Mimpi yang Menyebalkan

1740 Kata
Assalamu'alaikum, Gadis bermata pedang. Bagaimana kabar jemari tanganmu? Masihkah ia selalu merekah di sepertiga malam, Dan menjemput pagi dalam tengadah? Masihkah ia melangitkan do'a atas nama kerinduan? Selamat pagi, calon bidadariku. Bagaimana kabar hatimu? Masihkah ia, melesatkan ayat-ayat cinta-Nya seperti hendak meruntuhkan langit? Karena engkau, inginkan Allah mendengar pintamu? Sungguh, Aku di sisimu, tersenyumlah. Jika hidup ini terlalu berat bagimu, Berbagilah denganku. Genggam tanganku se erat yang kau bisa, Dan aku akan melakukan hal yang sama. Secarik kertas menyambutku di depan pintu. Tulisan Ayas kali ini membuat alisku saling bertaut. Gadis bermata pedang? Apa maksudnya? Memang tatapanku se tajam itu, yah? Diksinya benar-benar payah. Aku bermonolog sendirian, seperti orang setengah waras. Tapi tetap saja, puisinya membuatku cengengesan Ternyata dia masih belum berubah. Penilaianku selama ini tentang Ayas yang telah menjadi pria dewasa dan berwibawa, sekarang sudah raib. Ayas masih sama seperti dulu. *** "Kapan kamu mau nikah, Nduk? Iyungmu sudah tua, mbok ya cepet-cepet bawa calonmu kemari. Kalau dijodohkan selalu menolak, katamu sudah punya calon, tapi sampai sekarang belum juga dateng. Kita nggak pernah tau, kapan Gusti Allah mau ndawuih. Iyung juga ingin melihatmu menikah, dan dipanggil buyut sama anakmu." Menurut pemikiran sebagian besar orang Jawa, usia yang paling tepat untuk menikah bagi seorang gadis adalah pada usia duapuluh sampai dua puluh lima tahun. Sayangnya, usiaku sudah dua puluh tiga, yang artinya mendekati angka yang mereka imani sebagai batas kadaluarsa sebagai perawan. Entah sudah kali keberapa iyung menanyaiku, dengan kata-kata yang membuatku berpikir tentang lebih baik pindah ke planet Mars, daripada harus mendengarnya. Di desaku, rata-rata anak perempuan sudah menikah di usia dua puluh tahun. Bahkan Karin, dia menikah saat masih delapan belas tahun. Iyung mulai membentangkan tenda, untuk menjemur padi hasil panen kemarin. Hari ini matahari cukup cerah. Kalau seperti ini terus, mungkin nanti sore bisa kering. "Kamu sudah cukup dewasa, apa mau jadi perawan tua?" Iyung selalu saja menyudutkanku. "Belum saatnya, Yung. Insyaallah, setelah Jea menemukan, ..." Aku berhenti, iyung memandangku dengan tatapan yang membuatku urung melanjutkan kalimat. Ia tidak suka, kalau aku menyinggung masalah bapak. Pada akhirnya, aku hanya bisa menerka-nerka. Apa yang salah dengan bapak? Kenapa setiap menyinggung masalah bapak, iyung ataupun simbah selalu menghindar dan terkesan tidak suka. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku. Apa mungkin, sebenarnya mereka tahu tentang bapak. Atau hanya karena perasaan sedih kehilangan seorang anak? Iyung mengambil sehelai bulu ayam yang ada di dekat kaki, lalu menyelipkanya pada ujung baju yang digulung. Aku yakin banget, kalau nggak lagi puasa, iyung pasti akan membuang sebagian bulunya, menyisakan sedikit di bagian ujung, lalu digunakan untuk mengorek kuping. Orang tua jaman dulu bilang, kalau bagian paling nikmat dari ayam adalah bulunya. Buat ngorek kuping. "Kamu lihat mereka," Aku mengikuti perintah iyung. Dan seketika, seolah ada sesuatu yang sangat keras dihantamkan ke dadaku. Ayas dan Marningsih, mereka sedang duduk berdua di ayunan. Ayas memegang sebuah kitab, dan Marningsih mendengarkan penjelasan Ayas tentang salah satu bait Alfiyah. "Ketika dua aamiil menuntut amal pada satu ma'mul yang sama, maka berikanlah amal itu pada salah satu dari keduanya." Ayas berhenti sejenak, memandangi wajah Marningsih lalu kembali pada kitabnya. "Mereka kelihatan bahagia, kan?" Aku mengabaikan ucapan Iyung. "Pernikahan mampu membuka pintu keberkahan, itu bukan sekedar teori kopong." Benda-benda tajam, ditusukan tepat ke jantung, ke hati, juga ke bagian-bagian lain yang mulai membuatku mati rasa. Entah siapa pelakunya, yang jelas rasa nyeri itu sangat nyata, saat Marningsih dan Ayas terlihat mesra berdua. Tahu-tahu, kaki ini sudah membawaku meninggalkan iyung, dan menghampiri mereka. "Gus, ..." Air mataku sudah tidak bisa ditahan lagi. Aku menangis di hadapannya, juga Marningsih. "Kamu, ..." Tanganku membungkam mulut saat menyadari jemari mereka saling bertaut. Ayas bangkit. Sesungging senyum menghiasi wajahnya. Marningsih hanya terdiam dan menunduk. Entah apa yang dia pikirkan, tapi dia tidak berani menatapku. "Maaf. Aku memilihnya," ucap Ayas sambil mengusap pipi Marningsih, dan memandangnya dengan tatapan memuja. "Selama ini, kamu selalu menjauh. Justru dia yang selalu menemaniku. Aku minta maaf kalau ini membuatmu terluka, tapi kalau hatiku merasa nyaman dengan yang dekat. Kenapa harus mendekati yang selalu menjauh?" Kalimatnya menampar kesadaranku. Omong kosong apa yang sedang sia bicarakan? Aku memang menjauhinya selama ini, tapi bukan berarti sudah tidak punya perasaan. Aku hanya ingin fokus untuk menemukan bapak, agar saat aku bersamanya suatu saat nanti, aku bisa menjadi pendamping terbaik. Yang bukan hanya mencintainya, tapi juga bisa menjadi penggenap bagi dirinya. Karena bagiku, cinta bukan hanya sekedar tentang rasa nyaman. Cinta bukan sekedar menerima, tapi memberi, memberi dan memberi. Aku menangis lagi, benar-benar menyedihkan, karena sekarang, Ayas sudah mengabaikanku demi kembali pada Marningsih. Sakit yang kurasakan mulai menjalar keseluruh tubuh, bukan hanya sesak. Tapi juga mempengaruhi sistem gerak, sampai-sampai aku hanya bisa mematung sambil menangis, seperti bocah cilik yang makananya dibawa lari seekor ayam. Allah, sesempit inikah hatiku? sekedar mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya bukan milikku, tapi kenapa aku merasa tidak sanggup. Ikhlas? Apa definisi ikhlas yang sebenarnya adalah rasa sakit? Kenapa hatiku sakit membayangkan harus ikhlas melihat kebersamaan mereka? Atau, rasa sakit ini justru karena hatiku yang masih jauh dari kata ikhlas? Berhenti jadi bocah cengeng. Kamu bukan anak kecil." Seseorang menarik ujung bajuku. Bocah berambut keriting, yang menyandang busur panah. Anak itu melihatku dan Ayas bergantian. "Sesuatu yang akan menjadi milikmu, akan kembali padamu, sejauh apapun dia melangkah pergi. Kamu tak perlu merisaukan hal itu," lanjutnya. Lalu tiba-tiba, ada sebuah sungai yang mengalir di hadapanku. Sekejap, tubuhku sudah berpindah tempat. Kadang aku heran, sebenarnya siapa anak kecil itu? Kenapa setiap kali bertemu, dia selalu membuatku melongo dengan tingkah dan ucapannya. "Di sana, bapakmu sedang menjadi tawanan." Ia menunjuk ke seberang sungai yang terlihat gelap. "Dia membutuhkanmu." Jadi ini mimpi? Ayas dan Marningsih yang tadi juga mimpi, kan? Aku mendadak ingin jingkrak-jingkrak. "Bapak." Tubuhku seperti dilolosi tulang-tulangnya saat penglihatanku menangkap satu hal, bapak sedang berjalan di atas bara api, bersama segerombolan orang yang bergerak seperti robot. Apa yang harus kulakukan? Kakiku melangkah sekonyong-konyong berniat menyebrangi sungai, tapi sekarang tubuhku malah tersedot kedalam lumpur yang bergerak. Dadaku sesak, hampir tak bisa bernapas sama sekali. Aku hanya bisa menangis. Saat seorang ayah sedang membutuhkan anaknya, aku justru terjebak dalam keadaan yang menyedihkan. Semakin aku berusaha melepaskan diri, tubuhku semakin tenggelam. "Ini hanya mimpi," ucapku, lalu membiarkan lumpur-lumpur itu menenggelamkanku tanpa ampun. Tubuhku bergetar hebat, seolah dunia sedang dikoyak oleh tangan raksasa. "Jea, temenin ke pasar, yuk." Karin menggoncangkan tubuhku seperti orang kesetanan. Kepalaku terasa pusing karena dipaksa sadar dengan tiba-tiba. Heran, kenapa hidupku dikelilingi orang-orang yang tidak sabaran dan cenderung bersikap anarkis hanya untuk membangunkan orang? Masih ingat waktu Marningsih membangunkanku tempo hari? Dia juga menarik tubuhku dengan kasar. Sekarang Karin juga melakukan hal yang nggak kalah sadis. Aku hendak mengeluh, karena serangkaian mimpi aneh yang barusan kualami. Tak ada niat sama sekali untuk merencanakan mimpi itu, benar-benar mimpi, seperti bunga tidur pada umumnya. Tapi apa maksudbya, yah? Ayas sudah menikah dengan Marningsih, bapak yang disandera, lalu aku tersedot lumpur hisap. Semuanya ini aneh menurutku. "Jea, temenin ya." Nada bicaranya manja, memang sudah jadi pembawaan dan ciri khas Karin. "Aku pengin makan es krim Match-a. Bukannya nggak menghormati orang puasa, tapi perutku dari tadi sakit mulu. Kemarin kan aku udah minta Mas Deny buat beliin es krim pas pulang kerja, tapi dia malah lupa mulu. Temenin, yah. Demi calon keponakanmu." Dia mengelus perut yang buncit. Kalau sudah begini, siapa yang tega menolaknya. Alasan kehamilan, memang selalu bisa membuat seorang calon ibu mendapatkan apa yang dia inginkan, kan? Sebenarnya, sudah sejak lama aku juga tergila-gila pada es krim varian baru dari wall's, yang akhir-akhir ini iklannya seliweran di televisi. Wall's Cornetto Royale Love Match-a. Es krim dengan rasa teh hijau yang menurutku sangat menggoda. Aku berencana membelinya untuk buka puasa nanti. Pulang dari pasar, aku dan Karin naik angkutan umum dan turun di jalan yang masih agak jauh dari rumah. Sekitar 2km, karena memang kami tinggal di kaki bukit. Jauh dari jalan raya. "Naik!" Motor Asrul tiba-tiba berhenti di dekatku. Mukanya cemberut dan galak. "Aku?" "Ya bukan lah." Karin cengengesan, lalu segera naik motor. Aku ditinggalin? Kok kejam banget, sih. Perasaan tadi dia yang merengek minta ditemenin, kenapa sekarang jadi aku yang ditinggal sendirian? "Maaf ya, Je. Kakiku pegel, pinggang juga rasanya sakit kalau dibawa jalan. Terus pas aku tanyain, Asrul tadi lagi di rumah Pak Kades, jadi ya sekalian aja aku minta tolong dianterin. Nggak papa, ya?" Aku hanya memutar bola mata jengah. Nggak papa gundulmu! Aku loh, udah lagi tidur dipaksa bangun, disuruh ngambil ini itu di swalayan, bawain belanjaan, dan sekarang ditinggal. Untung dia lagi hamil, kalo enggak, sudah kulempar dia ke Antartika. Biar membeku sekalian. Ini kalau aku hamil, apa kelakuanku bakalan gini juga nggak, ya? "Nggak baik ngelamun di jalan." Ayas menyejajariku dan entah kapan kejadiannya, belanjaanku sudah berpindah tanggan. "Apaan sih, kemarikan belanjaanku. Nggak usah sok peduli, deh. Mending kamu urus saja Marningsih." Me-nye-bal-kan! Kenapa aku malah ngomongin Marningsih? Tadi itu kan cuma mimpi, Ayas belum beneran nikah sama dia, kan? "Marningsih? Ngapain aku ngurusin dia?" Ayas terlihat bingung. "Aku itu lagi khawatir sama anak-anakku." Kalau ada pisau bedah di dekatku, mungkin aku akan membelah otaknya, untuk mengetahui jalan pikiran pria itu. Jelas-jelas dia bertingkah sok pahlawan dengan membawakan barang belanjaan, tapi sekarang malah ngomongin anak. "Aku nggak mau, kulit bayi mungilku nanti harus iritasi, cuma gara-gara tangan ibunya kasar. Mereka harus mendapatkan kasih sayang penuh kelembutan. Bukan belaian dari tangan yang lebih mirip parutan kelapa, cuma karena ibunya sok mandiri dan sok kuat." Jadi maksudnya, aku calon ibu dari anak-anaknya? Duh! Kok kedengaran romantis  yah gombalanya kali ini. Aku tersipu mendengar kalimat ajaibnya. Pipiku menghangat, kenapa dia selalu membuatku dalam keadaan se menyedihkan ini? Seperti abege labil yang dimabuk asmara, terus ditinggal nikah pas lagi sayang-sayangnya. "Masih mau ngelamun?" Dia sudah berjalan cukup jauh meninggalkanku, sepertinya Ayas sangat puas menertawakan kebodohanku. Yang lagi, lagi, dan lagi, terjebak dengan gombalannya. Berjalan di belakangnya, aku lebih memilih diam. Bahkan sekedar untuk bertanya darimana dia, kenapa bisa muncul tiba-tiba? aku tidak melakukan itu. Lebih suka memandanginya dari belakang, mengamati setiap gerak langkahnya yang luwes dan selalu memesona. Jangankan manusia normal, manusia setengah dewa, mungkin akan minder saat melihat perpaduan sempurna seolah sosok malaikat dan segala bentuk keindahan, melekat dalam diri Ayas. Memandanginya seperti ini, mengingatkanku pada momen supermoon. Saat dimana purnama terlihat lebih besar dari biasanya. Allah sedang mengujiku. Tidak seharusnya, pujian itu terbesit dalam hati. Rasanya nggak tahu diri banget, aku memuja keindahan purnama, tapi melupakan keberadaan matahari sebagai pemilik sinarnya. Ayas itu cuma ciptaan, Jea! Nggak ada ciptaanNya yang sempurna melebihiNya, sampai-sampai patut buat dipuja. Ingat itu! Otakku berteriak memperingatkan. Regards, ~MandisParawansa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN