Bab 9. Fakta

1138 Kata
Masih di dalam mobil, perjalanan menuju ke rumah kos Aizha. Aku gak tau gimana, cuman rasanya kek yang dah deket aja gitu, sama dia. Aku juga jadi lebih lepas, kalo' ngomong. Biasanya agak susah bagiku memulai suatu pembicaraan dengan orang baru. Benar-benar positif aura, nih, anak. Buat orang ikutan tenggelam dalam ceritanya. Sampailah akhirnya, entah di mulai dari kapan, dia bercerita tentang yang di alaminya. "Dia ituu sebenarnya, pacarku. Lebih tepatnya mantan, mungkin, yaa.." selalu sama, ada senyum yang mengiringi di setiap kata-kata yang terlontar dari bibirnya yang merah. "Truss.." tanggapku cepat, biar dia lebih nyaman bercerita. "Akuu.. hamil... anaknya". Hening... Aku pun bingung mau nanggepinnya gimana? Kulihat, dia mengelus lembut perutnya yang masih terlihat rata. Mungkin masih beberapa bulan, di awal kehamilan yang kutahu kan emang perutnya belum keliaten, yaa.. Senyumnya terbit, tapi.. ada rasa sakit yang kurasakan. Apalagi lengkap dengan, terlihatnya kristal bening mulai berkumpul di matanya. "Hehehe... Aku cengeng yaa? Kalo' keinget hal yang sensitif gini, bawaannya mau mewek aja." ucapnya bergetar, karna menahan isakan. Tapi, tetap lolos juga kristal bening itu terjatuh di pipi mulusnya yang sudah merona merah. Aku gak tega liatnya. Sumpah weee... Pengenku hapus rasanya tuh air asin. Tapi, kan, aku lagi nyetir ini ceritanya. Gak lucu kan, ya, gegara ngusap air asin itu, kami jadi celaka. Nabrak pohon masih mending, Lah, kalo' nyemplung masuk ke got, gimana? Susah kan??? Gak usah di bayangin juga, hoooyyy... "Ehemm.." kok tiba-tiba jadi gugup gini coba? "Udah.. Gak usah di tangisin yang gak perlu. Jalani selagi mampu. Ikhlasin aja yang dah berlalu. Tetap kuatin hati, gimana caranya supaya tetap sehat. Demi "dia" juga kan?" "Hmmm.. Huuuhhh.. Agak sedikit berkurang rasa sesak yang sempat mandek tadi, di dada." senyum lagi, manisseee... "Makasih ya, bang dah mau direpotin gini.." "Gak repot sama sekali, kok. Kan naek mobil, bukan di gendong. Hmm..." "Hehehe... Iya iyaaa.." "Kamu.. disini punya sodara? Yaa.. kan biasanya anak perempuan itu, gak boleh di biarin sendiri. Walaupun ngekos, tapi tetep ada sodara yang merhatiin." aku mulai mencoba jadi Intel ini... Bukan Indumi-tilur yeee.. Nyoba peruntungan, mencari tahu lebih tentang dirinya. Beneran gak tega weee... Lagi halim gitu, kok, yaa sendirian. Rasanya pasti bingung, kan??? "Aku.. emang sendirian, bang. Orang tuaku, dah lama meninggal. Aku, anak tunggal. Sodara juga gak tau ada dimana. Soalnya, kami dulu hidupnya pindah-pindah di bawa sama bapak. Karna waktu itu bapak juga kerjanya gak netap". Oaleee... Lengkap sudah derita yang di tanggungnya sendiri itu. "Jadi, nanti pas lahirannya, gimana? Bukan maksud apa-apa, cuman kan, yaa disini susah loohh melahirkan tanpa suami. Apalagi tanpa status pernikahan. Dah, kepikiran buat ke depannya, gimana?" keknya pertanyaanku sulit yaaa.. Soalnya, dia kek yang mikir keras gitu. Buat jawabnya aja, tuh bibir dah bolak-balik ke buka, cuman ngatup lagi. Bingung kali dia, yaa, mo jawab apa? "Hmm.." "Gak usah di jawab, kalo' emang belom tau mo jawab apa. Karna memang bukan perkara mudah. Pikirin secara mateng-mateng, gimana ke depannya nanti. Bukan cuman tuk mu, tapi juga demi anakmu. Rasaku, tiap anak yang lahir tetap fitrah. Gak ada itu, yang kata orang apalah itu, kan? Ibarat kertas, dia masih putih. Tergantung yang mengasuh nanti gimana? Itu yang membentuk karakter si anak kelak, sampai dewasanya." lebar kali tausiyah eehh ceramah, ck.. kata-kataku barusan. Mudah-mudahan pahamlah dianya, yaa.. "Iya, bang. Abang betul. Anakku ini nantinya yang akan mengubah duniaku menjadi lebih berwarna, dan lebih hidup lagi" sambil elus-elus perut, dia ngomong. Seakan sedang mencurahkan segala kasihnya ke si calon baby. Adem liatnya. Aku jadi keinget, kalo' aja waktu itu aku bisa lebih ngayomin kesayanganku itu, pasti sekarang dia jauh lebih bahagia lagi. Keluarga kami juga ramai, karna hadirnya satu makhluk perusuh yang membuat semua orang takjub akan segala tindakannya. Tapi.. itu semua cuma hayalanku belaka. Nasi dah jadi bubur. Jadi, nikmatin aja apa yang tersedia di depan mata. Tak terasa, sampai juga di depan rumah kos tempat tinggal Aizha. Aku tak berniat turun lagi, karna sudah malam. Lagian gak enak nanti, kalo' ada yang lihat si Aizha pulang malam-malam di anterin cowok cakep kek, aku, ini. Hehehe "Makasih, ya, bang. Dah repot nganterin aku pulang". "Iya... Kembali kasih. Ya udah, gih, sono masuk. Dah malem, gak baek angin malem buat ibu hamil, kek, kamu". "He-emm.. Sorry juga, aku gak bisa nawarin mampir. Soalnya, dah malem." di katupkannya tangannya di depan dadaa. "It's okay lah.." "Aku, masuk ya, bang. Hati-hati di jalan." sambil lambaikan tangan, dia berlalu masuk ke dalam rumah kosnya. Kubalas lambaian tangan itu, sambil tersenyum tipis. Lalu, kulajukan kembali mobil ke lapangan tempat kami ngumpul tadi. Kok, aku jadi tiba-tiba kepikiran Aizha, yaa... Apa dia bakalan baik-baik aja? Apa dia bakalan kuat? Apa dia sanggup menjalani semuanya sendirian, tanpa ada yang mendukungnya satu orang pun? Termasuk si bajing satu itu, yang dari singkat cerita tadi, kuyakini lari dari tanggung jawabnya. Memang, laahh.. Jang inem si bo dat satu itu!! Kok, aku yang palak, ya??? Kok, aku yang panas??? Kok, aku yang bingung jadinya??? Aahhh... kak-kok kak-kok aja pun, daritadi!!! Hadeeeeehhhhh Dewandra sendiri tak menyadari, kalau ternyata dia sudah menaruh hati walaupun masih secuil bakwan. Dari rasa yang awalnya kasihan, ada rasa simpati, dan empati yang hadir bersama menghadirkan rasa masih berupa nano-nano. Rasa yang belum jelas terlihat muncul di permukaan. Masih butuh waktu, dan perjalanan yang panjang bagi Dewandra tuk bisa menafsirkan makna tersirat yang ada di hatinya. Itulah, seorang Dewandra. Dengan segala kesempurnaan fisiknya, tapi lemah di rasa peka. Peka akan hatinya sendiri, bahkan peka pada perasaan orang yang ada disekitarnya. Bukan salahnya juga, siihh karna dia terlalu fokus menjaga sang adik. Sampai akhirnya hatinya dipatahkan oleh kenyataan pahit sang adik. Masih terlalu sakit, dan selalu di bayangin rasa bersalah, ituuu gak ada enaknya loh weee... Merasa gagal, merasa hancur, sakit sendirian. Itulah yang di alaminya setelah kejadian pahit itu terkuak. Di rumahnya sendiri, dan dengan mata kepalanya sendiri, dia menyaksikan sang adik bersimbah darah karna berusaha mengakhiri hidup yang terlalu berat tuk di pikulnya sendiri. Dengan sisa tenaga yang ada, dia larikan sang adik ke rumah sakit terdekat. Tapi naas, sang adik sudah pergi tuk selamanya sedari awal dia menemukannya. Hari itu, bukan hanya luka tuk Dewandra seorang. Tapi juga luka bathin bagi sang ibu. Menemukan fakta lain dari kenyataan yang sesungguhnya, bahwa sang anak telah dinyatakan hamil dan sang pacar hilang bagai di telan bumi. Hujan rintik-rintik pun mengiringi kepergian sang adik, seakan bumi pun menangis, mengasihi nasib sang adik. Dewandra yang semula sudah diberitahu oleh sang adik, berharap dapat kekuatan dari abangnya. Malah diacuhkan, dan didiamkan atas dasar rasa kecewa yang mendalam. Merasa tak berguna, dan hanya membuat kecewa orang-orang yang disayang, akhirnya sang adik nekat mengakhiri hidupnya. Dan, hari itu, dimana hari Dewandra mencoba tuk berdamai dengan keadaan yang ada. Menerima dan menjadi tameng tuk sang adik. Tapi, sia-sia yang didapatkannya. Kata terlambat tak pantas lagi diucapkan. Cuma penyesalan yang berpanjangan, yang selalu datang menghampiri kini, esok, entah sampai kapan..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN