Kepedihan

684 Kata
" Mel..bangun nak..." panggil Bu Dina sambil mengelus pipi anaknya yang malang. Air matanya mengalir membahasi pipinya. " Permisi..." " Oh ...silahkan dok.." Bu Dina bergegas berdiri sambil menyusut air matanya. saking sedihnya dia tidak menyadari kehadiran dokter diruangan tersebut. Dokter segera memeriksa keadaan Melodi. Beberapa saat hening. " Bagaimana dok...?" tanya pak Hardi harap- harap cemas. Sang Dokter tersenyum. Kemudian menjawab " Dia tidak apa- apa hanya shock saja. Sebentar juga dia siuman. tolong jaga kondisi mentalnya ya..." lanjut sang dokter. " Oh iya Dok..." sahut Pak Hardi. " Dan ini resepnya obatnya, saya permisi dulu " Kata Dokter seraya menyerahkan resep yang baru saja ditulisnya. Kemuadian berpamitan. " Mari saya antar.." kata pak Hardi setelah menerima resep tersebut dan mempersilahkan Dokter untuk pergi. Melodi perlahan membuka matanya, " Maa....." panggilnya lirih. " Iya sayang..." Jawab Bu Dina buru - buru mendekat kearah putrinya. sementara Raditasih membeku ditempatnya bingung musti harus bagaimana. Kejadian yang tidak diduga dan berlangsung sangat cepat. Tak urung membuat ikut shock juga. " Papa kemana..." tanya Melodi " Antar dokter sambil beli obat di apotek gang depan. ada apa sayang" " Apa ada pilihan lain ma..." tanya Melodi lemah " Sepertinya tidak sayang, Pak Prayoga adalah orang yang baik. dan sekarang beliau hanya tinggal dengan putranya semenjak istrinya meninggal. Karena itu Pak Prayoga memilih kamu untuk jadi menantunya karena beliau sudah sangat mengenali sifatmu dan beliau pun sangat menyayangi nak.." Jelas Bu Dina panjang lebar. Melodi hanya tertunduk lesu, sambil memejamkan matanya. " Melodi mau sendiri ma...tolong tinggalin Melodi sendiri, sampaikan juga ke papa ya..." " Baiklah sayang, tapi janji sama mama, jangan berbuat sesuatu yang akan membahayakan dirimu sayang" Kata Bu Dina sambil menncium kening Melodi dan mengusap lembut rambutnya. " Iya ma..." " Mama Pergi ya..." kata Bu Dina sambil menggamit lengan Radit yang masih diam mematung disamping nya. Kemudian keluar dan menutup pintu. Tinggallah Melodi menatap kosong ke kipas angin yang berputar pelan kemudian memejamkan matanya, perlahan air mata mengalir dari sudut matanya. Menangis dalam diam. Berusaha mencerna dengan pasti apa yang baru saja terjadi . *** Agung terlonjak kaget, dan langsung bangun dari rebahan di sofa depan tv ruang tengah rumah Erlangga. "Ngga loe kenapa, kusut amat, bukanya baru jadian, cinta- cintaan kok sekarang semrawut kaya benang kusut begitu." Bukanya menjawab, Erlangga malah berjalan menuju ke arah telpon rumahnya, menekan nomor seseorang. " Bisa kesini " tanya kepada orang diseberang " Oh bisa bro...lagi off nih " " Ok..bawa minuman, lagi pingin relax ". " Siap meluncur..." Setelah menutup telepon Erlangga menghempaskan tubuhnya ke sofa di seberang Agung. tanpa berkata apapun dan langsung memejamkan matanya. Agung jadi terbengong- bengong dibuatnya. Apalagi Erlangga yang barusan menelpon sahabat mereka yang bekerja sebagai bartender di salah satu kafe terkenal dikota tersebut. Tak menunggu lam, sekitar tiga puluh menit sesorang yang ditlpn datang. Dan selama itu Agung hanya terdiam tak berani bertanya lagi. Dia sudah hafal adat sahabat tersebut, jika dalam masalah tak akan pernah berbicara dan hanya diam. " Haloo bro..." sapa pendatang baru sambil mengulurkan tangan. bersalaman ala mereka dari dulu. Mereka adalah sahabat karib sejak bangku SMP. " let' s go..." Sahut Erlangga. Yang langsung menyambar botol alkohol yang dibawa oleh Andri. Tidak lagi menuangkan kegelas tapi langsung ditengak dari botolnya. Agung yang baru keluar dari dapur jadi bengong dibuatnya. Andri dan Agung saling pandang dan duduk sambil memperhatikan Erlangga yang tanpa henti menenggak alkohol di tangannya. Kondisinya sudah tak karuan, wajahnya kusut, rambut dan bajunya berantakan. " Dia kenapa bro.." tanya Andri " Gua gak ngerti bro, 3 jam yang lalu dia baik- baik saja. baru jadian sama gebetan, habis ngerayain ulang tahun do'i, terus anterin pulang, lah sampai rumah jadi kayak gini..bingung gua.." jawab Agung panjang lebar sambil mengerutkan keningnya. " Ya sudahlah..biarkan dia .nanti juga cerita. kita temenin aja dulu" " Oklah..gua minum ya sedikittt..." kata Agung sambil menyeringai. " Tapi jangan sampai mabuk loe..bisa repot urusanya kalau begini.." " beres...." jawab Agung sambil mengacungkan jempolnya. Mereka berdua dengan setia duduk menunggui Erlangga yang sudah mabuk berat. Terlihat yang sebentar tertawa, kemudian diam lagi. Dan mereka hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN