Aku seperti disadarkan oleh sesuatu. Dan ternyata, yang tadi hanya sebatas khayalanku saja, aku berani bertindak demikian. Mengungkapkan amarah yang sesungguhnya didalam da da.
Senyum manis yang sedari tadi kutunjukkan, lama kelamaan berubah menjadi kecut. Aku jadi serba salah. Ingin rasanya lari saja dari keadaan ini, tuk menyelamatkan hati. Tapi, ragaku seakan mengkhianati hati, karena yang diinginkannya saat ini hanya berada dekat dengan sang pujaan hati.
Berusaha tetap tegar pun, nyatanya saat ini ragaku menggigil, gemetar, karena seakan kakiku tak sanggup lagi menopang bobot tubuh yang mendadak lebih berat dari biasanya.
Sepelan mungkin, kucoba menghela nafas, agar tubuhku tetap rileks. Aku bagaikan manusia kerdil, yang dikelilingi para Troll. Yang sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya, diambang kematian.
Kupejamkan mata sejenak, sambil menghela nafas, berharap kekuatanku kembali lagi, karena perang belum usai.
Lalu, kubuka mata, dan menatap lurus kearahnya, sang pujaan hati. Mengulas senyum manis kembali, berharap pandangannya telah berubah, menjadi pujaan hatiku seperti sedia kala.
Tapi, hanya kekecewaan yang kudapat. Dia tetap bergeming, menatapku tajam, seolah-olah aku adalah musuh terbesarnya.
Ketika bibir ini ingin berucap, terpaksa kutahan, karena pujaan hatiku telah lebih dahulu menyuarakan isi hatinya.
"Pulanglah! Dan jangan pernah temui aku lagi! Hubungan kita sudah selesai! Aku tak membutuhkanmu lagi! Sudah ada yang bisa lebih mengerti aku, disini." senyumku pudar. Tatapan tajam yang diberikannya kepadaku tadi, tiba-tiba berubah menjadi tatapan penuh memuja kepada si dia, seorang gadis yang sedari tadi memeluknya dan digenggam tangannya oleh Satria.
Pertahankanku pun runtuh, kurasa sebentar lagi setetes airmata jatuh membasahi pipiku. Cepat-cepat kutundukkan kepalaku, berharap bisa menghalau airmata yang seakan ingin mendobrak keluar karena terlalu lama ditahan.
"Kamu gak beneran kan, ngomongnya? Itu cuma caranya buat aku cemburu kan, Sat? Aku yakin kok, masih ada aku kan, dihatimu?" sekuat tenaga kuberanikan berucap, mencoba mengingkari kenyataan yang ada. Setelah itu, baru kuberanikan diri kembali untuk menatap ke arahnya.
Dengan perasaan jengah, dia mencebik, dan mulai melepas pelukan hangat kekasihnya. Lalu, turun dari motor kesayangannya, dan tepat berdiri menjulang di depanku saat ini.
Wajahku langsung sumringah, senyumku pun mengembang sempurna. Kepala kudongakkan keatas, karena memang Satria jauh lebih tinggi dibandingkan aku, yang hanya sepundaknya. Mataku berbinar, kurasa saat ini bunga-bunga pun ikut bermekaran sangkingkan bahagianya hatiku.
Biasanya, kalau Satria sudah berdiri menjulang didepanku begini, karena sempat melihatku bersedih atau tertekan, dia akan merengkuhku masuk ke dalam hangat peluknya.
Ku pikir...
Ternyata...
Plaakk
Flashback end
Dari arah belakang kedua pemuda yang berusaha membelaku tadi, ada seorang lagi yang dengan santainya menarikku kearah belakang dirinya, seakan menyembunyikan diriku yang sudah jadi pusat perhatian orang-orang.
"Dah, kuat punya tangan?! Atau mau adu tangan, denganku?! Ayok... kuladeni!" tantangnya berani, pada Satria.
"Siapa lagi sih?! Kalian gak punya kerjaan ya... ikut-ikutan ngurusi urusan orang?!"
"Justru karena berurusan dengan perempuan, makanya kami maju. Untuk menggantikannya berurusan denganmu! Gak punya otak ya tuk mikir?! Ini perempuan, bro! Perempuan itu buat disayangi, bukan dijadiin samsak begini! Lahir darimana, sih?! Batu?!" ucapnya geram pada Satria.
"Sekali lagi kuingatkan, ini urusan kami! Gak ada urusannya sama kalian semua!" bentak Satria murka, mungkin dia sudah jengah, merasa tersudutkan dalam posisinya saat ini.
"Ya... gak pakek kekerasan, bro! Mulutnya, masih fungsikan?! Masih bisa dibicarakan secara baik-baik, kan?!" ucap lelaki di depanku, dengan nada yang sudah direndahkan.
Mungkin, ia mencoba bernegosiasi secara halus. Daripada ujung-ujungnya tonjok-tonjokan, kan lebih enak bicara secara baik-baik. Tapi, Satria tetap keukeh, bahwa mereka tak berhak mencampuri urusan kami.
"Waaahhhh ini nih yang namanya buaya rawa, perlawanannya getol meennn." sahut temannya, yang tadi sempat mencekal lengan Satria.
"Bangg sat! Nyari ribut kalian, ya?!" Satria seakan kehilangan kontrol dirinya. Umpama gunung Merapi, yang kapan saja siap memuntahkan laharnya.
"Yank...." entah sejak kapan, perempuan terkasihnya bergerak menghampiri. Yang kulihat dari celah si laki-laki yang ada didepanku ini, perempuan itu tepat berada disamping Satria. Mencoba menenangkan kemarahan Satria, dengan menggenggam tangannya.
Bagai disulap, yang tadinya wajah Satria sudah merah padam sampai ke kupingnya, karena menahan amarah, seketika luntur tak bernoda, bagaikan pakaian yang tersiram bayclean seember, luntur tuh warna. Putih berseri, seperti baru!
Tak lupa, senyuman manisnya yang tersungging dibibirnya. Mengalahkan manisnya gula aren! Luber, luber tuh bibir!
"Udah, doooonnngggg. Kita pulang aja, yuk? Ngapain, ngurusin orang-orang gak penting ini!" rajuk manjanya pada sang kekasih, Satria. Yang disambut dengan anggukan semangat 45, oleh yang bersangkutan.
"Iya, sayang. Kamu benar, ngapain buang tenaga ngeladeni orang-orang gak waras! Lebih baik, kita ngabisin tenaganya di kos-kosan kamu aja, yuk..." nafasku langsung tertahan, mendengar ucapannya barusan.
Pantas saja, Satria dengan mudahnya membuangku! Ternyata, yang ku lihat daritadi tak sepolos keadaannya. Kukira hanya aku, sekarang aku bisa menduga-duga. Mungkin, sudah banyak juga diluaran sana yang menjadi "aku".
Bahkan, sekarang aku makin yakin, bukan pengalaman pertamanya yang diberikannya kepadaku, seperti katanya waktu itu. Hanya aku, yang merasa waktu itu adalah bukan hanya sekedar penya tuan dari dua hati dan juga dua raga.
Pengalaman pertama, yang takkan pernah lagi bisa kuserahkan pada suamiku kelak. Karena sebegitu percayanya aku padanya, yang akhirnya malah menghancurkan diriku sendiri.
Menyesal?
Tak ada gunanya lagi
Semua sudah terlambat, dan takkan pernah bisa kembali seperti sediakala.
Yang ku mampu sekarang, hanya mencoba kuat, menopang diriku sendiri serta seluruh duka laraku. Bukan kumencoba ingkar akan kuasa_Nya, tapi mengingat betapa hancur dan kotornya diri ini, seakan harapan-harapan itu hanya halusinasi semata.
Kuat
Aku harus kuat
Demi diriku dan... "dia"
#####
POV Dewandra
Cekrekk
"Halo haaa..."
Aku yang lagi tiduran, otomatis langsung bangkit duduk, memandang penuh permusuhan manusia luck nut satu ini!
Gimana gak kesal, coba? Dah satu harian nempel mulu kayak perangko! Baru juga pisah satu jam, dah nongol lagi kayak Mr.Jey.
Jeylang...
Itulah pokoknya!
Dan tanpa rasa bersalah, apalagi berdosa itu makhluk satu malah dengan sukarelanya, melem parkan diri ke pulau kapukku yang paling nyaman. Kan, gak ada utek! Orang mau rehat sejenak pun, tak boleh. Huhh...
"Empuk buanget weee...! Seperti biasanya." ucapnya sambil memejamkan mata dan mengulas senyum tengilnya.
Aku masih memandangnya penuh permusuhan. Pengen dimutilasi ini orang, kayaknya! Benar-benar manusia tak bergunahhh. Taunya, cuma merusuh aja di semua tempat.
"Ehmm..." aku mencoba berdehem agak keras, sambil bersidekap da da. Tanda protesku akan aksinya, barusan.
"Ehhh... Tuan Maharaja, sudah bangun ternyata. Hamba kira masih terbuai mimpi, bersama para bidadari syantik di syurgawi sana." mendengar suaraku, dia buru-buru bangkit, lalu menunduk hormat sambil meletakkan satu tangannya di da da. Sudah persis, seperti hulubalang istana kerajaan saja lakonnya barusan.
Benar-benar minta kena pites, nih anak satu!