Siapapun itu, aku mohon, katakan kalau semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir. Bapakku bukan orang seperti itu, jangan buat perjalananku selama ini seperti berusaha menggapai bayangan. Kupikir ia ada pada langit yang agung, ternyata justru di dasar laut yang siap menelanku dalam sesak dan kedinginan. "Ini semua kesalahanku." Simbah duduk di kursi rotan tak jauh dariku. Sejak tadi, simbah selalu menghindari tatapannya berada satu garis lurus denganku. "Sejak kecil, bapakmu sudah berbeda dengan anak-anakku yang lain. Dia anak yang sangat cerdas, aktif dan kreatif. Keingintahuannya terhadap apa yang dia lihat, membuatnya tidak bisa diam, dan selalu selangkah lebih maju dari orang lain." Simbah mulai bercerita. Ayas yang berada di sampingku, menggenggam tanganku erat-erat, s

