Bab 5. Satria Bahari 2

1042 Kata
Flashback Kami terjebak hujan deras di jalan arah pulang. Waktu itu, hujan deras yang disertai petir dan kilap yang menyambar, menuntut kami untuk menunda perjalanan pulang. Karena tak ingin mengambil resiko, kami pun menepi pada sebuah penginapan dipinggir jalan. Bukan hanya kami yang terjebak dalam derasnya hujan, ternyata sudah ramai kendaraan yang parkir disana juga. Bahkan, memesan kamar karena memprediksi hujan deras yang tak kunjung reda. Begitu juga, dengan kami. Aku menawarkan memilih masuk kamar, yang akan lebih terasa nyaman, dibandingkan dengan kami yang terus menunggu redanya hujan dipinggiran loby penginapan ini. Dengan baju dibadan yang sudah basah kuyup, terasa tambah tak nyaman. Apalagi, dengan basah kuyup begitu membuat pemandangan didepanku ini lebih menggoda, yang mana bukan hanya aku saja, bahkan beberapa pria dengan terang-terangan memandang setiap lekuk indah tubuh mungil, Aizha. Aku lihat, dia pun mulai merasa risih karena dijadikan pandangan nakal cowok-cowok hor ny ini. Terang saja aku ngeh, karena aku pribadi juga merasakan hal yang sama dengan para pria tersebut. Ada sesuatu di dalam sana, yang ingin dilemaskan dan ingin dikeluarkan. Aizha semakin mendekatkan dirinya kepadaku, lalu berbisik tepat di telingaku, "Sat, kayaknya kita masuk ke dalam aja, yuk? Soalnya, aku ngerasa makin dingin disini". "Ya udah bentar, ya, aku tanya dulu ke resepsionisnya. Masih ada kamar atau gak. Kamu liat sendiri kan, disini rame banget, gitu?" "Iya, deh". Aku melangkah menuju resepsionis, tuk menanyakan perihal kamar. Dan ternyata, hanya tersisa satu kamar kosong lagi. Lalu, kualihkan pandangan kepada Aizha, seperti mengerti maksudku, dia pun langsung menghampiri. "Kenapa?" " Yang sisa cuma tinggal satu kamar, gimana?" Dengan ragu-ragu, dipandanginya mataku. Entah apa yang dipikirkannya, aku tak tau. Ada rasa ragu dan cemas, yang bisa kutangkap dari pandangannya. "Hmm... ya udah, deh. Ambil aja! Kamu, dah, kedinginan banget, ya?? Maaf ya, aku kurang peka. Kamu kan yang nyetir, otomatis kamu yang duluan kena hujan." ujarnya sambil tersenyum. Kulihat, bibirnya juga mulai agak membiru, dikarenakan udara dingin yang menusuk sampai ke dalam tulang. Selesai urusan dengan resepsionis, kami berdua melangkah menuju kamar yang di pesan tadi. Sampai depan pintu, kuulurkan card key. Klik' Kubuka lebar daun pintu, dan kupersilahkan, Aizha masuk terlebih dahulu. Baru aku menyusul masuk setelahnya, serta menutup pintu. Sampai di dalam terlihat, Aizha kebingungan. Dia menggigil kedinginan, dikarenakan AC yang menyala otomatis dari begitu pintu terbuka tadi. "Dingin?" "Hmm..." "Kamu dulu gih, yang masuk kamar mandi. Mandi, baju kamu juga dah kuyup, kan?" "Kamu duluan, aja deh. Soalnya kan kamu yang lebih dulu kena hujan. Takutnya, ntar kamu sakit." ucapnya khawatir. "Aku soalnya lama, kalau lagi mandi. Apalagi rambut aku, juga basah. Aku butuh keramas. Nanti kamu bisa masuk angin, karena nungguin aku." ujarnya kembali. "Oke, deh. Aku luan yang mandi, ya? Aku gak lama, kok." ujarku. "Hmm..." Aku pun masuk ke dalam kamar mandi, mandi dengan cepat. Karena aku jamin, pasti dia juga sudah kedinginan, sampai menggigil gitu, tadi. Kukenakan bathrobe, lalu keluar dari kamar mandi. Aizha, masih berdiri kaku disamping tempat tidur. Aku pun, tersenyum geli melihat tingkahnya. "Kok, gak duduk aja? Malah berdiri kaku, gitu? Dah kayak kanebo kering kamu, tau gak? Hehehe..." kelakarku. "Hmm... aku takut, nanti tempat tidurnya jadi basah." jawabnya sambil tersenyum. "Yaudah, gih, sana mandi. Mandi pakai air hangat, biar seger badannya. Oke.." usulku padanya. "Oke". Ada setengah jam, kira-kira aku menunggunya mandi, sambil memainkan ponselku. Ternyata, bener ya, kalo' cewek mandi itu, lama. Mungkin, lebih banyak kali, yang mesti dibersihkan. Misalnyaaa... Lagi asik melamun, tiba-tiba... Ceklek Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan sang pembuka pintu yang tampak lebih segar, dan wangiii Hmmm... Dari jarak kami yang jauh begini, masih dapat kuhirup harum wangi tubuhnya. Gimana kalau lebih dekat? Aaahhh... Ada yang bangun, dibalik lembar bathrobe yang kukenakan. Sementara, dia masih berdiri kaku, di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Sambil memilin jari-jemarinya, dan menggigit bibirnya kaku. Itu bagiku, pemandangan yang begitu sek si. Tanpa dikomando, kakiku lebih dulu bergerak maju, sementara otakku, masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya. Begitu aku tepat berdiri, di depannya. Dia pun mendongak. Bibirnya terbuka sedikit, sepertinya akan ada yang ingin ditanyakannya kepadaku. Tapi, pemandangan itu, malah makin membulatkan tekadku, tuk melumat bibir merah alami menggoda itu. Belum lagi terlontar apa yang ingin diucapkannya. Sudah lebih dulu bibirku menubruk bibirnya. Kenyal, dan rasa manisnya, membuatku makin melumatnya dalam. Seakan-akan, aku adalah orang yang kehausan dari perjalanan yang sangat jauh. Tangan kananku pun sudah melekat, dan makin mendorong tengkuknya, tuk mempertahankan serta memperdalam ciuman kami. Sedang tangan kiri kumenarik dan mere mas pinggangnya, agar makin dekat padaku. Kutarik, dan kupe pet dia ke arah dinding. Yang makin membuat minim, pergerakannya. Awalnya, dia mencoba menolak dengan cara berontak. Tapi, lama-lama kurasakan pukulan tangan mungilnya di dadaku, berubah menjadi cengkeraman erat pada bathrobe yang kukenakan. Lambat laun, tubuhnya pun mulai merosot. Kurasa, kakinya lemas, tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya. Dengan sigap, kuangkat tubuh mungilnya. Melingkarkan kedua kakinya, pada pinggangku. Kurasa, ada yang makin mene gang di bawah sana. Karena, posisi kami yang tanpa disengaja, malah menempatkan sesuatu yang mene gang di bawah sana, makin dekat dengan tujuannya. Kulepas pagutan bibir kami, memberikan waktu tuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Wajah kami, kurasakan sama-sama sudah merah padam. Bibirnya yang merah alami, makin merah, bahkan bengkak. Juga terbuka, karena ingin menghilangkan sesak di da da akibat kekurangan oksigen. Matanya yang sayu, makin sendu. Rasanya, aku mau gila! Apalagi saat, suara seraknya yang sek si itu, memanggil namaku agak mende sah. "Sathh..." Pertahankanku roboh, luruh ke jurang yang paling dalam. Kubawa tubuhnya, yang masih berada di gendonganku, menuju tempat tidur empuk. Yang sedari tadi, seakan-akan memanggil kami untuk segera merebahkan diri. Kurebahkan perlahan, tubuhnya di atas kasur. Aku tau, ini untuk yang pertama kalinya bagi, Aizha. Jadi, aku tak mau tergesa-gesa yang membuatnya tak nyaman, bahkan terkesan takut. Akan kubuat dia senyaman mungkin, agar dia pun bisa menikmati malam ini dengan penuh sukacita. Begitu kurebahkan tubuhnya, seakan pasrah pada apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia hanya menatapku. Da danya naik turun, menandakan nafasnya juga masih saling kejar-kejaran seperti yang kurasakan. Bibirnya masih terbuka. Dan yang lebih membuatku tak bisa menahannya lagi adalah, dua buah benda kenyal itu, seakan mengintip ingin melihat dunia luar sana, dari balik sela bathrobe yang dikenakannya. Keadaan Aizha yang acak-acakan seperti itu, malah membuatku semakin b*******h dan diburu nafsu. Dengan sekali hentakan, kutarik tali bathrobe yang dikenakannya. Lalu...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN