"Ada apa?" tanya Bumi mendekati Moza dan duduk di sebelahnya. Dia sedikit takut melihat raut tak mengenakkan dari istrinya itu.
Moza mengangkat telapak tangannya hendak menampar Bumi. Pria itu bersiap akan menahan tangan sang istri, tapi kemudian Moza berhenti dan mengepalkan telapak tangannya erat.
Bumi bisa melihat kini mata istrinya berkaca-kaca. Moza menurunkan telapak tangannya ketika Bumi mencoba meraihnya.
"Bumi, mari bercerai!" ucap Moza dengan mata memerah menahan tangis. Dia tidak sanggup jika harus dikhianati.
Bumi menatap lekat istrinya itu. Dia jelas sangat terkejut, sebab pagi tadi semuanya baik-baik saja.
Bumi menghirup napas dalam. Dia mencoba menggenggam telapak tangan Moza, meski dengan perlawanan keras.
"Coba katakan alasannya?" tanya Bumi.
"Alasannya?" Moza tersenyum sinis. "Kamu seorang pembohong!" serunya dengan napas tak beraturan saking emosinya.
Bumi mencoba tenang, walau jantungnya berpacu hebat. Apa Moza sudah tahu identitasnya?
Tidak, Moza pasti belum tahu hal tersebut. Dari raut wajah sang istri tercetak bahwa dia sedang sakit hati.
"Kebohongan apa yang aku lakukan?" Telapak tangan Bumi mengusap pipi Moza. Wanita itu dengan cepat memalingkan wajah.
"Bumi, kamu pandai sekali bersandiwara!" sahut Moza terdengar dingin.
Ketika Bumi ingin membalas kembali, terdengar suara adzan berkumandang.
"Kita lanjutkan lagi nanti. Ayo sholat berjamaah," ajak Bumi.
Tadinya Moza ingin menolak, tapi tatapan teduh pria itu membuat kata penolakan pun tersangkut di kerongkongan.
***
Lara mengetuk pintu kamar putrinya untuk mengajak Moza dan Bumi makan malam. Bumi membuka pintu dan berkata jika mereka tidak akan makan malam bersama kali ini, meminta Lara makan lebih dulu.
Ketika Lara datang sendiri ke meja makan, Tommy dan kedua orang tuanya tersenyum. Bram serta Vahira juga sudah tahu kejadiannya dari Tommy dan mereka terlihat senang jika nantinya Bumi dan Moza bertengkar hebat, lalu memutuskan bercerai.
"Lara, kenapa putri dan menantumu tidak makan bersama? Biasanya mereka selalu pamer kemesraan," tanya Vahira dengan ekspresi menyindir.
Lara tidak menjawab. Entah mengapa, dia merasa ada ketegangan antara Moza dan Bumi.
"Tante makanlah yang banyak sebelum mendengar kabar buruk," kata Tommy. "Tapi, kabar buruk untuk Tante, mungkin akan menjadi kabar baik untuk kami."
Lara melirik pada Tommy. Dia cukup khawatir, pasti Tommy berbuat sesuatu.
Sementara di kamar, Bumi dan Moza kembali duduk berhadapan di atas tempat tidur mereka.
Ketika Bumi berusaha mendekat, Moza menatap tajam. "Jangan mendekat!" serunya.
Namun, Bumi memilih memeluk Moza. "Pasti ada salah paham. Ceritakan dengan tenang."
Moza awalnya ingin memberontak, tapi dia merasa percuma. Tubuhnya bergetar dan akhirnya air matanya pun tumpah.
"Kenapa kamu selingkuh?" Moza sangat percaya pada Bumi, dan setelah ini dia mungkin tidak akan bisa percaya pada orang lain lagi.
"Aku tidak pernah selingkuh," balas Bumi dengan tegas sembari memandang wajah sang istri yang basah oleh air mata.
Moza menatap mata suaminya, tidak bisa langsung percaya. "Kamu lelah mengurus istri cacat sepertiku? Pergilah, aku tidak akan mengikatmu lagi."
Moza tak akan menahan. Dia tidak ingin lebih sakit hati di kemudian hari.
"Kamu tahu, aku sempat berpikir pernikahan kita tidak buruk karena walau kadang kamu menyebalkan, tapi kamu memperlakukanku dengan baik dan selalu membelaku. Namun, aku sadar mungkin hanya aku yang beranggapan seperti itu. Bagimu, aku adalah beban yang meminta bantuan setiap saat—" ucap Moza, mulai berbicara dengan hati terbuka.
"Aku tidak pernah berpikir istriku adalah beban." Bumi memotong ucapan Moza yang membuatnya sedih. Dia mencium kening istrinya itu cukup lama, kemudian lanjut berkata, "Aku juga berpikir pernikahan kita tidak buruk dan cukup menyenangkan."
"Kenapa kamu berbohong?"
"Aku tidak berbohong dan aku juga tidak selingkuh," jawab Bumi penuh ketegasan. Telapak tangannya menghapus jejak air mata istrinya itu.
Bumi perlahan tersenyum. "Istriku yang biasanya pemarah, tidak disangka punya sisi cengeng."
"Menyebalkan!" Moza memukul d**a Bumi. Awalnya memang dia ingin marah-marah, tapi entah kenapa berhadapan dengan Bumi langsung, dia menjadi lemah dan menangis. "Aku sedang serius, kamu malah mengejekku."
