Malam minggu, seperti biasa aku membawa kekasih cantikku menikmati malamnya para anak muda memadu kasih. Kujemput dia, di kos-kosan tempat tinggalnya.
Tok...tok...tok
Kriieett
Pintu terbuka, dan terlihatlah kekasih cantikku dengan memakai kaus press body warna merah, yang membuat dirinya semakin terlihat sek si.
Dan... aku suka itu.
Dia selalu tau apapun mauku. Dia pun selalu berusaha membuatku senang, seperti saat ini. Tangan lentiknya, dengan begitu nakal menarik kerah jaket kulit yang kukenakan, agar aku ikut masuk ke dalam kamarnya yang hanya berukuran 3x4 ini.
Dengan tidak membuang waktu, aku pun lantas mengikuti kemana pun dia membawaku.
Begitu melewati pintu, dengan mengenakan kaki kututup pintu kamarnya. Aku masih mengikuti permainannya. Sampai di dalam, tubuhku dipe petnya ke dinding.
"Akhh..."
"Kamu nakal, ya. Baru juga kupe pet ginian, dah hor ny aja. Hehehe..." serunya, sambil mempermainkan jari lentiknya di pipiku. Mengusapnya lembut, hingga aku pun terlena dan memejamkan mata.
"Hehehe... Kamu loh yang nakal, sayang. Aku kan, cuma ngikutin maunya kamu aja".
"Oohh... jadi cuma, mauku aja nih?!" tanyanya merajuk manja.
"Bukan gitu loh... cintaku. Maksudnya, aku tuh rela aja mau kamu apain. Asalkan yang enak-enak".
"Iihh... kan, aku makin gemezzz deh sama kamu. Rasanya pengen aku makan sampai habis".
"Jangan dihabisin sekarang, dong, Yank. Kita jalan-jalan dulu, malam mingguan sayang. Nanti abis itu, baruuu..."
"Hmm... baru apa, nih???"
"Baru... kita gas poolll. Hahahaha..."
"Ayang... makin cinta, deh".
"Aku juga makin-makin cinta, deh, sama kamu, Yank".
"Kalau gitu, DP_nya dulu, dong, Yank".
"Uuhh... emang aku motor, berasa kayak cicilan kredit tau gak, DP_nya dulu." sungutnya manja.
"Tapi... mau, kaann??"
"Mau, doooonnngggg".
Tanpa membuang waktu lagi, aku pun langsung memagut bibirnya yang sek si itu. Suara decapan nyaring terdengar, dari sela ciuman panas kami.
"Yank..."
"Iya, sayang."
"Punya kamu, dah On, tuh." ucapnya, sambil meraba-raba sesuatu yang ada di balik celana jeansku.
"Hehehehe... abisnya, kamu sek si banget, Yank. Rasanya, aku dah gak tahan, nih..."
"Sabar, dong, Yank. Tadi katanya, mau ngajakin aku jalan. Aku, dah, dandan cantik gini masa' kita gak jadi keluar, sih?"
"Iya, iyaaa... Ya udah, yuk..." ajakku sambil menggandeng tangannya keluar dari kamar.
"Udah, dong, Yank acara usap-usapannya, nanti lagi kita sambung. Kalo' kamu gak berenti juga, yang ada kita gak jadi keluar ini. Gimana? Kan, kamu tau kalo' aku dah On, daritadi".
"Hehehe... Iya deh, Yank. Abisnya aku, tuh, gemezz sama dedek kamu, pengen aku mainin aja, deh".
"Ekhem..."
"Ehh, ada Wita. Maaf ya wit, gak keliatan. Abisnya, aku kalo' dah ketemu Ayangku, bisa lupa segalanya".
"Ya, tapi kan gak over gitu juga, kaleee...!! Tolong, dong, pengertiannya atas suara-suara kalian yang bisa mengganggu ketentraman kos-kosan ini!!"
"Hehehe... bilang aja dirimu ngiri, kan?? Makanya, sana cari cowok, biar ada yang ngelonin kalo' mau bobok. Bukan kelonan mulu, sama guling. Ntar, gulingnya lama-lama kempes, gegara dikekepin mulu. Hahahaha..."
"Huhh..." Wita hanya bisa mendengus, mendengarkan kata-kata yang dilontarkan oleh, Indah. Pujaan hatiku.
"Hehehe... dibilangin, kok, yaaa gak nerima gitu, sih?? Padahal yang aku bilang itu bener, kan, Yank?" tanyanya dengan manja.
"Iya, sayang. Apa sih... yang gak buat kamu." senyumku mengembang sempurna, di saat Indah berada disisiku.
Kami pun berangkat, ke tempat biasa kami nongkrong bersama teman-teman yang lainnya. Sepanjang jalan, tangannya tak pernah lepas dari mendekapku erat. Dua buah benda kembar itu, berasa sangat kenyal di punggungku. Aku harus tetap berusaha fokus pada jalanan, agar kami bisa selamat di perjalanan.
Indah, sama seperti namanya, tubuhnya pun indah bak ibarat gitar Spanyol. Aku selalu terlena dibuatnya. Bahkan memandangnya saja membuatku panas-dingin.
Perjumpaan pertama kami, berawal dari aku yang ingin mengisi pulsa elektrik ponselku, di salah satu counter ponsel.
Aku terpesona, saat pertama kali melihat senyum manisnya. Dua buah bibir sek si itu pun, tak kalah ramahnya menyapaku. Aku pun memberanikan diri, mengajaknya berkenalan. Dan bagai gayung bersambut, dia dengan suka hati membalas uluran tanganku.
Obrolan demi obrolan yang kami lontarkan, mengantarkan kami sampai kepada aku yang saat itu bersedia mengantarkannya pulang dari bekerja.
Dengan senang hati pula, dia memberikan nomor ponselnya padaku. Dan, dari sorot matanya aku tau, kalau dia pun terpesona pada ketampananku. Karena disaat-saat kami berbincang tadi, dia selalu tersipu malu menanggapi setiap kata-kataku. Tak lupa, pipinya yang merah merona itu, menandakan kalau dia juga menaruh hati padaku.
Padahal, saat itu, aku sudah memiliki seorang kekasih. Kuakui, kekasihku cantik dan manis. Mata bulat indah, tapi sayu itu. Bibir pink alaminya. Lesung pipi yang slalu muncul di saat dia tersenyum di pipi chubby-nya. Dan, tubuh mungil tapi berisi di bagian-bagian tertentunya. Semua hal itu, dipunyai olehnya. Tapi, satu yang aku sesalkan. Dia tak pernah mau kusentuh, lebih dari sekedar pegangan tangan atau mengecup keningnya.
Terkadang, aku mesti cari-cari kesempatan untuk dapat mengecup pipi chubby-nya, yang membuatku gemas.
Berkenalannya aku dengan Indah, bagaikan mendapatkan oase di Padang gurun yang gersang. Indah, bersedia memberikanku kepua san yang takkan pernah kudapatkan dari kekasihku, Aizha.
Satu tahun sudah kami berpacaran, tapi tak ada perkembangan diantara hubungan kami. Rasanya flat, datar. Padahal, aku ini seorang pengembara cinta. Tak terhitung sudah banyaknya, wanita yang dengan sukarelanya kutidu ri. Bermodalkan wajah tampan, dan tubuh yang atletis, cewek mana sih yang takkan tergila-gila membayangkan nikmatnya berada dibawahku?? Kurasa cuma, Aizha, seorang yang tak menginginkannya. Atau bisa jadi, belum. Hehehe
Dia slalu beralasan, ingin melakukannya nanti, di saat kami sudah halal. Karena dia tak berani, mengambil resiko dari apa yang akan kami perbuat.
Sudah kupujuk dia berulang-ulang kali, tapi dia tetap berpendirian teguh. Sementara aku, harus selalu menahan bira hiku, setiap berdekatan dengannya.
Cowok mana yang bakal tahan melihat lekukan indah tubuhnya, dari balik baju kaus yang dikenakannya. Walaupun, Aizha slalu memakai baju yang lebih besar dari ukurannya.
Bagian tubuhnya yang menon jol itu, seakan-akan melambai pada tanganku tuk mere masnya hingga habis, tak bersisa.
Kekasihku yang manis dan cantik, tapi tak tersentuh. Bagai bunga mawar merah yang merekah indah di tengah-tengah taman, di kelilingi oleh bunga-bunga indah lainnya, tapi, seakan-akan bunga-bunga itu pun cemburu padanya. Cemburu dengan keanggunan dan kharismatiknya, dengan di tumbuhi duri-duri runcing dan tajam. Yang seolah-olah siapa saja yang hendak memilikinya pasti akan butuh perjuangan agar terhindar dari tusukan durinya yang tajam.
Sampai pada suatu kesempatan...