Berdiri di tempat ini, tubuhku terasa gemetar, seolah dosa-dosa di masa lalu sedang menyambutku dengan penuh u*****n. Aku juga tidak bisa membayangkan, kata apa yang harus kuucapkan pada Ning Umayya. Bagaimana aku harus bicara pada Abah dan Bu Nyai, tentang kepergianku dari pesantren ini waktu itu. Dan yang lebih penting, adalah tentang bagaimana caraku meminta maaf pada Gus Anam. Setelah aku sempat percaya bahwa dia adalah dalang dari hilangnya bapak, ternyata justru dialah yang sudah kehilangan orang tuanya karena ulah bapak. Bagaimana aku bisa mengangkat wajah di hadapannya nanti? Asrul memang sudah kembali, walau keadaannya masih sedikit lemah, tapi aku juga perlu melihat keadaan Gus Ayas secepetnya agar aku bisa merasa lega. "Jangan takut, mereka sudah lama menunggumu." Ayas meng

