Prolog
Kerajaan Lucius merupakan kerajaan yang sangat makmur, kaya, dan disegani oleh Kerajaan lainnya dimana rakyat yang tinggal di kerajaan yang berada dibawah kekuasaan kaisar Luxe ini hidupnya sangat sejahtera dan makmur. Tak pernah ada krisis kelaparan atau wabah penyakit yang menyentuh kerajaan Lucius ini, akan tetapi dibalik itu semua kerajaan ini menyimpan kisah tragis putra mahkota, Lui.
Lui merupakan anak ke-2 dari Kaisar Luxe dan istrinya Amber, Lui mendapatkan gelar putra mahkota setelah kakak laki-laki nya meninggal karena sakit sehingga kaisar mengangkatnya menjadi putra mahkota.
Seolah-olah dewa tak henti hentinya memberikan berkah kepada kerajaan Lucius sehingga Lui diberkahi dengan tingkat kecerdasan yang diatas rata - rata, dalam usianya yang baru menyentuh 4 bulan Lui sudah bisa berjalan dan di usianya yang 3 tahun Lui sudah bisa membaca sehingga membuat Kaisar merasa sangat bangga akan hal itu.
Akan tetapi, karena kepintarannya itu membuat Kaisar terobsesi terhadap Lui dan menekannya untuk terus belajar, bahkan di usianya yang masih muda yaitu sekitar 5 tahun, Lui sudah tinggal di istana yang berbeda dengan kedua orangtuanya karena perintah dari sang kaisar untuk menyuruhnya belajar agar lebih fokus. Tentu hal itu merebut masa kecil Lui dimana anak kecil yang biasanya tertawa bersama teman - temannya tetapi malah terus ditekan untuk belajar.
Lui yang merasa bosan dengan belajar, perlahan mulai mencuri waktu untuk bermain terlebih lagi karena pengasuhnya yang merasa kasihan kepada Lui sehingga pengasuhnya sering membawa Lui untuk jalan - jalan dan bermain. Mengetahui hal itu, Kaisar sangat marah dan memenggal kepala pengasuhnya dan memarahi Lui habis - habisan agar belajar dan tidak membuang - buang waktu dengan melakukan hal yang bodoh.
Lui kecil yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya pertama kali menimbulkan trauma besar terhadap ayahnya, hingga perlahan mental Lui mulai kacau. Bertahun-tahun Lui hidup dalam tekanan ayahnya, selama itu pula kondisi mental Lui sudah tidak stabil.
Dirinya sering berhalusinasi kalau ayahnya datang kepadanya dan memenggal kepala ibunya karena Lui yang tidak mau belajar, hingga di usianya yang menginjak 14 tahun Lui ditunjuk sebagai Bupati untuk mengurus wilayah Aurum. Akan tetapi, karena kekhawatiran jika pengambilan keputusan yang ia ambil salah, maka dia sering meminta ayahnya untuk meminta nasehat. Namun, lagi - lagi ayahnya memarahi Lui karena untuk hal sekecil itu saja Lui tidak bisa.
Karenanya, Lui mulai mengambil keputusan sendiri dan lagi - lagi ayahnya memarahinya karena dia mengambil keputusan secara sepihak, dan itu yang membuat Lui berada di posisi serba salah dan semakin membuat penyakit mentalnya semakin parah.
Hingga puncaknya pada saat ia berumur 22 tahun, Lui mulai membunuh para pelayan yang ada di istananya agar rasa kekhawatiran dari ayahnya bisa mereda, bahkan ia sampai memperkosa pelayan - pekayan yang ada disana dan tak segan membunuhnya jika ia tak mau melakukannya. Para pelayan yang semula banyak menempati istana Lui perlahan mulai berkurang karena Lui yang terus membunuhnya.
Sehingga, kaisar yang sudah mendengar mengenai kabar anaknya tersebut mulai mengambil keputusan dengan memasukan Lui kedalam kotak gandum dan membiarkannya sehingga rakyat akan mengira kalau Lui telah bunuh diri.
"Tch, ending yang payah." Ucap seorang gadis sambil menutup bukunya itu, semilir angin menyapa rambut hitam panjangnya itu membuat gadis itu mengancingkan cardigan abu miliknya
"Authornya sangat tidak memiliki perasaan! Bagaimana bisa dia membuat hidup protagonis ini begitu kelam, dan tidak ada scan dimana dia bahagia kecuali waktu kecil bersama pengasuhnya." Wanita itu bergerutu sambil memasukan buku - buku lainnya yang berada di samping paha kirinya
"Andai saja aku bisa mengubah alurnya, akan ku ubah nasib Lui. Malang sekali, padahal itu bukan salah dia." Lagi - lagi wanita itu bergurutu sambil meresletingkan tasnya
Wanita itu tengah terduduk di bangku taman dengan seragam yang masih menempel di tubuhnya. Yap, wanita itu tengah duduk di kelas akhir menengah atas tinggal beberapa bulan lagi dirinya memasuki dunia perkuliahan.
"Astaga, aku harus pulang cepat, jika tidak ibu akan memarahiku." Ucapnya sambil melampirkan tas ransel dan mulai berjalan meninggalkan taman
Suasana sore itu sangat dingin, angin bertiup sangat kencang menerbangkan daun - daun yang berguguran ke jalanan. Suasana kota saat itu sangat ramai karena sudah memasuki jam pulang kerja, sehingga trotoar pun terasa penuh dan sesak
"Ah, sial!" Umpat wanita itu lagi ketika gilirannya menyebrang lampu berubah menjadi merah kembali, alhasil wanita itu berada paling depan di trotoar menunggu lampunya kembali hijau
Sembari menunggu, wanita itu melihat ponselnya yang terdapat notif dari teman temannya dan pandangannya teralihkan fokus ke ponsel miliknya. Mobil pun berlalu lalang dengan sangat kencang, dan ketika wanita itu semakin asyik dan fokus membalas chat teman temannya, kerumunan orang yang di belakang terdengar rusuh karena ada penjambretan dengan menodongkan senjata hingga kerumunan itu terus melangkah mundur dan mundur
Gadis yang tak sadar akan hal itu perlahan terdorong mundur hingga akhirnya seorang pria di belakangnya terjatuh dan membuat gadis itu terdorong ke jalanan dan tepat di sampingnya sebuah truk melaju dengan sangat kencang dan
Jedar!
Kecelakaan pun tak dapat dihindari, gadis itu tak sempat melarikan diri. Jalanan penuh dengan cairan merah, orang - orang mulai mengerumuni gadis tersebut dan penjambret itupun sudah pergi dengan membawa hasil curiannya.