8. Rumah Impian Aisyah

1236 Kata
Pagi ini Aisyah sibuk mengemas barang-barang yang akan dibawanya ke rumah barunya, tepatnya rumahnya dan Adnan. Rumah yang akan menjadi saksi, bahagia dan sedih yang akan mereka bagi bersama. Rumah dimana dia akan mendidik anak-anaknya, rumah dimana suara tangis anak mereka akan terdemgar indah, rumah dimana mereka akan berbagi kasih. "Mas, boleh tidak aku menyimpan sebagian bajuku di sini?" Tanya Aisyah pelan pada Adnan yang sedang membaca koran. "Tentu saja boleh sayangku" Aisyah tersenyum lebar kemudian kembali mengemas barang yang akan di bawanya, menyisakan beberapa helai baju untuknya jika sedang menginap di rumah orang tuanya. Setelah mengemas barang-barangnya yang lumayan banyak padahal Aisyah tidak membawa semua barangnya. Tetapi, dua koper besar berisi baju-baju Aisyah dan satu koper untuk buku-buku yang belum sempat dia baca dan barang lain yang pasti sangat dia butuhkan nanti sudah sangat banyak. "Yah belum masuk semuanya" ucap Aisyah cemberut membuat lelaki yang sibuk membaca koran itu mengalihkan perhatiannya. "Kenapa sayang?" "Itu, barangku belum masuk semua." "Nggak apa-apa, nanti kita cicil bawanya. Kamu bawa yang penting-penting dulu. Selebihnya, nanti kita ambil kalau Mas lagi libur" Adnan mengusap kepala Aisyah pelan. "Terima kasih Mas" ucapnya Mereka kemudian turun untuk sarapan bersama orang tua Aisyah. "Mas, mau selai kacang atau cokelat?" Tanya Aisyah yang sudah memegang roti tawar dengan dua selai di depannya. "Terserah kamu" Adnan tersenyum lembut. "Ya sudah, selai kacang saja. Mau sedikit saja atau banyak?" "Sedang-sedang saja sayang." "Aku kan bilang sedikit atau banyak" ucap Aisyah sengaja ingin menggoda Adnan. Meskipun mereka terbilang pengantin baru tetapi mereka sudah sering saling menggoda satu sama lain. Aisyah yang semula malu-malu menjadi terbiasa dengan Adnan yang membuatnya merasa nyaman. Meskipun, sesekali kepolosannya itu masih ada dan kadang membuat Adnan gemas. "Tetapi aku maunya sedang-sedang saja, kalau sedikit nanti tidak puas, kalau banyak nanti selai kacangnya cepat habis." Ucap Adnan bercanda Aisyah tertawa "Mau minum s**u atau teh?" Aisyah kembali bertanya "Mau teh saja sayang." Adnan benar-benar gemas dengan Aisyah, andai mereka sedang tidak berada di hadapan kedua orang tua Aisyah, pasti pipi Aisyah akan dicubitnya. Ayah dan Ibu Aisyah tertawa melihat tingkah anak semata-wayangnya yang benar-benar lucu. "Ayah jadi ingat waktu masih pengantin baru seperti kalian. Ibu itu persis seperti Aisyah yang bahkan takaran gulanya pun dipertanyakan." "Ingat umur Ayah, ini bukan waktu yang tepat membahas masa lalu." ucap Ibu Aisyah tersipu malu. *** Ibu Aisyah memeluk erat Aisyah, air mata mengalir dipelupuk matanya "Aisyah harus sering telpon ibu, kalau lagi sedih atau ada masalah cerita sama ibu. Jangan dipendam sendirian." Ucapnya tidak kuasa menahan tangis. "Iya ibu, Aisyah pasti akan cerita. Aisyah sayang banget sama ibu" tangis Aisyah pun tidak kuasa dibendungnya. "Ibu juga sayang sama Aisyah" Ibu Aisyah mengecup kedua pipi anak kesayangannya. "Nak Adnan, jangan marah yah kalau Aisyah belum terlalu pintar memasak, belum bisa masak makanan yang kamu inginkan, dia masih belajar memasak." "Tidak masalah bu, Adnan menjadikan Aisyah sebagai seorang istri bukan sebagai chef di rumah makan." Mereka semua tertawa mendengar candaan dari Adnan. "Aisyah jadi istri yang penurut yah nak" ucap Ayah Aisyah. "Iya Ayah" Ayah Aisyah menghapus air mata Aisyah dengan lembut. "Jangan menangis dong hidungnya jadi seperti badut." Aisyah memeluk erat Ayahnya. "Sering main kesini, biar Ayah dan Ibu tidak kesepian" Ayahnya berbisik pelan ditelinga anaknya. "Pasti Ayah" jawab Aisyah "Kami pergi dulu Ibu, Ayah. Assalamualaikum" ucap Adnan pamit kepada kedua orang tua Aisyah yang sekarang menjadi orang tuanya juga. "Wa'alaikumussalam"  *** Begitu memasuki area rumah baru mereka, Aisyah tak henti-hentinya berdecak kagum. Ini benar-benar rumah impiannya. Taman yang luas dengan aneka bunga yang tumbuh subur di sana, mawar, melati, anggrek, jasmine dan banyak jenis bunga lainnya yang tumbuh di sana. Jendela kaca besar yang mengarah langsung ke taman menambah keindahan di rumah ini. Ketika hujan turus pasti sangat menyenangkan menikmati kopi sembari bercengkerama di sana. Dapur luas dengan peralatan lengkap yang pastinya membuat Aisyah bersemangat untuk belajar memasak, ruang keluarga yang dilengkapi Home theater, ruang tamu dan terakhir kamar mereka dengan desain yang begitu indah. "Kamu suka?" Tanya Adnan "Sangat suka, terima kasih Mas" saking bahagianya Aisyah memeluk Adnan begitu erat "Eh, maaf mas" ucap Aisyah ketika menyadari kesalahannya. "Sebagai hukumannya kamu harus masak nasi goreng buat aku." Adnan tersenyum penuh arti "Ta..tapi aku baru belajar buat nasi gorengnya kemarin, jadi Mas adalah orang yang pertama yang mencicipinya" "Tidak masalah, tunggu apalagi? Aku sudah sangat lapar" Adnan memegang perutnya dan berekting seperti orang kelaparan. Adnan mengamati wajah serius Aisyah dan tak henti-hentinya tersenyum. Aisyah sangat menggemaskan. "Ja..jangan liatin gitu dong Mas, aku gak konsen nih." Adnan tertawa "Jadi aku harus tutup mata?" Adnan menutup matanya dengan kedua tangannya. "Kamu duduk di meja makan dulu, aku grogi kalau ada kamu" ucap Aisyah jujur. "Ada syaratnya" "Jangan pakai syarat-syaratan dong Mas. Tuh kan, aku lupa udah masukin garam atau belum." Aisyah gemas sendiri melihat tingkah Adnan yang begitu kekanak-kanakan. "Ya sudah aku pergi, bibirnya jangan manyun gitu dong." Adnan mengecup pipi Aisyah kemudian berlari menuju meja makan. Aisyah menyentuh pipinya kemudian tersipu malu, sungguh Adnan benar-benar pandai membuatnya salah tingkah seperti ini. "Gimana rasanya Mas?" Tanya Aisyah "Belum juga disuap sayang." Aisyah terkekeh. "Gimana?" Tanya Aisyah setelah Adnan menyuap nasi goreng buatannya. "Masyaa Allah, enak. Istriku ternyata sangat pandai memasak." ucap Adnan jujur, masakan Aisyah memang benar-benar enak untuknya yang masih pemula. "Alhamdulillah, tapi kamu tidak bohong kan?" "Mana mungkin aku bohong, semua masakan yang kamu masak pasti enak karena selain bumbu yang pas kamu juga memberi cinta di dalamnya." "Dasar gombal" mereka berdua tertawa sembari menghabiskan makan siang mereka. Setelah menghabiskan makanan mereka Adnan pamit untuk melaksanakan salat dzuhur di Masjid yang tidak jauh dari kediamannya sementara Aisyah salat dzuhur di rumah. "Ya Allah, aku telah mencintainya sejak dia memutuskan untuk menikahiku. Aku mohon agar kiranya cintaku kepadanya tidak melebihi rasa cintaku kepadamu ya Rabb. Ya Allah, dekatkanlah aku dan dia kepada keridhoan-Mu dan jauhkanlah aku dan dia dari kemurkaan-Mu. Berilah aku dan suamiku kemampuan untuk membaca ayat-ayat-Mu dengan rahmat-Mu, Wahai Zat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." Aisyah mengakhiri do'anya. "Assalamualaikum" Adnan membuka pintu kamar mereka dengan senyuman yang tidak pernah hilang dibibirnya. Apakah dia tidak lelah terus-terusan tersenyum? "Wa'alaikumussalam" Aisyah mencium punggung tangan Adnan. "Mau berkeliling kompleks?" Tanya Adnan "Mau Mas, aku mau berkenalan dengan tetangga kita." Ucap Aisyah antusias "Tunggu sebentar, Aku siap-siap dulu" "Aku tunggu di bawah" ucap Adnan *** Udara disekitar kompleks sangat segar, banyak tetangga tersenyum ramah kepada dua pengantin baru tersebut. Adnan dengan senang hati memperkenalkan istrinya kepada tetangga yang lebih dahulu mengenalnya. "Jadi ini wanita yang berhasil membuat Adnan jatuh hati, sampai anak saya sekalipun ditolaknya" ucap Bambang bercanda, dia adalah salah satu tetangga yang sudah dianggap seperti Ayahnya sendiri "Tidak salah kamu menerima lamaran Adnan, dia itu pemuda yang limited. Stoknya terbatas." ucap Bambang tersenyum ramah kepada Aisyah. "Terima kasih Om" Aisyah balas tersenyum. "Ayo masuk kedalam, Om kenalkan dengan istri Om, dia pasti senang melihatmu." Saat masuk ke dalam rumah mewah bergaya klasik itu benar saja mereka berdua disambut Ramah oleh Dinar, istri dari Bambang. "Masyaa Allah cantik sekali kamu sayang" ucap Dinar menangkup pipi Aisyah. "Terima kasih Tante" "Adnan memang tidak salah pilih" ucap Dinar kepada Adnan "Kamu datang disaat yang tepat, kamu mau tidak bantu tante buat kue?" Aisyah mengangguk antusias "Mau banget tante" ucap Aisyah lalu matanya menatap Adnan dengan tatapan memohon "Boleh tidak Mas?" Tanyanya pada Adnan. "Tentu boleh sayang" Adnan tersenyum. Sungguh, Aisyah benar-benar sangat memimpikan ini. Hidup di tengah tetangga-tetangga yang ramah dengan rumah yang selalu membuatnya merasa nyaman. NOTE: udah rajin kan? Hahaha do'akan agar rajin update terus. Jalan ceritanya sudah ada dikepala sih tapi masih kesulitan untuk menulis karena faktor dunia kuliah yang makin hari makin kesulitan tetapi aku menargetkan untuk menyelesaikan cerita ini januari 2018 karena aku mau konsisten menyelesaikan satu cerita dahulu baru lanjut cerita yang lain. Jangan lupa vote dan komentarnya juga sangat dibutuhkan. Meskipun hanya berupa emoticon hahaha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN