Ketika aku ingin membuka bathrobe yang dikenakannya, Aizha sempat menahannya dengan sebelah tangan. Kualihkan pandangan, kearah matanya. Kugenggam tangannya yang tadi menahan pergerakanku, seolah aku meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
Perlahan, genggaman tangannya mulai mengendur. Tanpa membuang waktu, langsung kutarik tali bathrobe yang dikenakannya.
Sluutt
Sepersekian detik berlalu, aku masih terpaku pada pemandangan di depanku saat ini. Indah. Cukup satu kata itu tuk menggambarkan apa yang terpampang di hadapanku sekarang.
Kualihkan tatap pada wajah merah jambu itu, cantik... sungguh makhluk Tuhan paling cantik dia. Tak kusangka gadis polosku ini ternyata bisa semenawan ini.
"Hei... Aku di sini, di hadapanmu. Apa pemandangan di sana lebih menarik dibandingkan aku, kekasih hatimu ini?" tanyaku padanya.
Aku suka senyum malu-malu itu.
Aku suka pipi merona itu.
Aku suka tingkah risihnya yang menandakan bahwa sebelum ini pasti tiada yang pernah sedekat ini padanya.
Ya... Akulah orang pertama itu, yang menyaksikan betapa indahnya sesuatu di balik kain penutup tubuhnya.
Baru seperti ini saja rasaku, akulah yang akan jadi pemenangnya. Pemenang dari merebut hati seorang gadis dihadapanku ini, dan juga sebentar lagi pemenang dari pemilik tubuh ini.
Kuulurkan tangan, mengelus pipi lembut nan hangat itu yang dikarenakan rona malu-malu tersebut secara perlahan. Kuyakinkan dia, kalau aku ada di sini untuknya.
Dengan perlahan namun pasti, kucoba menarik dagunya agar menghadap padaku. Namun, yang ada malah dianya merunduk malu.
"Sayang, aku di sini. Liat mataku, aku di sini untukmu." sekali lagi kuyakinkan dia, bahwa akulah orang yang akan selalu ada untuknya.
Lembut jariku membimbing wajahnya agar tegak menghadap padaku. Kulihat, ada keraguan dan ketakutan dimatanya. Binar mata itu seketika berubah mendung, seperti akan ada hujan deras yang tiba-tiba datang menyapu.
"Ada apa? Hmm...?".
"Aku takut.." suaranya bergetar, disusul dengan jatuhnya dua aliran air bening dari matanya.
"Takut apa, sayang? Kan udah kubilang, aku akan ada selalu tukmu." kucoba terus mengelus pipi lembut itu tuk mengantarkan kehangatan, agar dia yakin dan percaya sepenuhnya padaku.
"Janji?"
"I'm promise..."
Mendengar kata-kata manisku, dia pun luluh. Menyerahkan apa yang selama ini telah dijaganya padaku, dengan suka rela.
Jahatkah aku?
Ya... Kuakui, aku sedikit jahat padanya. Dengan mengobral kata-kata cinta dan sedikit janji-janji manis. Aku bersabar dalam beberapa bulan ini tuk meyakinkannya bahwa aku mencintainya dengan sepenuh hatiku.
Dan akhirnya, hasil dari kesabaranku berbuah manis. Hahahaha...
Setelah kureguk manisnya madu cinta, tak lupa beberapa untaian kata manis dan manja yang menunjukkan bahwa aku butuh akan dirinya. Dan setelah diri ini bosan, tinggal ucapkan 'see you good bye'. Hehehe...
Cerdik kan aku?
Seterah klen lah weee... Mau klen hujat pun aku, namanya kebutuhan manusia idop Wak, ya harus dapetlah.
Setelah kejadian itu, hari-hari kulalui terasa lebih indah. Kami bahkan sering mengulanginya beberapa kali. Hanya bermodalkan rayuan dan kata cinta dariku, dia pun selalu luluh.
Sampai suatu ketika, dia menghampiriku dengan wajah yang terlihat pucat.
"Hei... Ada apa, sayang? Kok, kamu keliatan pucat gini? Kamu sakit? Yok... Kuanter berobat".
Bibirnya tetap terkatup rapat. Tak ada kata yang keluar, melainkan hanya gelengan kepala dan 2 bulir tetesan air mata yang mendadak luruh karna matanya berkedip.
"Hei.. hei.. hei.. Kenapa? Cerita samaku, yank. Kamu, tiba-tiba nangis gini yang ada buat aku tambah bingung looohhhh".
Lagi-lagi yang kudapatkan hanya berupa gelengan kepala. Belum lagi isakannya yang makin terdengar menyayat hati siapa saja orang yang mendengarkannya.
"Suuttt... Udah, dong, yank. Kok, gak, yookkk ikut aku. Kita cari tempat yang enak buat ngomong. Oke?"
Kuusap lelehan air matanya yang sudah menganak sungai dan kupujuk dia agar mau ikut bersamaku tuk mencari tempat yang lebih nyaman buatnya bercerita.
Hanya anggukan yang kudapat.
Berselang beberapa menit, kami sampek di apartemenku. Dari pada ke tempat lain, kupikir lebih baik kubawa aja ke apartemenku. Kami bisa lebih leluasa cerita disana tanpa ada yang mengganggu. Apalagi kalo' bisa sekalian aahhh... itulah pokoknya. Hehehe
Begitu masuk ke dalam apartemen, dia langsung terduduk di sofa ruang tamu dengan kepala yang tertunduk. Aku masih bingung dengan tingkahnya. Apa dia lagi ada masalah yang berat, sampek-sampek jadi keliatan kek orang yang putus asa, gitu?
Ntahlah... cuma dia yang tau.
Aku berjalan ke dapur, mengambilkannya segelas air minum. Kupikir, dengan minum segelas air putih bisa membuatnya lebih rileks, mungkin.
"Nih... minum dulu. Biar lebih rileks." sambil kusodorkan segelas air putih tadi padanya.
"Makasih." cuma itu yang terucap dari bibirnya.
"Gimana? Dah enakan belum?"
"Hmm.."
"Sekarang cerita ke aku, yank. Kamu kenapa? Kamu lagi ada masalah? Atau ada orang yang niat jahat ke kamu?" tanyaku dengan perhatian, sambil menggenggam tangannya yang terasa dingin.
Kurasa genggamannya makin mengerat.
Di angkatnya perlahan wajahnya, sampai mata kami saling bertatapan. Ada ragu yang kulihat disana. Bibirnya yang terbuka ingin berucap, tapi terkatup lagi. Dia seperti orang yang dilanda kebingungan setengah mati.
"Sat, aku.."
"Yaaa... apa sayang? Bilang aja, apa yang mau kamu bilang. Jangan di pendam".
"Ak.. aku..."
"Iya, sayang. Aku disini".
"Ak.. aku.. Aku hamil".
Seketika itu juga, mataku melotot ingin keluar rasanya setelah mendengar pengakuannya barusan.
Berasa, kek, ada geluduk yang membelah bumi rasaku detik itu juga.
Apa katanya tadi? Dia hamil? Anakku? Gak.. gak.. Ini gak betol!!!
"Sat... kamu dengar apa yang kubilang barusan, kan? Aku hamil, Sat".
Mendengar perkataannya barusan, seolah menyadarkanku dari arus kebingungan yang melanda.
Kutatap sekali lagi matanya. Tak ada kebohongan disana. Tapi apa yang mesti, kubuat coba? Nikahin dia? Ya, gak mungkinlah. Ortuku pasti gak kan setuju, apalagi aku yang masih kuliah sekarang ini.
Langsung kutarik tangan yang tadi menggenggam tangannya. Dari raut wajahnya yang membuat keningnya berkerut, aku yakin pasti dia sedang bingung ngeliat tingkahku barusan.
Tanpa kata, kutinggalkan dia disitu sendirian. Aku masuk ke kamarku. Mencoba menenangkan diri sejenak.
Kuyakinkan diriku bahwa pasti akan ada jalan keluarnya, nanti.
Aku pun masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarku, mencuci muka. Mencoba mencari kesegaran dari air yang membasahi wajahku. Biar tak tampak kusut dan bisa mengambil keputusan dengan cepat.
Setelah selesai mencuci muka dan mengelapnya, aku keluar kamar tuk kembali menemuinya.
Kunci motor di atas meja kugapai.
Melihat aku datang, kepalanya yang tadi tertunduk langsung tegak ke arahku. Mungkin mencoba memahami apa yang sedang kulakukan.
Dengan wajah datar tak seramah awalan tadi, kutatap wajahnya. Aku langsung memberi kode padanya tuk berdiri.
Dia yang masih dengan wajah penuh tanda tanya tetap mengikuti kodeku, berdiri dari duduknya.
"Ayok, kuantar pulang. Aku abis ini ada kuliah".
Cuma itu yang terucap dari mulutku. Lanjut kuberjalan ke arah pintu, membukanya. Mempersilahkannya tuk ikut keluar denganku.
Dia pun tanpa banyak tanya, langsung mengikutiku berjalan keluar.
Setelah menutup pintu dan menguncinya. Kulangkahkan kaki berjalan menuju motorku yang ada di basemen apartemen. Dia tetap mengekor di belakangku.
Sesampainya di dekat motorku. Kuberikan helm yang biasa di pakainya.
Dia sempat menatap bingung ke arahku. Tapi, tetap dipakainya helm yang kuberikan tadi. Setelahnya, dia naik.
Motor pun kustater. Begitu hidup, langsung kutancap gas tuk mengantarkannya pulang.
Selama dalam perjalanan, tak ada dari kami yang mencoba berbicara. Disitu mulai terasa kayak ada yang bangun tembok tinggi diantara aku dan dia.
Tembok tak kasat mata, yang mulai detik ini kuyakini bakal jadi penghalang bertemunya kami tuk selamanya.
Gilak aja aku disuruh tanggung jawab!
Kuliahku gimana, coba?
Belom lagi mau ngomong ke ortuku, belom apa-apa aku udah di suruh ninggalin dia.
Memang sih, itu anakku yang di kandungnya. Tapi, kan... gak gini juga jadinya ceritanya.
Aaarrgghh... Pusing kepalaku. Rasanya kek mau kebakar. Dah ngepul, pun, kurasa asapnya kalo' klen yang bisa liat!!!
Lagian kan, emang dari awal aku juga gak ada komitmen sama dia. Itu juga kami lakukan atas dasar suka sama suka, bukan dengan paksaan. Yaahh... walaupun di awal-awal memang aku yang mencoba membujuknya dengan segala rayuan mautku.
Seterah klen laahhh... mau klen bilang aku breng sekk... Seraaaahhhh... Gak peduli aku!!!
Lagian, ortuku juga gak kan setuju, aku sama dia. Laahh... dia kan yaaa bisa di bilang gak selepellah sama kami. Mana mau ortuku nerima dia. Karakter menantu idaman ortuku itu harus yang tinggi dan selepellaaahhh sama kehidupan kami. Apalagi, aku anak satu-satunya lelaki dan kesayangan ortuku.
Dah laahh.. tutup buku aja sama dia. Lagian, kek gak ada cewek lain lagi aja!! Secara, aku ini kan ganteng. Siapa sih yang gak mau samaku. Huhh..