Bab 3. POV Dewandra 2

1384 Kata
Bughh "Wadoooohhhhh!!! Apa salah hamba, Maharaja?" ucapnya memelas, sambil mengusap kepalanya yang barusan terkena guling terbang. "Punya o-tak kan tuk mikir?!" balasku geram. "Justru karena hamba tidak tahu-menahu dimana letak kesalahan hamba, makanya hamba bertanya kepada Tuan Maharaja." salut aku, liat gimana akting, nih, anak. Menjiwai syekale pemirsahhh. Tapi, sekarang bukan saatnya aku bertepuk tangan ria, yang kubutuhkan sekarang air kumur-kumur mbah duhkun yang bau harum semerbak jihgong itu, tuk menyadarkan kehaluan, nih, anak satu! Orang gak kesampaian jadi artis, ya, gini ini! Ngehaluuu aja bawaannya, dimanapun and kapanpun dia berada. "Tuan Maharaja, ada apakah gerangan kiranya? Anda sakit gigi sepertinya, karena terlihat Anda tidak leluasa dalam mengungkapkan perasaan Anda, sekarang ini. Atau Anda merasa malu kepada saya? Apalah daya saya, tuanku yang maha agung." wajah melasnya itu, pengen kali rasanya ku timpuk pakai bak mandi. Sekalian basah, biar mandi dan sadar dalam satu waktu. "Berhenti, bersikap konyol!" hardikku. "Sikap hamba yang mana barusan, yang telah menyinggung perasaan Anda, Tuan Maharaja? Hamba mohon maaf yang sebesar-besarnya. Hamba hanya orang kecil, yang tidak berguna, Tuan." aku cuma bisa memejamkan mata sambil menghela nafas. "Ada apa lagi, Tuan Maharaja? Apakah sekarang Anda merasakan, sesak di bagian da da? Kalau begitu, biar saya coba panggilkan tabib kerajaan dahulu, Tuan Maharaja. Hamba mohon pamit, sebentar." sambil terus menunduk, dia berjalan mundur hingga mendekati pintu. Baru setelahnya, dia berbalik badan hendak membuka pintu. Sampai aku berucap. "Berhenti, disitu! Atau tas kesayanganmu bakal kulemparkan keluar, dari jendela, sekarang juga!" hardikku lagi, geram. Daritadi tuh mulut, nyerocosss mulu. Udah kayak knalpot bocor! Sampai panas kupingku, mendengarkannya. "Hehehe... jangan lah, Yong! Kau kan tau, itu teman seperjuanganku. Kemanapun kaki ini melangkah, pasti dia slalu menyertai." cengar-cengir, udah kayak iklan unjuk gigi dia. "Ampun kan hamba, Tuanku." sambil menumpukan kedua tangan diatas kepala, dia tersenyum melas kearahku. Brakk "Waaahhhh... melayang ayang mbeb kuh. Hik...hik...hik... Tega nian dikau, Tayong! Apa salah dan dosanya, sehingga dengan ringannya kau campakkan dia ke tanah." dramaaa drama! Gak abis-abis daritadi. "Tanah dari Porsea! Lantai kaleee!" sungutku. "Kan, umpamanya, Yong." masih dengan drama tangisannya. Pokoknya kalah kurasa, drakor-drakor yang kalian sanjung-sanjung itu pemirsah. Bakat kawanku yang satu ini, memang tak terbantahkan lagi. "Mulaaaiii... Gilooo!" kulempar lagi dia dengan bantal. "Upss... gak kena! Wleee...!" kan... kan, dah berubah lagi lakonnya. Kantukku hilang! Tambah pusing, iya! Kurebahkan kembali ragaku, mencoba menggapai nyawa yang mungkin separuhnya tadi masih diawang-awang. Sambil memijit kening, yang berasa nyut-nyutan. Kupejamkan mata, berharap mengurangi rasa sakitnya. "Nape, sih? Perasaan, sensi amat dah daritadi. Si Amat aja lagi pada nyantai nyoh, kayak di pantai." kelakarnya. "Bising!" Tiba-tiba, ada yang menggulingkan tubuhku. Aku yang tak siap, jadi mengikut saja. Sambil kebingungan, kuamati apa yang terjadi barusan. Mataku melotot! Dengan tidak adanya rasa hormat sedikitpun, pan tatku ditepok oleh seseorang, yang tak lain dan tidak salah lagi, si biang kerok! "Apaan, sih!" bentakku. "Gak tebal. Gak juga tembus. Yang iyanya malah, panas." seenak jidatnya yang jenong itu, pan tatku dianiaya! "Dah, berapa bulan?" tanyanya ambigu, sambil memasang muka innocentnya yang rasaku minta ditabok! "Paan, sih?! Gak jelas! Apanya yang tebal? Apanya yang gak tembus, dan apanya yang berapa bulan?!" bingungku. "Yaaa itu... Daritadi, galak amat. Dibilang kedatangan palang merah, enggak. Makanya kubertanya, sudah berapa bulankah, Anda terlambat?" kedua tangannya membentuk tanda kutip. Aku ngerti sekarang! Waaahhhh... nyari pekara nih bocah atu! Dengan sigap, kulayangkan jurus pamungkasku. Tendangan Tsubasaaa... Jedukk Gubrak "Aaahhhhhh..." nyahok looo! "Bangg saattt! Remuk ba booonnn!" serunya lantang. "O-tongg aing, maakkk!" Brakk "Dewandraaa...!" Mampooosss!!! Cilakah limo baleh! Astagah bonaarrr! Nyai Kanjeng sudah muncul pemirsah! Glekk Aku langsung terduduk, sambil meraba leher yang sepertinya sebentar lagi bakalan kena hukum pancung. "Mamiiihhh...! Aku dianiaya, Mih! Pusaka aku disepak terjang, Mih! Gimana ini nanti nasib permaisuri aku, Mih? Nelangsa, dong, Mih?! Aku gak bisa nanina, dong, nanti?" dasar kompor meleduk! Bukan Hiroshima dan Nagasaki aja, yang bakalan kena bom. Sepertinya bentar lagi, aku yang di bom! Pletak Pletak "Adooooowww..." kompak, kami bersuara. "Punya anak lajang kok, ya, gak ada yang beres, uteknya! Mau jadi apah, kalian ini? Gak dimana-mana jadi biang keributan! Mulai dari orok, sampai dah segedek debok pisang, ribuuutttt mulu! Heran!" sambil berkacak pinggang, Nyai Kanjeng mengeluarkan kata-kata mutiaranya dengan nada oktaf yang tinggi. Aku rasa, satu kompleks pasti dengar ini. Apalagi kamarku diatas gini. Ngelebihin toak mesjid deh, merdunya. "Ampun, Nyai. Sembah sujud." si Kamprett malah duduk bersimpuh, sambil menyatukan kedua tangan. Tanda meminta maaf. Sementara aku, cuma bisa nunduk sambil elus-elus kepala. Ya Allah... mudah-mudahan gak kenapa-kenapa, ya Allah. Aset, ini cuy! "Huhh..." si emak dah narik nafas, tanda meredakan esmosinya yang sempat meletup-letup. "Udah, atuh Mih. Mamih gak usah marah-marah, nanti hilang loh cantiknya. Bisa-bisa cintaku direbut tetangga sebelah dinding rumah, Mih." rayu si Kamprett. "Pulang, sana! Bikin ribut, aja!" kena sembur weee. "Yaahhh si Mamih. Kan anakmu ini rindu padamu, Mih?" "Rindu kok, 24jam. Udah kayak pelayanan emergency!" sungut Mamih. "Namanya juga rindu, Mih. Kapan datang dan perginya kan kita gak pernah tau, Mih." "Sak karepmu, dewe'!" "Lagian, kalian ini ngapain sih??? Dah, besar juga, maenannya sing aneh-aneh toh, yooo! Itu suara apa tadi? Sampek ke teras depan, kedengaran." "Ini, nih Mih! Anak curut satu! Kan, Abang lagi enak-enaknya tidur. Tiba-tiba datang, ngerusuh!" aduku. "Weeesss... aku tuh datang juga, atas perintah Nyai Kanjeng Mamih, Ratu sejagat. Iya, kan, Mih?" nyari pembelaan, si Kamprett! "He-ehh... Mamih yang suruh, bangunin kamu. Mbok yo, wes arep Maghrib iki. Masih ngelungker wae, nang sangkar! Bangun! Ndang, ke mesjid." perintah Nyai Kanjeng. "Hmm... Iya-iyaaa". "Jangan "iya-iya" aja, itu lambe! Gerak dong! Bangkit, trus mandi. Siap-siap ke mesjid." "Iyah, Mamih sayaaannnggg". Cup Kusempatkan mengecup pipi Nyai Kanjeng, sebelum melangkah masuk kedalam kamar mandi. "Apa?!" tantang Mamih, pada si Kamprett. "Ihh Mamih... Gitu sekarang, pilih kasih!" rungutnya. "Wes tuek!" "Hahahaha..." aku cuma bisa tertawa puas didalam kamar mandi. Pulang dari mesjid, selesai melaksanakan perintah_Nya. Aku bergegas pulang ke rumah. Tadi, Mamih masak gulai asam padeh ikan patin. Membayangkannya saja, sudah membuat liurku ingin luber. Mesti cepat ini! Sebab, kalau si kamprett ikut balik ke rumah, yang ada aku gak kan bisa menikmatinya seorang diri. Karena, pasti Mamih akan membagi yang tadinya jatahku semua, menjadi dua. Anwar, anak tetangga sebelah rumahku. Teman dari orok, kata Mamih. Padahal, ada keluarganya lengkap dirumah, tapi hobi banget ngerusuh dirumahku. Mamih juga dari dulu, tak pernah membedakan kami. Baginya, kamilah pelengkap dirumah. Apalagi, semenjak adik tercintaku pergi tuk selamanya. Mamih, terkadang murung kalau sedang sendirian. Makanya, kami sering membuat kegaduhan, tuk mengalihkan perhatiannya. "Assalamualaikum." seruku gembira, sambil membayangkan sebentar lagi akan menikmati makanan kesukaan. "Wa'alaikum salam." sambut orang yang ada didalam rumah. Tapi, tunggu! Kok, suaranya ada dua orang? Jangan bilang, kalau Anwar sudah duluan sampai dirumah. Dan benar saja, dia dengan bangganya sudah duduk manis dikursi meja makan, sambil menghadapi sepiring gulai asam padeh ikan patin. Emang kamvreettt!!! Aku pun, tak mau kalah. Langsung mengambil tempat duduk didepannya. "Ganti dulu, baju sholatnya, Abang!" seru Mamih. "Nanti aja, Mih. Takutnya, Abang gak kebagian gulainya, kalau ditinggal ganti baju." jawabku sambil menatap sinis musuh bebuyutanku. "Lebay". "Mih, kenapa gak disuruh pulang aja, sih? Noohhh rumahnya di sebelah, gak jauh. Lemparkan aja dari jendela, bakalan nyangkut kok, Mih." sungutku. "Eehhh... dilarang ribut, didepan makanan. Nolak rezeki itu, namanya. Udah, atuh. Sok, baca do'a. Dilanjut makan." perintah Mamih. "Hmm..." gumamku. Si kamprett malah ngelewek cuy! "Anwar." seru Mamih. "Siap, laksanakan, Mamih." bersiap sambil hormat, menghadap Mamih. Hanya mata kami sekarang, yang berbicara. "Makan itu, yang fokus. Lihat ke piring, bukan tatap-tatapan kayak mau perang!" lagi-lagi Mamih tau, apa yang kami perbuat. Kadang, kupikir Mamih_ku ini seorang cenayang. Dia bakalan tau, apa-apa saja kejadian yang bakalan terjadi diantara kami, berdua. Mungkin, karena sangkingkan seringnya kali yaaa, makanya sampai hafal gitu. Selesai makan, seperti biasa, kami berdua yang mencuci piring dan membereskan meja makan. Kami tau, Mamih pasti sudah letih. "Yong, keluar yok?" ajaknya. "Kemana?" tanyaku. "Tempat biasa, laahh." "Mau ngapain?" "Nongkrong, laahh. Mumpung, malam minggu ini." serunya. "Okelah". Setelah beres mencuci piring, kami pun berpamitan kepada Mamih. "Mamih, mau dibawain apa?" tanya Anwar. "Roti bakar Bandung, aja deh." jawab Mamih. "Okray." seru kami berdua. Sampainya ditempat, anak-anak yang lain dah pada ngumpul ternyata. "What's up, bro?" "Makin gagah aja ahh, Bang Doni." sapa Anwar. "Biasalah". Tiba-tiba... "Ehh... Napa tuh weee? Kok ceweknya, kena gampar? Ahh gak bener ini!" Anwar meradang, melihat kejadian barusan. Dengan langkah pasti, dia pun beranjak kesana. "Bro..." tak dihiraukannya lagi, panggilan Bang Doni. "Susul, gih." usulnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN