuai ritme yang Divo berikan kepadanya. Tanpa Aya sadari, Aya juga memberikan ruang dan tempat yang Divo inginkan untuk dimasukinya. Ciuman Divo semakin turun menjelajahi leher Aya, dikecupinya leher itu, digigit lalu dihisapnya juga di satu bagian leher Aya yang memang Divo ingin tandai malam ini.
Setelah berhasil memberikan beberapa tanda dileher Aya, ditariknya kepalanya dari ceruk leher Aya lalu didapatinya wajah Aya yang sudah memerah dan dilingkupi oleh kabut gairah. Dikecupnya dengan cepat bibir dan puncak hidung Aya lagi, lalu dengan suara cepat seraya berbisik Divo berkata,.
"Kita akan melakukannya di Hawai bulan depan."