Cinta bukan apa yang dipikirkan oleh akal, tapi sesuatu yang dirasakan oleh hati. Aku sudah sering mendengar kalimat itu, tapi sampai saat ini masih saja kesulitan memaknainya. Ketika hatiku yakin kalau cinta ini milik Gus Ayas, tapi ingatanku selalu dipenuhi oleh kenangan-kenangan bersama Asrul. Ketika lima tahun kuhabiskan untuk bersusah payah melupakan Gus Ayas, lalu akhirnya harus menyerah pada kenyataan, bahwa aku tidak pernah bisa melupakannya, tapi dua puluh tiga tahun waktuku, hampir tak ada jeda yang dilewatkan oleh bayangan Asrul. Asrul adalah sahabat terbaik, seorang yang selalu bisa memahami, bahkan ketika dunia meragukan kewarasanku. Tapi hari ini dia hanya diam, tangannya tidak bergerak sedikitpun sekedar melempar kain lusuh untuk menghapus air mataku, seperti yang biasa di

