Beberapa hari ini kediaman Pramana cukup suram, masih karena alasan hari pernikahan Nancy dan Kelana yang berakhir dengan hujatan.
Sekarang keluarga itu sedang sarapan. Semenjak ada Bumi, Moza dan Lara turut makan bersama di meja makan. Bahkan, mereka lebih menguasai percakapan, daripada Bram, Vahira, dan Tommy.
"Kamu mau saus?" tanya Bumi yang melihat istrinya memandangi itu.
Moza mengangguk dan Bumi segera mengambilkannya. "Sedikit saja."
Adegan manis suami istri itu membuat Tommy tak berselera makan.
Hinaan yang Tommy terima sangat banyak, ditambah dengan Evelyn belum mau berbicara dengannya. Emosinya semakin tidak terkendali melihat keharmonisan Bumi dan Moza. Terlebih mereka tampak baik-baik saja, di tengah omongan tak mengenakkan tentang keluarga Pramana.
Sejak Bumi datang, pria itu justru layaknya tuan rumah, padahal statusnya paling rendah di rumah ini. Tommy sangat menyesal mengusulkan Bumi untuk bertanggung jawab atas Moza. Ternyata pria itu sungguh tidak tahu malu.
"Harusnya office boy rendahan sepertimu jam segini sudah sampai di kantor!" seru Tommy membanting sendok.
Bumi melirik Tommy sekilas. "Kau berbicara denganku?" tanyanya santai.
Tommy merasa jengkel dan segera bangkit, dia ingin melempar kursi, tapi Bram mencegah itu.
Bram juga menatap sinis ke arah Bumi. Harusnya dia tidak meminta Bumi menikah dengan Moza.
Seketika Bram dan Tommy memikirkan hal yang sama yaitu bagaimana cara agar dapat mengusir Bumi. Jalan satu-satunya adalah jika Moza mengusirnya. Hubungan keduanya harus rusak.
"Bumi, bukan berarti karena kau menjadi menantu keluarga ini, kau bisa seenaknya!" seru Bram. Bumi melirik malas ayah mertuanya itu, padahal dirinya sama sekali belum telat.
Karena tidak mau berdebat, Bumi beralih pada Moza, kemudian menggenggam telapak tangan istrinya itu. "Aku pergi, ya," pamitnya.
"Hem, hati-hati," balas Moza yang sudah terbiasa dengan perlakuan lembut Bumi. Dia juga tak lagi berbicara kasar pada suaminya itu. Bisa dikatakan semakin lama bersama, mereka semakin rukun.
Setelah Bumi pergi, Moza memilih dengan cepat menyelesaikan sarapannya dan meninggalkan meja makan tersebut. Moza akhir-akhir ini tengah disibukkan dengan membuat desain satu set perhiasan terbaru. Ini untuk sebuah lomba dari perusahaan besar. Hadiah pemenang lumayan besar dan jika setelahnya diproduksi, dia akan mendapat persenan cukup besar pula dari setiap setnya. Vega yang memberitahukan ini padanya beberapa hari lalu.
***
Sementara Bumi di perusahaan Pramana melakukan pekerjaannya seperti biasa. Seluruh karyawan di sini sudah tahu bahwa dirinya adalah menantu keluarga Pramana. Itu karena resepsi pernikahan Nancy banyak mengundang karyawan. Meski begitu, sebagian besar dari karyawan di sini tidak peduli atau pun menganggapnya rendah karena dia menantu yang tak disukai. Terlebih citra Moza di perusahaan ini sangat buruk, padahal istrinya itu tak pernah bekerja di sini. Sudah jelas bahwa semua adalah ulah Nancy yang menjelekkan istrinya. Moza tidak seburuk itu.
"Bumi, ada yang mencarimu di luar," beri tahu salah satu rekan Bumi.
"Siapa?" tanya Bumi yang bersiap akan membeli makan siang.
"Sepertinya pengantar makanan. Kau pesan makanan di restoran?"
"Mana mungkin."
"Atau istrimu?"
"Nah, kalau itu bisa jadi."
"Beruntung sekali."
Hubungan Bumi dengan rekan sesama petugas kebersihan di perusahaan periklanan ini, memang baik. Bumi juga sudah menceritakan mengapa dia bisa menjadi menantu bos.
Mereka justru merasa kasihan karena menganggap Bumi pasti sering ditindas oleh keluarga kaya itu. Lihatlah posisi Bumi tetap menjadi office boy, tidak dinaikkan, padahal semua tahu Bumi tidak seharusnya menjadi office boy dengan kualifikasinya.
Bumi keluar dan mengambil makanan tersebut yang merupakan makanan dari restoran besar. Di dalamnya terdapat berbagai lauk dan tampak enak. Namun, fokus Bumi bukan itu, tapi pada surat yang terdapat di sana. Bumi bergegas membacanya dan jelas mengetahui tulisan siapa itu.
"Adikku Bumi, apa kamu makan dengan baik? Maafkan kakakmu yang bodoh dan buruk ini. Karena Kakak, kamu jadi bekerja menjadi office boy. Karena Kakak, kamu dipaksa menikah.
"Bumi, Kakak baik-baik saja. Kakak terlalu malu untuk pulang sekarang, tapi Kakak pastikan akan kembali dan menceritakan semua yang terjadi. Tidak perlu mencemaskan dan mencari keberadaan Kakak. Sampaikan maaf Kakak pada Papa, Mama, juga yang lain. Oh iya, selamat atas kelulusanmu Bumi, maafkan Kakak yang baru bisa mengatakannya sekarang."
"Kak Venus," gumam Bumi terdengar sedih. Meski dalam surat Venus mengatakan baik-baik saja, tapi Bumi tetap khawatir. Dia yakin ada hal besar yang terjadi pada Venus sehingga kakaknya itu sangat malu untuk kembali.
Selang beberapa hari, Bumi mendapat kembali makan siang dari restoran yang berbeda, Venus sepertinya tidak ingin dilacak keberadaannya. Di kotak tak ada lagi surat panjang, tapi tertera tulisan dari Venus. Para petugas kebersihan lain mengira itu adalah kiriman dari Moza.
Sampai yang ketiga kalinya, Tommy tidak sengaja melihat Bumi dikirimi makan siang dengan bungkusan dari restoran mewah.
Dia diam-diam mengamati Bumi yang sedang makan bersama para pekerja lainnya. Bumi pun turut menawarkan kepada rekan kerjanya.
Salah satu office boy keluar dan segera ditarik oleh Tommy.
"Ada apa, Pak?" tanya office boy itu takut-takut.
"Siapa yang mengirimkan makanan pada Bumi?" Tommy balik bertanya.
"Pengantar makanan, Pak," jawab pria itu.
"Maksudnya siapa yang pesankan? Tidak mungkin dia yang memesannya sendiri!"
"Oh itu, dari istrinya, Pak," balas rekan kerja Bumi itu sepengetahuannya.
Tommy mengernyit. Dia mengenal bagaimana Moza dan rasanya tidak mungkin Moza sepengertian itu.
Kemudian Tommy tersenyum remeh. Lagaknya seperti orang suci, tapi tidak tahunya Bumi sudah mendapat incaran perempuan kaya baru. Itu hanya tebakannya, tapi Tommy yakin benar. Bagaimana reaksi Moza, jika dia memberi tahu hal ini.
Tommy mengorek informasi kembali, ternyata sudah tiga kali Bumi dikirimkan makan siang oleh seseorang dengan hidangan mewah.
Dia meminta office boy itu menutup mulut. Tidak memberi tahu Bumi apa yang ia tanyakan. Rekan kerja Bumi itu akhirnya merasa ada yang salah. Jangan sampai Bumi terkena masalah karena ucapannya.
***
Tommy lebih dulu pulang karena ingin menemui Moza. Bahkan, ketika tiba di rumah, pria itu langsung mengetuk pintu kamar Moza.
"Masuk!" suara Moza dari dalam kamar terdengar. Saat Tommy membuka pintu, Moza sedang sibuk dengan layar tabletnya.
Moza yang melihat ternyata Tommy yang masuk ke kamarnya langsung berubah sinis.
"Ada apa?!" tanyanya ketus.
Tommy tersenyum penuh arti. "Sebagai Kakak, aku kasihan padamu."
"Tidak perlu basa-basi. Katakan intinya!" seru Moza merasa muak harus satu ruangan dengan Tommy.
"Kamu yang cacat mana mungkin tahu kelakuan suamimu di luar sana. Memang sulit mencari pria yang tulus menikahi wanita cacat."
"Apa maksudmu?" Moza mengernyit. Dia bisa melihat bahwa Tommy bermaksud mengatakan hal buruk tentang Bumi.
"Bumi selingkuh di belakangmu. Dia punya perempuan lain yang mengirimkan makan siang mewah untuknya. Aku yakin itu bukan kamu, tapi dia berkata kepada pekerja yang lain bahwa makanan itu istrinya. Apa jangan-jangan dia punya istri selain kamu?"
Wajah Moza berubah muram. "Jangan memfitnah Bumi!" teriak Moza, dia jauh lebih percaya pada suaminya. Tommy pasti ingin hubungannya dan Bumi hancur.
"Kamu tidak percaya, dengarkan ini!" Tommy merekam percakapannya dengan salah satu office boy tadi.
Setelah mendengarnya, Moza menggeleng cepat. "Bisa saja orang yang berbicara itu suruhanmu!"
Tommy masih punya satu bukti lagi, dia memperlihatkan video ketika Bumi mengambil makan siangnya. Dia mendapatkan video tersebut dari CCTV. "Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas kakakmu ini sudah berbaik hati memberitahukan."
Tommy melihat ekspresi Moza yang tampak sakit hati, sepertinya wanita itu sudah benar-benar percaya.
Tommy berbalik dan keluar dari kamar tersebut. Wajahnya tampak penuh kemenangan. Bumi pasti tidak dapat membantah.
Menjelang magrib, Bumi baru kembali. Dia membelikan camilan untuk Moza yang akhir-akhir ini tampak bekerja keras.
Saat masuk kamar, dia melihat Moza sedang melamun.
"Moza?" panggil Bumi. Perlahan wanita itu menoleh ke arahnya, tatapan Moza benar-benar berbeda dari biasanya. Ini membuat Bumi merinding.