9. Cepat Pulang

1102 Kata
Hari ini tepat dua bulan pernikahan mereka dan mereka harus berpisah selama seminggu. Sebenarnya sangat berat Adnan meninggalkan Aisyah karena selama dua bulan ini mereka selalu bersama namun hari ini Adnan harus keluar kota tepatnya di Yogyakarta untuk mengikuti pelatihan bagi seluruh Dokter umum di seluruh Indonesia. Masing-masing rumah sakit mengutus tiga orang untuk mengikuti pelatihan tersebut dan Adnan salah satu yang terpilih. "Benar kamu tidak mau ikut?" Tanya Adnan yang sudah berulang kali menanyakan hal tersebut, tetapi jawabannya tetap sama. Aisyah menggeleng "Tidak mas, kalau Aisyah ada di sana pasti akan merepotkan mas, nanti nggak fokus ikut pelatihannya. Mas kan di sana buat menuntut ilmu." ucapnya tersenyum "Merepotkan apa? Kamu tidak pernah merepotkan malah kehadiranmu sangat memudahkan seluruh pekerjaanku. Aku bisa tambah semangat kalau ada kamu." ucap Adnan dengan raut wajah yang lucu. "Kamu ikut ya?" Aisyah tetap menggeleng. "Ya sudah, kalau begitu tunggu aku pulang tanpa kurang satu apapun. Jangan sakit, selalu jaga kesehatan dan kabari aku." Aisyah mengangguk paham. Adnan akhirnya mengalah. "Jaga diri di sini, aku jaga diri di sana." Ucapnya mencium kening Aisyah. Aisyah mengangguk "Jaga hati di sana, aku jaga hati di sini." Adnan mencubit pipi Aisyah gemas. Setelah mengatakan itu mereka akhirnya berpisah karena rombongan dokter dari Makassar harus dikumpulkan terlebih dahulu. *** Aisyah untuk sementara waktu tinggal di rumah kedua orang tuanya karena dia masih belum memiliki asisten rumah tangga yang akan menemaninya di rumah. Pilihan yang paling baik adalah mengungsi dulu ke rumah orang tuanya. "Ibu, Aisyah punya tetangga mirip banget sama Ibu. Namanya Ibu Dinar, Aisyah disuruh panggil Ibu sama dia. Dia ngajarin Aisyah buat berbagai macam jenis kue." Aisyah mulai bercerita pada ibunya. Hari ini mereka tengah membuat kue kering untuk dibawakan ke salah satu teman pengajian ibunya. "Alhamdulillah, anak Ibu dipertemukan dengan orang yang baik." Ibunya tersenyum. "Tapi.." "Tapi kenapa?" "Setiap kali ketemu Ibu Dinar, Aisyah selalu ingat Ibu. Aisyah selalu rindu Ibu." Ucap Aisyah "Ibu dan Ayah juga sama rindunya dengan Aisyah, tetapi ini sudah jalannya sayang. Seorang istri harus mengikut kemana suaminya pergi daan ketika anak ibu lahir, maka saat itu ibu harus siap akan konsekuensinya." "Ibu tidak kesepian kan di sini?" Tanya Aisyah. "Kalau dibilanh kesepian, ibu sangat kesepian, nggak ada lagi Aisyah yang bantuin ibu cuci piring. Nggak ada Aisyah yang suara shalawatnya terdengar sampai ke kamar ibu, juga nggak ada lagi Aisyah yang bawel saat ayah lupa minum obat. Makanya berikan ibu dan ayah cucu agar kami tidak kesepian lagi." Pipi Aisyah bersemu merah. Selama ini Aisyah dan Adnan tidak pernah membahas serius tentang masalah ini. Adnan bisa mengerti bahwa Aisyah masih pemula, lelaki itu tidak menuntut Aisyah harus menjadi perempuan yang sempurna, tidak menuntut agar Aisyah pandai melayaninya. Baginya, cukup Aisyah yang apa adanya. "Ibu hanya bercanda, Jangan terlalu dipikirkan, jika Allah memberi segera Alhamdulillah tetapi jika belum maka jangan pernah berhenti membujuk Allah agar segera diamanahkan." Ucap Ibu Aisyah. "Assalamualaikum, Ayah pulang" Ayah Aisyah membuka pintu tanpa menyadari keberadaan Aisyah. "Wa'alaikumussalam" ucap Aisyah dan Ibunya bersamaan "Ayah, Aisyah rinduuuuu" Aisyah berhambur memeluk Ayah yang begitu dicintainya. "Aisyah kok tidak bilang kalau mau ke sini, tahu gitukan Ayah jemput." "Mau kasih kejutan buat Ayah" ucap Aisyah "Hari ini Aisyah dan ibu buat kue kering. Mau cobain nggak ayah?" Ayahnya mengangguk membuat Aisyah berlari menuju dapur, kedua orang tuanya hanya bisa geleng-geleng melihat putrinya yang sudah menjadi seorang istri namun bertingkah seperti anak kecil di hadapan keduanya. *** Hujan adalah rahmat yang diberikan Allah sebagai sarana agar hamba-Nya bisa mensyukurinya. Waktu mustajabnya berdo'a, maka alih-alih mengeluh setiap hujan mengapa kita tidak mencoba untuk memperbanyak berdo'a. Sudah tiga hari ini Hujan deras mengguyur kota Makassar. Saat orang yang berkecukupan berbaring di bawah selimut yang hangat, tertidur dengan nyenyak. Banyak para pedagang yang harus berjuang di jalanan, berteduh di bawah emperan toko. Tukang parkir harus kehujanan, sisa koran-koran dari anak-anak itu harus basah. Selepas shalat magribh, dia duduk di samping jendela. Memandangi rintik demi rintik hujan yang membasahi bumi Allah. Lambat laun makin deras. Hujan-hujan seperti ini Aisyah jadi mengingat Adnan. Ingin menelpon tapi takut menganggu, tidak menelpon tapi begitu merindukan. Apa kabar suaminya sekarang? Mereka memang jarang bertukar kabar selama tiga hari belakangan ini dikarenakan pelatihan Adnan yang begitu padat. Dimulai pukul tujuh pagi hingga pukul sebelas malam, paling cepat pukul sepuluh malam itupun saat pelatihan dihari pertama. Dan dijam itu Aisyah sudah terlelap. Terkadang lelaki itu menyempatkan diri menelpon saat istirahat makan siang. Kalaupun mereka berbicara paling hanya lima sampai sepuluh menit, kemudian Adnan akan kembali sibuk seperti biasa. Menjadi istri dari seorang dokter, berarti harus menyiapkan diri untuk ditinggal belajar karena sepanjang hidup dokter adalah belajar, belajar untuk menebar kebermanfaatan. Satu hal yang tidak ingin Adnan sesali adalah ketika lelaki itu gagal menyelamatkan nyawa pasien. Dia tahu bahwa ajal sudah digariskan, namun ketika dia menyadari pasien tersebut meninggal karena kurangnya ilmunya, adalah hal yang sangat tidak diinginkannya. Telpon Aisyah berdering menandakan ada telpon yang masuk, dia sangat berharap bahwa seseorang yang menelpon adalah suaminya. Tetapi ternyata itu adalah Caca. "Assalamualaikum Icah, aku boleh minta tolong nggak. Kamu bisa ke rumahku sekarang kah? Aku telpon orang rumah nggak diangkat. Aku mau minta izin nginap di rumah temanku buat nugas." "Wa'alaikumussalam. Iya, nanti aku sampaikan." "Oke. Thank's. Tolong juga sekalian bilang kalau jemuranku di teras tolong diangkat takutnya basah." Lagi-lagi Aisyah mengiyakan. "Udah dulu ya, bye. Assalamualaukum." "Wa'alaikumussalam." Aisyah kembali menyimpan telpon, bersiap-siap memakai cardigan untuk ke rumah Caca, namun telponnya kembali berdering. Ada harapan agar yang menlpon adalah suaminya. Aisyah mengangkat kedua sudut bibirnya. Benar saja Adnan yang menelpon. "Assalamualaikum sayang" ucap Adnan di ujung sana, terdengar napas lelaki itu tidak beraturan seperti orang yang baru saja berlari. "Wa'alaikumussalam mas, kok suaranya nggak beraturan." Aisyah tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. "Kamu baik-baik saja kan?" "Aku baik-baik saja di sini, kebetulan diberikan waktu dua puluh menit untuk istirahat. Jadi harus kekejar, kamu bagaimana?" "Alhamdulillah, aku juga baik kok di sini." "Alhamdulillah. Di sana juga hujan?" Tanya Adnan ketika mendengar suara hujan dibalik telepon. "Sudah tiga hari, di sana?" "Iya, sama dengan di sana. Sudah tiga hari." "Aku rindu" Jantung Aisyah berpacu lebih cepat, berdetak di luar batas normal. Dia bingung ingin menjawab apa. Apakah Aisyah harus mengatakan bahwa dia sama rindunya? Atau menyuruh Adnan agar segera pulang? Tetapi dia malu, sungguh meskipun mereka sudah bersama selama sebulan tetapi setiap ingin mengatakan kata-kata manis seperti Adnan barusan, Aisyah masih kesulitan mengontrol detak jantungnya. "Aisyah" "Ii..iya Mas?" "Aku merindukanmu lebih panjang dari umur waktu." Ucap Adnan lagi "A..aku juga rindu sama Mas" Adnan tertawa, suara tawanya begitu renyah "Kalau begitu aku pulang ya." "Pelatihannya kan masih empat hari lagi" "Itu masalahnya." Aisyah tertawa "Mas, sudah makan?" "Sudah tadi, kalau kamu?" "Sama, sudah tadi" Pembicaraan mereka terus mengalir hingga tak terasa sudah larut malam. Hujan pun sudah reda. "Mas, cepat pulang. Nanti, kalau mas pulang aku akan memasak makanan kesukaan mas" ucap Aisyah sungguh-sungguh "Iya sayang, mas akan cepat pulang. Sekarang, beristirahatlah. Assalamualaikum" "Wa'alaikumusallam" 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN