Bab 1. Hancurnya hati
Plaakk
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus seorang wanita.
"Aku, kan, dah bilang, gak usah cari-cari aku lagi!" bentak pemuda itu dengan lantangnya. Bahkan dia sudah tak peduli andai mereka dijadikan tontonan gratis orang-orang disekitarnya saat ini.
Rasa panas yang menjalar dari bekas tamparan tadi, menusuk hingga ke hati. Cuma deraian airmata yang bisa menggambarkan betapa hancur hatinya.
Dengan menguatkan hati, si cewek mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk. Sebelah tangannya, masih setia berada di pipi putihnya yang memerah dan basah. Sambil tersenyum, dipandangnya pemuda yang sampai saat ini masih mengisi relung hatinya yang paling dalam.
Dia adalah Aizha, Aizha Fahira. Yang sedang menemui kekasih hatinya, Satria Bahari.
"Aku... kangen." cuma dua kata itu yang sanggup diucapkannya. Itu pun dengan suara yang bergetar, menahan isakan yang hampir lolos dari bibir manisnya.
"Aku gak peduli! Aku gak mau kita ketemu lagi! Anggap aja kita gak pernah saling kenal!" Satria berucap dengan menggebu.
"Tapi... itu gak mungkin, kan, Sat? Karena diantara kita sekarang ada..." belum selesai ia berucap, sudah dipotong oleh sang kekasih hati.
"Gak ada apa-apa! Dan gak usah berharap apapun dariku!" lagi-lagi hanya bentakan yang didapatkan si cewek manis, Aizha.
Rasa sakit itu makin menghujam ulu hatinya. Apalagi mendengar ucapan sang kekasih yang seakan tak punya hati. Sambil menutup mulutnya yang terbuka karena terperangah, Aizha makin terisak tertahan. Dire masnya baju kaos bagian da da yang dikenakannya, seakan sedang mere mas hatinya yang tak terlihat. Mencoba tetap menguatkan hati.
"Ta...tapi Sat..." ucapnya tergugu. Belum selesai ucapannya, melayang kembali tangan si pemuda kepadanya.
Hampir
Karena ternyata, ada yang menahan tangan sang kekasih sebelum mengenai pipi mulusnya. Lagi.
Aizha sudah pasrah menerima, ketika dilihatnya sang kekasih kembali hendak menamparnya. Yang bisa dilakukannya hanya merapatkan mata, pasrah.
Tapi kemudian, tak ada dirasakannya kembali perih itu mengenai pipi mulusnya. Sampai suara seseorang yang lainnya mengembalikan kesadarannya.
"Woy! Jangan beraninya sama cewek aja! Banci ya gini, maenannya perempuan lemah!" bentaknya memperingati dengan mata melotot, sambil menahan geram mempererat menggenggamnya pada pergelangan tangan Satria.
"Cih... gak usah ikut campur!" ditariknya tangan yang tadi hendak melayangkan tamparan kembali, tapi terhalang oleh tangan orang lain.
"Jelas jadi urusan kita boy! Ini daerah umum. Siapapun yang liat dan punya hati pasti bertindak, atas kelakuan bina tang mu!" tantang yang lainnya.
Ternyata, sudah ada beberapa pemuda yang ikut terlibat di sekitar mereka.
Flashback
Aku baru pulang dari bekerja di sebuah kafe. Aku bekerja sebagai penjaga kasir. Ketika langkahku baru turun dari angkot, terdengar bunyi notifikasi dari ponsel. Setelah membayar ongkos angkot, kuambil ponselku dari saku celana kulotku.
Ternyata, ada pesan masuk dari salah satu temanku. Dia mengirimkan pesan gambar. Ketika kuklik, terlihatlah isi pesan tersebut. Wajahku langsung pias, melihat gambar apa yang dikirimkannya. Disitu terlihat, Satria, kekasih hatiku sedang dipeluk mesra oleh seorang perempuan dari belakang, diatas motornya.
Motor, yang selama ini selalu mengantar jemputku kerja.
Motor, yang selama ini membawaku berkeliling kota bersamanya.
Terasa ada yang menusuk hatiku. Air mataku menetes membasahi ponsel yang saat ini sedang kupandangi. Tanganku pun ikut bergetar. Sakit yang kurasa saat ini seakan meluluh lantakkan segalanya.
Aku tak percaya, dia begitu tega padaku.
Baru seminggu yang lalu kami bertemu. Membicarakan tentang kelanjutan hubungan kami. Dia memang memilih mundur, seolah acuh tak acuh padaku lagi.
Kupikir, itu semua karena dia masih bingung ingin mengambil sikap.
Kupikir, dia masih butuh waktu untuk memikirkan hal apa yang seharusnya dilakukan.
Ternyata aku salah, dia memang merealisasikan ucapannya waktu itu. Memilih pergi, dan tak mau tau lagi tentang hubungan kami. Yang dalam artian, dia memutuskan hubungan kami.
'Jangan cengeng, Ai...! Kau harus kuat! Demi "dia". Kalau kau lemah, bagaimana kau akan mempertahankan "dia"...!' ucapku dalam hati, berusaha menyemangati diri sendiri.
Dengan hati yang mantab, kulangkahkan kaki menuju tempat keberadaan Satria. Di setiap langkahku selalu berdo'a, agar diberi kekuatan lebih, walaupun saat ini ragaku terasa rapuh dan lemah.
Sesampainya disana, benar saja, mereka sedang berpelukan mesra seakan dunia hanya milik berdua. Padahal saat ini sedang ramai orang disekitarnya. Termasuk temanku, yang mengirimkan pesan tadi kepadaku. Dia juga bersama pacarnya. Sepertinya, mereka sedang melakukan double date.
Sangkingkan asiknya, mereka tak menyadari kedatanganku. Tinggal tiga langkah lagi aku tepat berdiri didepan mereka, barulah mereka sadar akan keberadaanku.
Tawa berderai tadi, sirna seketika.
Wajah bahagianya, langsung berubah menjadi bergeming.
Tangan itu, yang dulu menggenggam tanganku.
Tangan itu, yang dulu mengusap sayang puncak kepalaku.
Tangan itu, adalah tangan pertama yang menja mahku.
Kini, tangan itu sedang menggenggam tangan yang lainnya. Tangan seorang wanita cantik, yang memeluk mesra dirinya.
"Hai..." sapaku pada mereka. Bibir ini masih mencoba untuk tetap memberikan senyuman manis, yang selalu disukai oleh kekasih hatiku, Satria Bahari.
"Hai juga, Ai... Kenapa gak ngasih tau dulu, mau kemari? Maksudnya, kan, manatau kau perlu tumpangan, biar kujemput." ucap temanku tadi. Sepertinya, dia berpura-pura tak tahu akan kedatanganku kemari, padahal dia yang mengirimkan pesan kepadaku.
"Iya, Ra. Aku baru pulang kerja, gak sengaja angkotnya kelewatan tadi. Jadi ya... kupikir, gak ada salahnya, aku lanjutkan aja jalan kemari. Sekali-kali kan gak pa-pa, sambil cari angin." hanya itu yang bisa kujadikan alasan, agar tak terlalu terlihat kalau sebenarnya, tujuanku kemari memang ingin melihat keberadaan mereka, kekasih hatiku dengan -sepertinya- pacar barunya.
Senyumku tetap mengembang, walaupun hatiku rasanya remuk redam. Kualihkan tatapanku pada, Satria dan pacarnya, yang masih setia berpelukan.
"Sat, aku tadi coba ngubungi kamu. Tapi gak dijawab, kupikir mungkin kamu sedang sibuk. Makanya, aku pulang naik angkot sendirian. Ehh ternyata kamu lagi disini juga, bareng Ari -pacar Rara- dan Rara. Berarti, langkahku dah tepatkan bisa nemuin kamu juga disini." kuucapkan kata-kata tadi seperti biasanya, setenang mungkin, seakan tak terjadi apa-apa diantara kami. Padahal jantungku rasanya sudah berdebum seperti ingin meledak saja.
Dari sorot matanya yang tajam, dapat kulihat, kalau sebenarnya dia tidak menyukai keberadaanku disini. Mungkin dia merasa terganggu. Tapi, tetap kubulatkan tekad, akan tetap bertahan sampai dia mau meresponku. Aku pun tetap masih berharap, bisa memperbaiki hubungan diantara kami.
"Gak capek, daritadi maksain senyum gitu?! Gak usah pura-pura merasa baik, padahal hancur! Dan kalau bisa, gak usah lagi munculin wajahmu di depanku lagi! Enek, tau gak!" aku terperangah, mendengarkan ucapannya barusan.
Ada yang berembun, diujung mataku. Tapi, tetap kutahan sekuat tenaga. Aku tak mau dipandang lemah olehnya, ataupun orang lain. Kedua tanganku menggenggam kuat tali tas selempang yang kukenakan. Seakan aku sedang berpegangan, pada sebuah pohon besar, agar aku tak jatuh dan malu ditertawakan orang-orang.
"Kan, aku juga senyum gini, tuk kamu. Kan, kamu yang bilang kalau kamu suka liat senyumku. Karena liat senyumku, kan, kamu jadi suka sama aku. Kamu juga bilang, kalau senyumku bisa buat kamu tambah semangat." sekuat tenaga aku tetap berusaha senormal mungkin, dan sekuat tenaga kutahan air mataku, yang hanya dengan satu kedipan mata bisa luruh, membasahi pipiku.
"Hmm... Basi!" seringaian tajam yang diberikannya kepadaku, sebagai balasannya.
"Siapa, dia, Sat?" kucoba mengalihkan perhatiannya yang sudah tampak emosi akan kehadiranku.
Dengan pongahnya, malah dia memperkenalkan pacar barunya itu kepadaku. Seketika, aku merasa tak dihargai barang sedikitpun olehnya. Keberadaanku disini rasanya hanya jadi kuman pengganggu baginya.
Dan dengan pandangan terluka, kuucapkan kata yang menjadi penyesalanku seumur hidup.
"Oohh... Jadi, dia alasan kamu nyampakin aku kekgini, Sat? Tega kamu, Sat samaku! Apa yang dah kukorbanin tuk kamu itu, emang gak ada harganya dimatamu! Aku sampek jadi begini juga karna kamu, kan, Sat? Gak mungkin, kamu lupa atas apa yang udah kamu perbuat ke aku! Tega kamu, Sat! Tega..!!" aku pun tergugu dihadapannya. Tak lagi memperdulikan sekitarku yang mungkin menatap iba ke arahku.
Dengan masih terisak, dan dibalik kaca-kaca yang mengalir deras dari mataku hingga mengaburkan pandanganku, dia kulihat beranjak turun dari motornya.
Hingga, entah sejak kapan rasa panas itu sudah membekas di pipiku.
Sakit
Sesakit hatiku yang mulai membeku karnanya.