Pagi ini hujan turun lagi. Jamaah Sholat subuh, hanya orang-orang yang rumahnya dekat dengan masjid. Itupun hanya beberapa. Sebagian mungkin lebih memilih kembali ke kasur setelah sahur. Kalau cuaca dingin begini, bantal, guling, dan selimut memang selalu menjadi sekutu paling pas buat menikmati pagi.
Padahal, baru kemarin Ayas menerangkan tentang pahala jamaah subuh. Yang katanya kalau diperlihatkan, maka ia setara dengan dunia beserta seluruh isinya. Tapi rupanya, hujan mampu menghalangi langkah-langkah yang didalamnya penuh keberkahan.
Omong-omong soal hujan. Menurutku, wanita memiliki sifat yang sebelas-dua belas dengan hujan.
Dulu, musim penghujan dan musim kemarau turun dengan teratur. Karena itu pula, Sapardi Djoko Damono mengibaratkan hujan bulan juni sebagai cinta yang syarat akan kearifan.
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni.
Juni adalah bulan musim kemarau. Sangat mustahil kalau hujan turun.
Karena itulah, hujan bulan juni digambarkan seperti sebuah perasaan yang ditahan. Tentang seseorang yang begitu sabar dan tabah dalam menyimpan perasaan, karena belum waktunya turun.
Kurasa, jaman dulu wanita juga seperti itu. Lebih memilih menyimpan perasaanasa cintanya, lalu diam-diam membisikan rindu lewat angin yang berhembus. Juga lewat ujung sajadah.
Tidak seperti sekarang. Hujan turun tanpa kenal bulan. Padahal seharusnya bulan ini sudah memasuki musim kemarau, tapi hujan masih telaten menyambangi bumi.
Wanita jaman sekarang tak ada bedanya dengan hujan. Tak peduli bahwa dirinya seorang wanita, menyatakan cinta seolah wajar. Bahkan ada yang berani mengkhitbah lelakinya duluan. Mungkin ini yang disebut jaman edan. Semua serba terbalik.
Pulang dari masjid, aku melihat Karin sedang merengek pada suaminya. Dia minta dibelikan buah-buahan warna kuning. Katanya biar anak yang dikandungnya, lahir dengan kulit kuning langsat.
Aku jadi membayangkan, kalau dulu Asrul yang menikah sama dia. Pasti saat ini telinga Karin lagi gatal dibuatnya, karena mendengar penjelasan-penjelasan ilmiah yang mematahkan kepercayaan Karin mentah-mentah.
"Mana ada warna kulit bayi terpengaruh sama buah yang dimakan. Warna kulit itu faktor genetika. Nggak ngaruh warna makanan sama pigmen kulit. Karakter seseorang itu dikendalikan oleh sepasang gen. Tapi warna kulit, dipengaruhi poligen. Paparan cahaya matahari juga bisa mempengaruhi warna kulit. Tapi kalau kulit makanan. Itu artinya, otakmu minta di upgrade!" Asrul akan membodoh-bodohkannya, lalu Karin terus merengek dengan dalih kalau itu keinginan anak yang dia kandung. Pada akhirnya, Asrul akan mengalah, dan merepotkan diri demi seorang istri. Tapi sayangnya, Deny adalah suami yang terlalu mudah lunak. Karin tak perlu melewati serangkaian perdebatan, dan lelaki itu sudah pergi, bahkan rela menerobos hujan demi istri dan calon anak yang ada di perutnya. Aku yakin, Mas Deny melakukannya bukan semata-mata karena percaya sama keyakinan Karin. Tapi lebih karena rasa cinta.
Aku hampir saja ketawa sendiri, karena heran dengan imajinasi yang mendadak liar begini. Ternyata, seorang Asrul bisa membuatku kangen juga, yah?
"Ngapain senyum-senyum sendiri?"
Tau-tau motor Asrul berhenti disampingku.
"Enggak. Cuma lagi inget sama masalalu seseorang."
Alisku naik turun, sambil melirik gadis yang sedang berdiri di depan pintu rumah Uwak Sarti, memegangi perutnya yang sudah membuncit.
Ralat. Dia sudah bukan gadis lagi, kegadisanya sudah hilang sejak hampir setahun lalu. Kehamilannya sudah memasuki bulan ke tujuh. Dan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Asrul mendengus kesal, lalu meninggalkanku. Aku tertawa sendiri. Dan langkahku semakin cepat, mengejarnya yang sudah memarkir motor di depan rumah. Ada banyak hal yang ingin ku tanyakan. Pada saat tertentu, dia mirip Google hidup yang bisa kujadikan tempat untuk mencari tahu banyak hal.
***
Dering telpon mengusikku yang baru berniat untuk terlelap. Aku baru merampugkan do'a sebelum tidur. Dan niat untuk berkelana ke alam mimpi, harus tertunda.
Suara itu semakin tidak sabaran. Saat kulihat, ternyata sebuah nomor tak dikenal.
"Assalamu'alaikum." Sudah menjadi kebiasaan, menjawab telpon dengan diawali salam. Malah Bapak pernah memperingatkan, katanya; 'Jangan pernah bicara tanpa didahului salam' karena syaitan bisa saja turut andil dalam percakapan seseorang. Hal itu tertanam dalam otakku sampai saat ini.
Suara lelaki diujung telpepon, menjawab salamku sambil menguap.
"Belum tidur?"
"Maaf. Siapa, yah?"
"Aku tetanggamu," jawabnya dengan suara serak.
"Tetangga kamar," lanjutnya. Aku yang sudah terlalu mengantuk, tidak mau ambil pusing, dan langsung to the poin.
"Oh. Ada apa?"
"Enggak. Cuma mau tahu, kamu udah tidur apa belum." Dia sama sekali tidak merasa bersalah, padahal sedang mengganggu waktu istirahat orang lain. Kata apa selain 'tidak tahu diri' yang pantas untuk lelaki itu.
"Yaudah, sekarang udah tahu, kan? Aku mau tidur. Tolong matikan telponmu." Mataku semakin berat, besok aku pasti membuat perhitungan dengan orang yang seenaknya menelpon malam-malam begini.
"Aku mau jagain kamu. Kalau kamu belum tidur, aku nggak akan tidur untuk memastikan bahwa tidurmu benar-benar nyenyak."
"Nggak usah sok supermen, deh. Tidur gih, sana!"
"Ya emang bukan Superman. Tapi Your Man."
Mendengar ucapannya aku langsung mual, otakku loading dengan kecepatan maksimal. Dan baru menyadari, kalau orang yang dari tadi bicara denganku itu Ayas.
Langsung kututup telpon tanpa aba-aba. Darimana dia punya nomorku? Lagian, Da'i yang sedang bertugas, seharusnya tidak boleh membawa handphone, kan? Aku hampir lupa, kalau tabiatnya adalah pelanggar aturan. Jangankan membawa alat komunikasi, kabur dari pondok pun dijabani.
Handphonku berdering lagi, padahal baru saja dilempar. Orang itu benar-benar cari mati. Menyesal rasanya, karena sudah membiarkan dia melangkah lebih dekat. Mungkin memang lebih baik kalau aku menjaga jarak darinya. Itu akan baik untuk perasaanku nantinya. Kehadiran Ayas saat ini, hanya sebuah mimpi. Yang akan segera sirna, ketuka pagi menjelang. Dia akan pergi seiring bulan ramadhan. Lebaran nanti, aku harus menyiapkan hati untuk merasakan kehilangan dua hal sekaligus. Bulan ramadhan, dan juga Ayas.
"Ada apa lagi?!"
Tanpa basa-basi, aku langsung membentak.
"Ayahmu masih hidup." Rasa kantuk yang sebelumnya bergelayut, mendadak sirna. Kulihat layar ponsel, ternyata nomor yang berbeda dengan milik Ayas. Suara lelaki misterius dari ujung telpon, mengatakan sesuatu yang membuatku tak karuan.
"Jangan pernah percaya pada siapa pun. Termasuk orang terdekatmu."
Panggilan diputus tiba-tiba. Saat aku mencoba menghubunginya, nomor itu sudah tidak aktif.
Siapa dia?
Apa yang dia tahu tentang Bapak? Kenapa dia bilang bapak masih hidup, dan aku tidak boleh percaya pada orang lain. Apa artinya, selama ini mereka sengaja menyembunyikan kebenaran tentang bapak? Tapi mereka siapa? Keluargaku sendiri? Tidak mungkin mereka sejahat itu padaku.
Seluruh pertanyaan itu, tak henti menghujani. Sampai-sampai tidak bisa tidur, karena memikirkan ucapan orang misterius tadi. Apa tujuannya mengatakan hal tersebut, kalau memang ingin membantu, kenapa tidak langsung mempertemukanku saja dengan bapak. Lebih masuk akal, kan?
Malam ini, hampir nggak bisa tidur sama sekali. Kepalaku mendadak pusing, dan kalau sudah begini. Maka membaca Al Qur'an menjadi pilihan terbaik. Hatiku selalu merasakan ketenangan, setiap kali membaca ayat-ayat cintaNya. Dan aku melakukan itu, sampai waktu sahur menjelang.
LovRegards,
MandisParawansa