"Baiklah sekarang aku tanya, kenapa bisa-bisanya kamu menuduhku selingkuh? Aku sungguh kecewa padamu."
"Kenapa kamu yang marah?" Moza menatap kesal sang suami.
Dalam hati, Bumi lega karena sang istri sudah kembali bersikap seperti biasa. Ini berarti wanita itu jauh lebih tenang. "Moza, tuduhan perselingkuhan adalah yang paling membuatku sakit hati daripada tuduhan yang orang lain katakan selama ini."
"Itu kenyataan. Kamu mendapat kiriman makanan dari perempuan lain dan mengatakan bahwa makanan itu kiriman istrimu, padahal aku tidak mengirimkan apa pun. Jadi, makanan itu kiriman dari istrimu yang mana?!" seru Moza.
"Ternyata itu masalahnya." Pasti ada yang memberi tahu Moza. "Makanan itu dari kakakku. Dia pergi dari rumah dan kabarnya sudah menikah dengan orang kaya. Dia tahu aku bekerja di sana dari pesta pernikahan Nancy. Sepertinya dia hadir di pesta itu, tanpa aku sadari. Sampai sekarang entah karena alasan apa dia belum mau bertemu dengan kami keluarganya." Bumi menyelipkan sedikit kebohongan mengenai kakaknya yang sudah menikah, tapi yang ia tidak ketahui kakaknya benar-benar sudah menikah.
Moza bisa melihat bahwa Bumi sangat merindukan kakaknya itu. Dia cukup yakin sang suami tidak berbohong. "Kamu ternyata punya kakak. Mama Starla terlihat begitu muda, aku kira kamu anak pertama."
Bumi tersenyum. "Sebenarnya dia memang kakak sepupuku, tapi kami tumbuh besar bersama dan bagiku dia kakak kandungku." Bumi menceritakan sedikit tentang keluarganya minus dirinya dari keluarga kaya dan kakaknya bernama Venus. Bumi menyebut kakaknya bernama Alula, nama belakang Venus.
"Semoga kamu, Mama, dan keluarga kalian bisa cepat bertemu dengan Kak Alula." Moza ikut mendoakan.
"Aamiin." Bumi tersenyum. Dia mengacak rambut Moza, membuat wanita itu menggerutu.
Ketika Moza mencoba memperbaiki rambutnya, dia mendapat kecupan tiba-tiba di bibirnya. Moza terbelalak, wajahnya perlahan memerah. Bumi sendiri menahan senyum, memandang ke depan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Kepalan tangan Moza memukul-mukul bahu suaminya itu, melepaskan rasa malunya.
Bumi kembali memeluk Moza. "Oh iya, tidak lama lagi, karena kontrakku hampir habis, aku tidak akan memperpanjang dan keluar dari perusahaan."
Moza mengangkat kepalanya. "Baguslah, kamu bisa mencari pekerjaan yang lebih baik."
"Padahal aku ingin menggantungkan hidup pada istriku, menempelinya tiap hari agar dia tidak cemburu seperti tadi."
Moza yang mendengar itu memukul Bumi lagi. "Harus kerja!"
Pria itu justru tertawa. Baginya tidak perlu lagi menjadi office boy karena Venus juga sudah mengabari jika dia baik-baik saja.
"Kalau kamu dapat pekerjaan yang baik, aku akan membeli motor untukmu," ucap Moza setelah puas memukul suaminya. Dia memang punya niatan seperti itu sebelumnya.
"Bagaimana dengan mobil, kita bisa lebih mudah pergi berkencan," goda Bumi tersenyum.
"Uang dari mana!" Moza melempar bantal pada suaminya itu. Dia memang ingin membeli mobil lagi, tapi uangnya masih jauh dari kata cukup.
Sebenarnya Bumi bermaksud membeli mobil, sayangnya dia harus berkata apa? Tidak mungkin menang lotre.
Mengenai mobil, Bumi kembali teringat pada kecelakaan yang dialami Moza. Polisi mengatakan bahwa itu tidak ada unsur kesengajaan, murni karena kondisi mobil yang buruk dan memerlukan perawatan. Namun, Bumi merasa ada yang ditutupi di sini.
"Kenapa?" tanya Moza melihat ekspresi sang suami berubah serius.
Bumi kembali tersenyum. "Tidak apa-apa. Ayo makan malam," ajaknya dan Moza segera mengangguk.
Sementara di luar kamar, Tommy, Bram, dan Vahira, setelah makan malam, sengaja duduk terlebih dahulu di ruang TV yang dekat dengan kamar Moza untuk memantau keributan di dalam kamar itu. Namun, sampai saat ini belum terdengar suara keributan atau barang-barang dibanting dari dalam sana.
Lara bermaksud mengetuk kembali kamar itu untuk melihat keadaan putri dan menantunya, tetapi belum sempat, Bumi dan Moza sudah keluar dari kamar, ekspresi mereka terlihat baik-baik saja. Ini membuat Lara lega.
Di sisi lain, Bram, Vahira, dan Tommy saling lirik. Apa keduanya memilih untuk berdamai? Rasanya Moza bukan orang seperti itu.
Belum lagi, Bumi mengabarkan sesuatu yang membuat Vahira lemas. Namun, ini kabar baik bagi Lara.
"Besok lusa, mamaku mau ke sini, Ibu. Aku harap Ibu, Ayah, dan Tante Vahira tidak keberatan. Beliau juga mungkin menginap."
Mendengar kata mama Bumi akan menginap, Vahira rasanya ingin mengungsi.