Bab 7. Satria Bahari 4

1001 Kata
Kuhentikan motor tepat di depan gerbang kos-kosan tempat tinggalnya. Biasanya, aku ikut turun terlebih dahulu untuk membantunya melepaskan helm dan sedikit memperbaiki tatanan rambutnya, yang pasti bakalan kusut. Tapi, kali ini tidak. Jangankan untuk turun, mematikan mesin motorku pun tak kulakukan. Dia sempat terdiam beberapa saat, di atas motor. Mungkin karena tak ada gerakanku, akhirnya dia pun turun dan melepas helm yang dipakainya sendiri. Lalu menyerahkannya padaku dengan wajah yang terlihat sedih. "Gak, mampir dulu, Yank?" "Gak usah. Aku masih ada urusan". "Ooohhhh... Kalo' gitu, aku masuk ya?" "Iya". Begitu, kujawab kata-katanya. Langsung kutarik gas dan melesat sejauh mungkin darinya. Dari kaca spion bisa kulihat dia yang masih terpaku di tempatnya berdiri, sambil menatap nanar ke arahku. Astagaaa... Kenapa bisa jadi kekgini, coba? Perasaan, aku dah main aman loohhh! Kok masih bisa kebobolan? Atau... itu bisa jadi bukan anakku? Tapi, sepengetahuanku, Aizha bukanlah tipe gadis yang mudah luluh dengan gombalan receh ala-ala buaya darat yang gak jelas itu. Aku aja, butuh perjuangan yang tak sebentar tuk menaklukkan hatinya. Pokoknya, sejak kejadian itu, aku berusaha menghindar darinya. Semua telpon dan chatnya tak ada yang kuhiraukan. Seterahlah weee... Jujur nih yaaa... aku males di buat ribet sama hal-hal begituan. Lagian kan, gak ada di pikiranku tuk saat ini mengurus segala te tek bengek masalah pernikahan. Yang kutahu sekarang ini adalah saatnya menikmati hidup yang telah Tuhan berikan padaku, terutama, menghamburkan harta ortuku. Kapan lagi coba??? Soal pacar, masih banyak tuh cewek-cewek yang dengan sukarelanya nemplok padaku, bagaikan kuning telur yang takkan terpisahkan dari putih telurnya. hehehe Sampai suatu hari, saat baru pulang dari kampus, kudengar seperti ada keributan kecil dari dalam rumahku. Benar saja, ternyata sumber keributan tersebut tak laen dan tak bukan adalah orang yang sudah beberapa hari ini kuhindari keberadaannya. Siapa lagi kalo' bukan, kekasih hatiku, Aizha Fahira. Aku tersenyum kecut mengingat apa yang barusan kuucapkan tadi, 'kekasih hatiku'??? Masihkah pantas??? Kurasa sih... gak lah yaaa Barang bekas tuh, harusnya di buang pada tempatnya, bukan di pungut lagi. Yang ada, buat jadi cacat pemandangan tau gk siihhh! "Hei... ada paan neee?" tanpa rasa bersalah atau pun rasa sungkan, kusapa seisi rumah yang hari ini tumbenan pada kumpul semua, mengingat pada makhluk Tuhan yang paling cantik itu sekarang sudah jadi pusat perhatian. "Ini nih... biang keroknya dah pulang." sahut kakakku dengan juteknya. "Sat, berhenti bercandanya. Sekarang jelaskan ke Mamah dan Papah, kamu kenal sama perempuan ini?" "Kenal Pah, emangnya napa?" Kakakku yang terlihat paling geram melihat tingkahku barusan, langsung berdiri dari tempat duduknya, dan menarik tangan ku dengan paksa tuk duduk santai di sebelahnya. "Kenapa sih?" tanyaku pada siapa saja yang matanya tertuju padaku. "Kamu kenal gak, sama nih perempuan?" kembali mamah bertanya, karna aku masih berusaha bersikap tenang di depan mereka semua. "Iya, kenal. Dia, pacarku. Tapi..." ucapku menggantung, karna bingung mau bilang apa. "Tapi, apaaa... Sat?!" Papah sepertinya makin geram liat tingkahku yang masih santai, bukan sepertinya yang sudah seperti orang kebakaran kumis. Eehhh... seingatku Papah gak punya kumis looohhhh... Kalo' jenggot, ada siihhh. Tapi dikit, bisa di itunglah pakek jari. "Oke... Tapi, kami dah putus dari 2 bulan yang lalu". Sontak aja, setelah mendengar kata-kataku barusan, Aizha langsung membelalakkan matanya ke arahku. Seperti, tak terima dengan ucapanku barusan. "Sat, kamu ngucapin itu, lagi becanda, kan?" ucapnya tersendat, diiringi tetesan embun di matanya, mengaliri pipi mulusnya yang terlihat lebih berisi dari sebelumnya. Kesian siihhh liat mukaknya yang melas gitu. Tapi, kan, aku kekgini juga karna mau nyelamatin harga diriku, cuy! "Sapa, yang lagi becanda, siihhh? Kan, kita emang dah putus lama. Setelah kuanter kamu pulang waktu itu, disitu hubungan kita juga berakhir!" ucapku sambil berusaha mengintimidasinya, agar tak berharap apa-apa dariku. "Okey... Papah paham sekarang. Jadi, perempuan ini sudah kamu tinggalkan, dan sekarang datang kemari tuk ngemis-ngemis minta balikan lagi padamu, gitu, kan?" "Mungkin. Bisa jadi sih pa.. Soalnya, selama ini, dia masih terus-terusan neror aku. Neleponlah, chat aku_lah, padahal dah gak kuhiraukan lagi looohhhh! Dianya aja mungkin yang belom terima dan rela kutinggalin. Biasalah pa... Anak Papah, ini kan ganteng, tajir, pasti gak relalah dia... kehilangan aku." senyumku jumawa. "Bukan, begitu Om! Saya kemari karena.." "Sudah-sudah. Saya ngerti, mau kamu itu apa! Yang kamu incar itu duit, kan? Berapa yang kamu mau? Setelah itu, silahkan pergi dari sini, tinggalkan tempat ini dan satu lagi, lupakan anak saya! Harusnya kamu ngaca! Kamu gak pantes ada di tengah-tengah kami!" balas Papah, memotong ucapan Aizha. Karena yang kulihat, Papah dah mulai muak membahas hal tak penting ini. Makin tertunduklah kepalanya, Aizha setelah mendengar apa yang barusan di ucapkan oleh Papah. Dan, aku merasa menang atas pembelaan Papah barusan. Gak perlu buang-buang tenaga dan waktu, tuk menjelaskan kepada yang lain atas apa yang akan di sampaikan olehnya nanti. Untuk beberapa saat, suasana hening. Mungkin menunggu gimana reaksi Aizha, setelah apa yang di sampaikan Papah barusan. "Aku... hamil." cuma itu yang keluar dari mulutnya, tapi yang mendengarnya bagaikan orang yang di sengat tawon. Terkejut, melotot, tapi bukannya mengaduh kesakitan malah terpelongok. Baru reaksi selanjutnya mungkin bakalan ada yang menjerit, atau bahkan pingsan, mungkin? "Waaahhh... Tokcer juga si demit!" ucap kakakku sinis. "Kamu lagi becanda, kan?" kali ini Mamah yang merespon. "Aku gak bohong. Dan anak ini, anak kami berdua. Anakku dan Satria." Semua mata jadi menuju ke arahku, meminta penjelasan. "Oke... oke...! Kuakui, aku memang pernah tidur sama dia, tapi, aku main aman kok! Aku selalu gunain pengaman. Jadi... gak mungkinlah itu jadi anakku? Emangnya, tuh spirtus bisa nembus sarung guling yang kupakek? Gak, kan?" ucapku mencoba mencari pembelaan, agar tak jadi yang terhakimi disini. "Bisa jadi, kan, tuh bukan anakku? Aku juga gak bisa jamin kalo' kamu cuma main sama aku, doang? Bisa jadi, di belakangku, kamu maen sama yang lainnya? Kita, kan, gk tau? Kamu di luar sana ketemu sama sapa aja? Kita juga bukan yang 24jam full terus sama-sama, betul gak?" aku terus berusaha menyudutkannya, dengan mengucapkan kata-kata yang seolah menuduhnya. Agar aku bisa terbebas darinya. Gilak aja, aku di suruh nikahin dia nanti, ujung-ujungnya. Gak, kan, mau aku! Jalanku masih panjang woy! Masih banyak yang belum kunikmati di dunia ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN