"Mas, ini kertas yang warna emas digunting gini doang?" Marningsih menunjukan kertas yang ada ditangannya. "Jelek amat, nggak bisa lebih variatif dikit apa?" Dia mengomel, tapi tetap melanjutkan kerjaannya. "Udah si, tinggal gunting juga. Rempong!" Itu bukan Ayas yang menjawab, tapi Erni. Dia sedang menambahkan lem pada kertas-kertas yang telah dibentuk huruf. Ayas yang menempelkannya pada kain. Kami sedang membuat dekorasi untuk acara Nuzulul Qur'an nanti malam. "Tolong, ambilkan huruf A yang hijau itu." Ayas menunjuk kertas di sampingku. Aku baru mau mengambilnya, tapi Marningsih sudah menyerobot dan memberikannya untuk Ayas. Kelakuannya itu loh, selalu bikin aku tercengang. Kapan dia mau berubah? Dasar Marningsih. Aku selalu dibuat geleng-geleng kepala dengan tingkah absurdnya. "Oh

