Pesona Gus Ayas

1890 Kata

"Aku mendengarkan," ucapku setelah masuk ke kamar Asrul. Dia malah melenggang santai menuju tempat favoritnya. Kursi rotan di dekat meja, yang berada di sudut kamar. Tepatnya di depan rak buku. Dia memang sering menghabiskan waktu di sana. "Mendengarkan apa? Aku nggak ngerasa ada yang perlu kamu dengar dariku." "Please stop it, Asrul. Aku udah minta maaf sama kamu, kan? Aku juga udah sadar, kalau aku salah. Karena itu aku mendatangimu. Aku mau mendengarkan apa pun yang kamu katakan. Apapun yang kamu tahu tentang bapak, yang aku tidak tahu." "Kenapa? Apa kamu baru kepentok tembok sampai berubah pikiran gitu?" Selalu menyebalkan. Itulah Asrul. Dia masih saja sinis sama aku. "Asrul, kamu boleh marah sama aku, tapi jangan hukum aku dengan merahasiakan tentang bapak." Asrul senyum separo.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN