Hidup selama dua puluh tiga tahun, hal kekanakan yang pernah kulakukan, salah satunya terjadi saat ini. Detik ini, saat aku mengintip dari balik jendela, hanya untuk melihat gimana Ayas kalau lagi ngajar.
"Mas Da'i." Erni mengacungkan tangan saat Ayas menerangkan tentang surga dan neraka.
"Iya, Erni. Kenapa?"
"Mas, sebenernya beberapa hari ini aku lagi bingung. Ada banyak pertanyaan yang mengganggu pikiranku." Erni menunduk. Wajahnya terlihat lesu.
"Tentang apa? Kalau kamu mau mengajak debat tentang teori bentuk bumi lagi, Mas nggak akan jawab." Ayas menopang dagu.
"Bukan, Mas Da'i. Tapi begini," Tangan Erni mulai bergerak kesana kemari saat menjelaskan sesuatu. Persis seperti Asrul. "Allah itu, maha baik, kan?" Ayas mengangguk. "Tapi kenapa Allah menciptakan surga dan neraka? Kenapa nggak surga semua aja? Terus, aku sering diceritain, katanya di padang mahsyar, manusia dikumpulkan dengan jarak dari matahari yang hanya satu jengkal tangan. Padahal kita semua tahu, jarak bumi dan matahari yang sejauh 149,6juta kilometer saja masih banyak yang mengluh kepanasan. Apalagi sedekat itu? mungkin tubuh kita akan meleleh dalam waktu kurang dari satu detik. Itu namanya kejam."
"Jadi? menurutmu, ...?"
"Tunggu dulu, aku masih mau menjelaskan. Jangan dipotong." Ayas membungkam mulut sambil sedikit menahan tawa. Anak-anak di dalam masjid masih fokus, dan antusias mendengar Erni bicara.
"Jangan Mas Da'i pikir, aku meragukan ke-maha baikan Allah. Bukan itu."
"Lalu?"
"Semua pertanyaan itu, aku bisa mempelajarinya. Teori tentang bentuk bumi, aku bisa mencari kebenarannya. Tapi apa yang sedang kupikirkan, sangat mengganggu." Erni mendongak sesaat, memandang lurus pada gurunya yang sedang menatap penuh tanda tanya. "Aku bingung, ..." dia kembali menunduk, menghembuskan napas kasar "Sebentar lagi lebaran, setiap lebaran pasti banyak kue yang disajikan. Tapi, sejak aku bisa mengingat banyak hal, selama ini, aku belum pernah melihat sosok ayah, dalam kaleng Khong Guan. Kemana sebenarnya? Apa mereka nggak punya ayah?"
Aku terbahak mendengar pertanyaan gadis kecil itu. Semoga Ayas tidak menyadari keberadaanku. Semua penjabarannya di awal, sama sekali nggak nyambung dengan pertanyaan konyol yang ia lontarkan.
"Asaalamu'alaikum." Seorang sudah berdiri di hadapanku saat hendak meninggalkan tempat ini.
"Wa'alaikusalam, Gus Anam?" Seseorang dengan tubuh tinggi tegap tersenyum berwibawa. Dan asal tau saja, senyumannya juga nggak kalah aspartam dari senyuman Ayas.
"Sedang apa? mengintip?" Dia melongok ke dalam Masjid. Aku mendadak gagu.
"Eum, ...eng, enggak. Gus Anam sendiri, sedang apa di sini?" Ia malah tersenyum simpul.
"Kenapa? ada yang lucu?" Aku reflek meneliti diri sendiri, juga mengusap kerudung. Kalau-kalau ada yang salah dengan penampilanku.
"Kamu lagi ada masalah sama dia?"
"Nggak, Gus. Aku, ...kita baik-baik saja."
"Syukurlah, dia mempertaruhkan banyak hal untuk sampai di sini." Gus Anam berjalan menuju teras samping masjid, dan aku mengekorinya.
"Jea!" Asrul berlari ke arah kami. Membawa gulungan kertas manila untuk dekorasi acara Nuzulul Qur'an besok malam.
Ia memperlambat langkah dan sedikit menyipitkan mata. Mungkin mengamati Gus Anam, tapi selanjutnya dia menarik tanganku dengan kasar.
"Kamu! ngapain di sini?!" Asrul menyembunyikanku dibalik tubuhnya.
Gus Anam hanya tersenyum miring, memandangi tangan Asrul yang mencengkeramku.
"Apa kabar?" Suaranya tenang dan membius. Pria itu mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah, tapi Asrul malah mundur, mengabaikan Gus Anam yang mengajaknya berjabat tangan, dan hanya menatapnya penuh waspada. Entah karena apa.
"Jea, bisa tolong pergi?" Asrul masih merentangkan tangan, melindungiku seolah Gus Anam adalah binatang buas yang berbahaya.
"Kenapa, sih? dia itu Gus Anam, kakaknya Mas Ayas, da'i kita, kamu kenal sama Gus Anam?"
"Gus Anam? Kakakya Ayas?" Ujung bibir Asrul naik sebelah, melemparkan tatapan membunuh pada orang di hadapannya.
"Kenalkan. Da'i yang sedang mengajar di dalam sana, itu adikku. Aku kemari untuk mengunjunginya, memastikan apa dia menjalankan tugas dengan baik." Kalimat Gus Anam sangat tenang, dan wajahnya ramah. Memang begitulah sifatnya. Walau sikapnya dingin, dan wajah datarnya melebihi papan kayu, tapi Gus Anam selalu menjunjung tinggi nilai kesopanan. Berbeda sekali dengan Ayas.
"Aku mohon, kamu pergi dari sini." Asrul menyerahkan kertas yang dibawanya, membuatku memeluk gulungan kertas itu. Lalu membalik tubuhku dengan paksa, dan mendorongku agar mau meninggalkan mereka.
Ada jutaan tanya yang mengujan di dalam benakku, tapi untuk saat ini, sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mendebat Asrul. Dia terlihat serius. Dan jujur, kalau lagi serius begitu, wajahnya jadi serem.
***
"Ada masalah apa, kamu sama Gus Anam?"
Aku penasaran, apa yang sebenarnya dibicarakan Asrul dengan Gus Anam, dan kenapa dia kelihatan marah begitu. Terus sekarang, dia pulang dengan wajah yang seperti ingin mengunyah orang.
Saat memasuki kamarnya, dia sedang berdiri dan meletakan kedua tangan di atas meja, rahangnya menggeras, dadanya naik turun. Kentara sekali anak itu sedang marah.
"Gus Anam? Cuihhh! Dia itu," Asrul tidak melanjutkan kalimatnya, dia malah menggebrak meja sambil berteriak.
"b******k! Orang kayak dia harusnya sudah kubunuh dari dulu! Dia nggak pantes hidup!" Emosinya meledak-ledak. Aku terkejut mendengar apa yang dia katakan. Dibunuh? apa salah Gus Anam, sampai-sampai Asrul semarah dan sebenci itu padanya?
"Bulus! Ngomongmu itu loh. Ada apa, sih? Kok pakai acara bunuh-bunuhan segala?"
"Ada apa katamu? Kamu tahu siapa dia?"
"Ya tahu, lah. Dia kan Gus Anam, putra ke-dua Kyai Abdullah. Jadi nggak usah macem-macem, pakai ngomong nggak pantes hidup segala, emangnya apa salah dia sama kamu?"
"Kalau gitu, menurutmu hukuman apa yang pantes buat pembunuh?"
"Pembunuh, maksudnya, Gus Anam pembunuh? Nggak usah ngarang kamu, ada-ada aja!"
"Gimana kalau ternyata selama ini, orang yang kamu panggil Gus itu adalah dalang dari hilangnya bapakmu?"
"Ya aku pasti," Aku berpikir sejenak, "Apa?! Maksudmu Gus Anam yang menyebabkan bapak hilang? Nggak mungkin! Kamu sudah gila, yah?" Entahlah, aku tidak bisa berpikir jernih setiap kali mendengar sesuatu tentang bapak. Tapi juga aku tidak terima kalau Gus Anam yang selalu baik padaku itu dituduh macam-macam, apa lagi kalau ternyata tanpa bukti.
"Gila kamu bilang? Bertahun-tahun aku berusaha mencarinya, dan mengumpulkan bukti-bukti untuk bisa menjebloskannya ke penjara, hanya untuk dirimu. Dan sekarang kamu bilang aku gila?" Asrul berdecih, kelihatannya marah padaku. Dia tidak pernah berbicara dengan nada setinggi itu sebelumnya, walau dia memang selalu bersikap seperti berandal. "Dia yang membunuh bapakmu!"
"Apa?" Mendengar pernyataannya, tiba-tiba dadaku jadi sesak, seperti ada batu yang menghimpit, lututku mendadak lemas, dan kepalaku bertambah berat berkali-kali lipat.
Menyadari keadaanku, yang sekarang luruh di lantai dan kehilangan kendali, Asrul mendekat, pandangannya lebih lembut dan lebih manusiawi dari sebelumnya.
"Maaf." Asrul membantuku berdiri, dan duduk di kursi dekat tempat tidur. "Aku nggak bermaksud buat bentak-bentak kamu. Dan nggak seharusnya aku ngasih tahu semua ini sekarang," ucapnya penuh sesal.
"Apa yang kamu tahu, katakan." Tiba-tiba aku merasa sangat marah. Hawa panas menjalar naik dari ujung kaki, membuat otakku serasa mendidih.
Astagfirullah, tahan emosimu, Jea. Hatiku mengingatkan.
"Apa hubungan antara hilangnya bapak dengan Gus Anam?" desakku, kali ini sudah lebih bisa mengontrol emosi.
"Dia," Asrul memejamkan mata, menarik nafas berat, lalu kembali melihatku. Mungkin dia sedang menimbang-nimbang, untuk memberitahuku atau tidak. Alisku terangkat, tak sabar mendengar penjelasannya. Mau nggak mau, sekarang atau nanti, dia tetap akan menjelaskan hal itu padaku. Suka rela ata pun terpaksa, karena aku bukan orang yang mudah menyerah. Apalagi jika hal itu menyangkut bapak. Sekecil dan semenyakitkan apa pun itu, aku harus tahu.
"Dia itu psikopat. Dan aku rasa, kejahatannya berhubungan dengan hilangnya bapakmu dan beberapa orang di desa ini." Dia berhenti sejenak, "Beberapa tahun yang lalu, selain bapakmu, orang-orang yang sedang bekerja di proyek pembangunan jalan di sepanjang kaki Hutan Banawasa, juga dinyatakan hilang. Saat hilangnya bapakmu, aku menemukan sesuatu di sana." Ia membuka laci, dan mengambil sebuah kotak hitam. "Serum ini," Dia mengambil kapsul bening sebesar ibu jari, yang berisi cairan warna orange. "Kalau ini ditanamkan di dalam tubuh manusia, dia akan bekerja seperti transmiter yang mampu mengendalikan otak dari jarak jauh. Ini mirip fiksi ilmiah dalam film-film. Tapi kali ini nyata. Aku sudah melakukan penelitian selama dua tahun belakangan. Dan ternyata memang benar, serum ini bisa mengendalikan otak. Aku rasa dia sedang membuat sebuah proyek kejahatan yang sangat besar. Menghimpun kekuatan, untuk membantunya mewujudkan apa yang dia inginkan." Asrul terlihat putus asa, entah apa yang dia pikirkan.
Tadinya kuikir Asrul benar-benar tahu sesuatu. Maksudku, dia punya alasan kuat untuk menuduh Gus Anam. Tapi ternyata dia hanya sembarangan. Analisa yang terlalu dangkal menurutku. Ini tidak bisa diterima. Memangnya dia pikir apa hubungannya serum pengendali otak dengan Gus Anam. Makaudnya, Gus Anam menciptakan serum itu, begitu?
"Enggak, Srul. Kamu nggak bisa semudah itu menarik kesimpulan, atas dasar apa kamu menuduhnya begitu? Nggak masuk akal. Gus Anam adalah putra Kyai, setiap hari berada di pesantren. Dia orang baik. Mustahil orang seperti dia melakukan kejahatan seperti yang kamu tuduhkan." Semua yang Asrul katakan terlalu sulit diterima oleh otakku. Selama ini, aku mengenal Gus Anam sebagai sosok yang baik. Dia adalah Gus yang sangat berwibawa. Berbeda dengan Ayas yang pecicilan bukan main.
"Apa yang kamu tahu tentang dia, selain dia adalah seorang Gus? Apa kamu tahu, dimana dia selama tidak dalam jangkauan penglihatanmu?"
Pertanyaan itu membuatku sedikit goyah. Asrul benar, tidak selamanya aku mengetahui kegiatan Gus Anam.
"Itu bukan alasan, karena sejauh aku mengenalnya, dia adalah orang yang sangat baik. Bagaimana bisa dia melakukan hal seperti itu. Psikopat, membunuh, menghimpun kekuatan, apa-apaan?!" Tegas, aku jelas membantah pernyataannya. Aku tidak mau berburuk sangka, palagi sama Gus Anam. Ini bukan hanya tentang bapak, tapi juga menyangkut keluarga pesatren. Walau entah kenapa, ada sisi lain dalam diriku yang tidak setuju dengan ucapanku barusan. Entah pada bagian yang mana.
"Terserah kalau kamu nggak percaya. Tapi yang jelas, kamu harus hati-hati sama dia."
Aku tidak menanggapinya, dan memilih untuk pergi.
"Ada baiknya, kamu mencari tahu siapa Gus Anam itu. Bagaimana masa lalunya, dan juga keluarganya."
Aku tida menoleh, hanya menghentikan langkah sejenak. Sebelum benar-benar meninggalkan kamarnya.
Gus Anam? Nggak mungkin!
Let'sLove,
MandisParawansa