BAB DELAPAN

752 Kata
Dua mobil Mercy putih berjalan beriringan di jalanan berkelok Jalur Lintas Selatan Gunung Kidul-Bantul. Sekitar dua puluh menit perjalanan, perlahan gerbang masuk menuju The Queen of South Resort sudah terlihat didepan mata. Sebuah tempat VIP telah di pesan Leon melalui telefon untuk acara makan siang mereka setelah lelah dengan aktivitas trabas. Manajer pengelolanya merupakan sahabat lama dari SMA, sehingga kapanpun seorang Leon memesan tempat disana, maka akan dengan mudah dia mendapatkannya. Sepasang muda-mudi yang santer diberitakan saling jatuh cinta, duduk dalam satu mobil dimana Leon mengendarai mobil milik Ivonne. Sedangkan mobilnya di kemudikan oleh Braga yang mengiringi dari belakang. Teman-teman gilanya membuat skenario dengan mengungsikan Stevie dan Joice untuk pindah ke mobil milik Leon. Hal ini dilakukan agar Leon dan Ivonne mempunyai waktu yang lebih banyak untuk mengobrol. Setelah mereka beres memarkirkan mobil, seorang berpawakan tinggi dengan setelan jas datang menghampiri mereka ber tujuh yang baru memasuki lobi. “Sankara Leonaga Chandra.” sapanya sembari memberikan pelukan persahabatan. “Jonathan Hirawan.” Leon menyambut pelukan persahabatan itu dengan gelak tawa. “Ada angin apa pak dokter yang super duper sibuk bisa meluangkan waktu berkunjung kesini. Kamu apa kabar bro?” “Yah beginilah, aku baik-baik saja. Kebetulan kami baru selesai trabas bareng temen-temen Monster Hunter. Karena sejalur, nggak ada salahnya kan kita mampir buat makan siang disini hehehe.” Terlihat Jonathan tersenyum sembari mengangguk-angguk pelan. “I see, selamat datang di The Queen of South Resort. Ehem ... bukan nya ini Ivonne Abigail? Apakah berita yang aku dengar selama ini bisa di konfirmasi IYA? Hehehe.” Jonathan tersenyum sembari memandang wajah wanita cantik yang mengenakan mini dress dengan model kemben berdiri disamping Leon. “Ya ….” Jawab Braga, Alloy, Jimbo, Stevie dan Joice bersamaan. Sementara Leon dan Ivonne nampak terbelalak kaget saat teman-temannya kompak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jonathan. “Kalian apaan si. Jangan timbul gosip baru disini, ya.” Leon melirik teman-temannya dengan raut muka sedikit kesal. Sementara Ivonne hanya tersenyum geli melihat ekspresi lelaki yang special di matanya dibuat kesal. “Haha yasudah Leon, tentunya kalian sudah lapar. Mari aku antarkan ke tempat yang sudah aku persiapkan khusus untuk kalian.” Jonathan mempersilahkan mereka untuk berjalan menuju tempat yang telah dipesan oleh Leon. Sebuah gazebo yang terletak di dekat tebing dengan view langsung menghadap laut selatan telah dipersiapkan. Pemandangan ombak putih menggulung dengan hembusan angin laut rasanya telah mengembalikan tenaga mereka yang sempat terkuras habis dengan begitu cepat. Suara deburan ombak dan suara burung camar yang berputar-putar di atas langit biru menjadi lagu pengiring makan siang kali ini. Terlihat berbagai hidangan seafood dan minuman sesuai pesanan mereka telah tersaji di meja. Seafood adalah salah satu makanan favorit Leon dan Ivonne. Selain enak, kandungan gizi didalamnya tentunya sangat tinggi. Setelah mengucapkan terimakasih kepada Jonathan atas sambutannya, gerombolan anak muda itu langsung menempatkan diri untuk duduk di dalam gazebo. Sementara Ivonne yang duduk di sisi kiri Leon membantu mengambil nasi yang tempatnya memang berada dekat di sebelahnya. “Ciee, udah pantas nih jadi nyonya Leonaga. Iya nggak cuy?” celetuk Alloy menggoda Ivonne. “Itu karena tempat nasinya deket sama Ivonne, Alloy. Makanya dia bantuin.” potong Leon sebelum yang lain ikut memulai aksi kompor nya. “Ya kan bisa ambil sendiri ya, dasar elu nya aja yang pingin diambilin sama cewek cantik.” Braga mulai melakukan aksi kompornya. “Itu karena gue capek nyetir Bragawan, makanya gue males ambil sendiri,” potongnya kembali. "Tinggal bilang iya aja apa susahnya si yon hahaha." Goda Alloy. “Ya ampun kalian tuh ya, katanya capek tapi kalau masalah meledek semangatnya minta ampun. Alloy sama Braga mau aku ambilin juga hhmm? Biar adil.” Ivonne menawari dengan lirikan matanya yang menggoda. “Hehe jangan Ivonne, takut ada yang ngamuk entar kalau kita diambilin juga,” celetuk Alloy. Sementara Leon hanya memejamkan mata merasakan angin sepoi-sepoi yang mendadak membuat serangan kantuk datang secara tiba-tiba. Tangan lembut menyentuh lengannya tatkala Ivonne membangunkan dengan menyerahkan sepiring nasi beserta dengan lauk yang telah dipilihnya. “Makasih ya,” Leon menerima piring dari tangan Ivonne. “Sama-sama, makan dulu jangan sampai telat. Aku nggak mau kamu sakit.” Ivonne memandang wajah Leon yang terlihat sedikit lelah. “Cieeee ….” Sontak semua sahabat-sahabatnya langsung menggoda mereka berdua. Tak mau ambil pusing Leon langsung menyantap makan siangnya. Cacing di perut keroncongannya sudah mulai protes untuk minta diisi. Ivonne hanya tersenyum melihat lelaki yang susah ditebak itu semakin membuat hatinya tertarik. Lamunannya kembali melayang ke masa saat dia kembali dipertemukan dengan lelaki yang membuat dirinya penasaran sejak kejadian di lobi JEC.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN