Tau micin? Iya, bumbu tambahan yang belakangan ini sering dijadikan bahan guyonan sama anak jaman now. Aku paling sebel, kalau lagi masak, ketemu sama micin kemasan 1/4kg.
Tau kenapa?
Plastiknya ngeyel, susah diatur, kalau dibuka pasti awur-awuran. Apalagi kalau dalam keadaan buru-buru begini, udah mirip mantan yang datang bawa undangan. Bikin badan panas dingin.
Padahal sebentar lagi bedug, tapi aku belum selesai masak, gara-gara tadi ketiduran sehabis asar. Udah gitu, pas menuangkan micin ke wadah, malah tumpah. Kan nambahin kerjaan jadinya.
"Kamu kenapa sih, Je? Sekarang nggak mau bantuin ngajar kayak tahun lalu. Kan kasihan Mas Ayas, dia kewalahan ngurus anak-anak. Tahu sendiri kan, gimana murid kita?" Marningsih meletakan es batu, pada wadah yang sudah kusiapkan. Hari ini, aku hanya membuat es kelapa muda, dengan campuran sirup pemberian Mak Rinah. Memang sudah jadi kebiasaan warga sini, kalau rumah yang ditempati da'i, pasti banjir kiriman. Entah itu bahan makanan, atau makanan yang sudah matang.
"Bukan nggak mau, Ning. Tapi emang nggak sempet. Sekarang, Simbah makanannya harus dipisah, ada banyak pantangan yang harus dihindari karena kondisi kesehatan. Jadi masaknya juga macem-macem. Belum lagi ada Mas Da'i. Pastinya harus ada menu tambahan, setidaknya ada sayur sama lauk. Kalau aku ikutan ngajar, yang masak siapa?" Aku mengambil daun seledri, lalu memasukkannya pada sayur bening bayam, sebagai sentuhan akhir agar aromanya makin matap.
"Emang kamu pikir, Iyungmu ini udah nggak bisa masak?" Iyung menimpali. Wanita yang rambutnya sudah hampir rata memutih itu membawa semangkuk kolak. Sepertinya dari rumah Uwak Sarti. Tadi Uwak bilang mau masak kolak. Dan berjanji memberiku bagian. "Bukannya Iyung juga sudah nyuruh kamu buat ke mesjid? Kamunya aja yang ngeyel."
"Tuh kan, Je. Kamu nggak usah kebanyakan ngeles, deh. Katanya mau mewujudkan impian Bapakmu. Mendirikan TPA, dan mengajarkan ilmu agama. Kenapa sekarang malah males gitu? Kamu nggak lagi menghindari Mas Ayas, karena takut jatuh cinta kayak jaman Ustadz Ashoffa dulu, kan?" Pertanyaan Marningsih hampir membuatku menuangkan sebungkus garam pada sayur nangka muda yang sedang kumasak.
"Astaghfirullah," Aku buru-buru mengambil garam yang masuk ke wajan dengan porsi berlebih.
"Tuh, kan, jadi kebanyakan. Bahas itunya nanti aja lah. Bentar lagi adzan, entar malah masakanku tambah kacau," jawabku sedikit membentak. Siapa yang nggak kesel coba? Udah tahu lagi buru-buru, malah direcokin. "Lagian emang kamu udah selesai masaknya? Bukannya nyiapin masakan di rumah, malah ngerecokin dapur orang."
"Udah dong, urusan masak mah, kecil. Serahin aja sama Lintang." Dasar Marningsih! Selalu saja Lintang yang jadi korban. Giliran ada maunya saja, dia rajin kebangetan. Tapi kalau lagi males, Lintang yang harus mengerjakan semuanya. Sendirian. Dan ketimbang rajinnya, Marningsih jauh lebih sering malesnya. Pantas mereka sering bertengkar. Kalau saja aku yang jadi adiknya, mungkin sudah kupecat dia jadi anak sulung.
Suara kambing dari kandang milik Uwak Yatin saling bersahutan. Kurasa mereka melihat mamak Marningsih pulang dengan segulung rumput. Tak lama kemudian, aku mendengar suara seperti kayu yang dibanting di halaman samping. Pasti itu Uwak Wasono. Dulu Bapak yang selalu mencari kayu bakar untuk Iyung, sekarang bapaknya Marningsih yang menggantikan tugas itu.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Bentar lagi bedug, Mamak sama Bapak juga sudah pulang. Kalau di sini terus, entar bisa-bisa kena semprot, sama Lintang. Bye!"
Gadis itu meninggalkan dapur, sambil masih menyandang mukena. Katanya tadi dia bantuin Ayas ngajar. Tapi aku nggak yakin sama sekali, apa dia benar-benar mengajar, atau malah sibuk tepe-tepe sama Ayas. Awas saja kalau dia berani melakukan itu, kupastikan, napasnya yang geratis hanya akan menjadi sebuah mitos.
Eh, kenapa jadi aku yang sewot, terserah dia kan? Memangnya siapa aku?
"Assalamu'alaikum." Ayas pulang, tepat saat adzan berkumandang. Aku dan Iyung menjawab salam bersamaan.
Simbah yang tadi duduk di teras, sudah ikut bergabung di meja makan. Sementara Asrul, tadi menelpon, katanya mau menginap di Ungaran. Di tempat teman kuliahnya dulu.
Kami hanya membatalkan puasa dengan segelas air putih, lalu berangkat ke masjid untuk jamaah sholat maghrib. Setelah itu, baru makan sambil menunggu waktu isya. Yang penting sudah menyegerakan berbuka sesuai kesunahan. Dan makan pun bisa lebih tenang karena tidak takut kehabisan waktu sholat maghrib.
Kata bapak, saat seorang berbuka puasa, maka malaikat akan mendoakan kebaikan untuknya selama makan. Itu artinya, semakin lama makannya, semakin banyak didoakan oleh malaikat. Iya, kan?
Ayas mengambil sayur nangka beberapa sendok lalu menyiramkan sayur bening ke piringnya. Belakangan ini, aku baru tahu, ternyata makanan kesukaannya cukup sederhana. Hanya oseng-oseng nangka muda, ditambah sayur bening dan sambel terasi. Kalau dihadapkan dengan menu itu, lmaka dia akan makan dengan sangat lahap.
Aku selalu merasa puas, saat Ayas bisa menikmati masakanku.
"Jea, ..." Ayas memanggilku yang sedang mengambil es kelapa, iyung dan simbah yang masih sibuk mengambil sayur, ikut berhenti demi mendengarkan Ayas. Karena kini, pemuda itu sedang menatapku dramatis.
"Ya?
"Nikah, yuk."
Aku tersedak mendengar kata yang dia ucapkan.
Apa maksudnya, coba?
"Maksud Mas Ayas?" Iyung yang lebih dulu menjawab. Aku masih terbatuk-batuk akibat tersedak. Simbah malah memandangiku dan Ayas bergantian seperti orang linglung.
"Iya, Yung. Katanya, kalau anak perawan, masak keasinan. Itu artinya dia sudah ingin menikah. Barangkali, Jea sedang melamar saya melalui masakannya ini."
Aku berpikir sejenak untuk bisa mencerna maksud ucapannya barusan. Asin! Otakku meneriakan kata itu dengan sangat lantang. Aku segera mencicipi masakan itu, dan ternyata memang asin kebangetan. Dalam hal ini, Marningsih menjadi satu-satunya yang paling patut untuk disalahkan. Pasti karena dia menggangguku, dan tadi garamnya tumpah
Duh, mau ditaruh dimana mukaku?
Menurutku, tidak ada hal yang lebih memalukan, dari masakan keasinan. Dan disaat seperti ini, pasangan renta yang duduk disampingku, justru menertawakan cucunya. Mereka benar-benar orang tua yang tidak ber-prikecucuan. Bukannya bantu menjelaskan, iyung malah ikut memojokkan. Padahal tadi kan iyung juga ada di TKP saat insiden garam tumpah itu terjadi.
"Jadi gimana, Je? Kapan kalian siap dinikahkan? Kita siap mantu, loh. Iya kan, Mbah?" Iyung memegang punggung tangan Simbah. Selain tidak ber-prikecucuan, mereka juga tidak ber-prikejombloan. Selalu mengumbar kemesraan di depanku, padahal mereka sudah sama-sama tua. Tapi melihat keromantisan mereka, kadang aku juga membayangkan, untuk menjadi tua bersama, tetap saling mencintai dan saling menjaga dengan pasangan hidupku nanti, seperti simbah dan iyung.
LoveRegards,
MandisParawansa