Kisah Melodi
1. Pekerjaan.
Siang yang panas , Melodi duduk di halte pinggir jalan, memperhatikan kendaraan yang lalu lalang dijalankan yang berdebu dan penuh asap. Saking asyiknya dia sangat kaget saat handphone nya berbunyi. Segera di ambilnya handphone dari dalam tasnya.
" Hallo.... Assalamualaikum.." siapanya dengan lembut.
" Walaikumsalam....gimana interviewnya dan sekarang dimana, sudah makan siang belum.." jawaban dari supenelpon itu memberondong Melodi dengan pertanyaan, membuat Melodi tertawa.
" Ih...kamu nanya apa interview juga...
kalau Nanya itu satu-satu...lain ceritanya kalau interview seperti tadi...hihihi" jawabnya renyah.
" Ya kan penasaran aku nya Mel...tapi gimana tadi..." tanyanya kembali.
" Semua lancar, semua pertanyaan bisa aku jawab dengan baik..tinggal tunggu besok...mudah-mudahan ini rejeki ku ya..."
" Amiin...sekarang dimana..aku jemput ya..sekalian makan siang...Aku lapar nih.."
" Ih kok ngajak aku..ngajak si Erika ajah..." Sahut Melodi , memancing rekasi cowok yang menelponnya itu
" Kamu..mau mulai lagi hhhh...." potong cowok itu cepat dengan nada tinggi
" eh tidak...tidak...aku bercanda. Aku dihalte depan kantor...aku tunggu ya..." jawab melodi gugup dan langsung mengakhiri pembicaraan telepon tersebut.
Dia menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya dan menghembuskan dengan kasar. Erlangga. Cowok itu yang selama ini dekat dengan Melodi. Dia selalu memaksa Melodi semaunya sendiri. Apapun tanpa meminta persetujuan dulu. Dan seperti biasa Melodi tak akan bisa menolak.
Pembawaan Erlangga yang sangat tegas dan dingin, bentuk tubuhnya tegap dengan tinggi 180 sentimeter dengan otot- otot yang terlihat kekar karena rajin berolahraga. Juga wajah tampannya, Rahang yang tegas, hidung mancung , mata elangnya dan sepasang alis tebal. Sungguh ciptaan Tuhan yang sempurna.
Tak menunggu lama , Erlangga sampai didepan Melodi. Dengan motor gedenya.
" Hai..." sapa Melodi
" Ayo..." Kata Erlangga sambil menyerahkan helm ke arah Melodi.
Melodi menerima sambil cemberut.
' Kebiasaan si irit bicara huhhh' katanya dalam hati.
Dalam sekejap motor gede Erlangga melaju dengan gesit melewati beberapa kendaraan didepannya.
" Kita mau kemana....." tanya Melodi setengah berteriak.
Bukanya menjawab Erlangga malah menambah kecepatan motornya dan menarik tangan Melodi supaya berpegangan ke perutnya. Dan yang ditarik setengah kaget dengan perlakuan Erlangga, tapi segera menurut memeluk pinggang Erlangga.
Tigapuluh menit kemudian motor berhenti disebuah kafe kebun yang teduh dan asri. Tempat favourite Erlangga. Melodi tetap diam diatas motor sambil menatap sekeliling. Ya karena baru kali pertama Erlangga membawanya kesini. Padahal dia sudah lam bersahabat dengannya. Eh bukan sahabat lebih tepatnya Teman tapi Mesra.
" Mau turun atau tetep disitu saja "
" Eh iya..." Jawab Melodi gugup sambil turun dari motor dan langsung ditari Erlangga masuk kedalam restoran dan masuk ke saung paling ujung dari deretan saung yang ada di restoran tersebut.
Setelah mereka duduk seorang pelayan menghampiri mereka.
Seperti biasa Erlangga memesan makanan dan minuman tanpa bertanya dulu pada Melodi.
" Mel...." Panggilnya
" Hem...".. jawab melodi tanpa mengalihkan pandanganya dari handphone nya. Membuat Erlangga gemas dan langsung merebut Handphone dari tangan Melodi.
" Ih kamu kebiasaan deh..aku kan lagi lihat barangkali ada yang penting" Katanya sambil cemberut.
" Makanya kalau aku ngomong jangan dicuekin " Sahut Erlangga sambil memasukkan handphone itu ke saku celananya.
" Ih Angga bawa sini..." kata Melodi sambil berusaha merebut Handphone dari Erlangga. Tapi karena Erlangga sudah keburu memasukkan ke dalam saku celana nya. Melodi menarik tangan Erlangga, bukannya tangan Erlangga yang ketarik tapi Melodi yang malah jatuh ke pangkuan Erlangga dalam sekali sentak.
Melodi sangat kaget, dia berusaha bangun tapi Erlangga memeluk erat pinggangnya. Mata mereka saling bertatapan, sangat dalam, seakan berbicara. Tanpa sadar Erlangga menundukkan wajahnya dan bibir mereka hampir saja bertemu, kalau pelayan pengantar makanan tidak datang.
" Maaf mas..mbx..." kata pelayan itu salah tingkah. Sambil meletakan makanan dan minuman keatas meja. Sedangkan Melodi, meloncat kembali ke tempatnya duduk.Tak terbayangkan alangkah malunya dia. dan sudah pasti wajahnya sudah seperti tomat . Merah merona. Berbeda dengan Erlangga yang terlihat santai seperti tidak terjadi apa pun.
" Silahkan..." kata pelayan itu, yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban sambil cengengesan dan geleng - geleng kepala.
" Makan.." kata Erlangga santai.
Melodi diam saja tanpa menjawab dan langsung makan dalam diam.