Kenapa dunia ini begitu tidak adil? Kenapa orang-orang yang kusayangi harus menderita hanya karena orang sepertiku? Aku seperti berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa adanya kehidupan yang bisa kurasakan. Jiwaku sudah tertinggal begitu jauh, mendekam dalam kenangan-kenangan bersama Asrul. Kehilangan sahabat seperti dirinya, membuatku merasakan kematian yang sangat menyakitkan, bahkan ketika aku masih bernapas. "Jea, makananmu tidak akan masuk ke dalam perut kalau hanya diaduk seperti itu." Seseorang berdiri tak jauh dariku, dia berjalan mendekat saat mataku masih belum mempercayai penglihatannya. "Asrul?" Benarkah, yang kulihat ini Asrul? Aku melihat sendiri, dia menutup mata di pangkuanku. Tapi wajah tengilnya itu benar-benar sedang mengejekku. Apa dia lagi menertawakan keadaanku y

