Asrul mengambil piring, memindahkan sedikit makanan ke atasnya, lalu pergi ke ruang tamu. Dia lebih memilih sahur di sana sendirian sambil nonton acara televisi. Suara kerupuk yang digigit, menjadi satu-satunya bunyi yang bisa kudengar dari mulutnya. Sudah dua hari ini, aku hampir sama sekali tidak bicara dengannya. Sebenarnya di sini siapa yang salah? Kenapa dia yang terkesan lebih marah dariku? Harusnya kan aku yang marah? Pagi tadi itu bukan pertama kalinya, tapi setiap sahur dan buka puasa, dia selalu milih buat makan sendirian. Dan kalau nggak sengaja papasan denganku, dia akan menghindar, atau membuang muka. Enggan bertatapan langsung. Sekarang, Aku yang membuang wajah saat melewatinya. Yang lebih menjengkelkan dari itu, adalah Ayas yang malah menertawakanku. Keterlaluan! "Kamu ta

