7. AKAD

1558 Kata
Hari ini prosesi akad dilaksanakan di kediaman Aisyah, rumahnya telah ramai oleh sanak keluarga, kerabat dekat dan tetangga yang datang untuk membantu dan melihat jalannya prosesi akad. Sengaja akad dilaksanakan, di rumah karena masjid tempat akadpun cukup dekat dari rumah Aisyah. Pekarangan rumahnya juga luas dan Insyaa Allah tidak mengganggu lalu lintas. Sepupu juga keponakan Aisyah memenuhi kamarnya untuk sekadar melihatnya dirias, Ratu, keponakan Aisyah yang berumur 5 tahun tidak henti-hentinya memuji kecantikan Aisyah "Tante nanti kalau Latu besal Latu mau kayak plinces kayak tante"  Ratu memang belum fasih menyebut huruf R. Aisyah tak bisa menahan diri untuk tidak mencubit pipi Ratu yang tembam dengan gaya bicaranya yang menggemaskan "Iya sayang, nanti kalau Ratu sudah besar akan di dandani lebih cantik dari Tante." Aisyah menaikkan kedua jempolnya. "Benel tante?" Ucap Ratu semangat "Iya sayang, tapi ada syaratnya." Ucap Aisyah "Calat itu apa tante?" Aisyah lupa bahwa Ratu masih belum banyak mengetahui kosa kata. "Syarat itu tiket biar kamu bisa seperti princess" "Wah, kalau gitu apa calatnya tante?" Ucap Ratu antusias "Syaratnya kiss pipi tante" "Jangan syah, nanti make up kamu berantakan lagi" ucap Medina, ibu dari Ratu sekaligus sepupunya. "Nggak apa-apa mbak" jawab Aisyah yang sekarang sudah memberi akses agar Ratu dapat lebih mudah mencium pipinya. "Sayang tante" ucap Ratu setelah mendaratkan ciuman ke seluruh wajah tantenya. "Dokter Adnan udah datang." Ucap Caca bersemangat ketika melihat rombongan keluarga Adnan lengkap pengantin pria. Aisyah seolah kembali ke dunia nyata. Hari ini, diumurnya yang masih muda, dia akan segera dipersunting oleh lelaki pilihannya, lelaki yang kini akan segera menjadi pemimpin dalam rumah tangga yang akan dia jalani. "Ayo anak-anak, sekarang mainnya di luar, kamar mbak Aisyah mau di sterilkan dulu" Caca nyengir kepada Aisyah, kemudian membawa anak-anak yang tadi mengelilingi Aisyah keluar dari kamar, meskipun banyak yang menggerutu karena masih ingin menikmati kecantikan Aisyah. Setelahnya semua sepupu-sepupunya yang lain ikut keluar kecuali Mbak Medina. "Mbak tahu, kamu pasti deg-degan kan? Mbak dulu juga sama seperti kamu, ini memang saat-saat menegangkan tapi kamu harus menikmatinya karena ini akan menjadi hari yang paling kamu ingat." Ucap Medina ketika situasi sudah tenang dan terkendali. "Iya Mbak deg-degan banget" ucap Aisyah "Aisyah mau nanya boleh Mbak?" Medina mengangguk "Apa itu dek" "Kehidupan rumah tangga itu seperti apa sih mbak, sulit kah??" Tanya Aisyah "Menurut mbak, dibilang sulit pun tergantung kita melihatnya dari sudut pandang yang mana. Pernikahan itu seperti kamu sedang ada di taman bermain, semua wahana permainan ada di dalamnya, permainan yang menakutkan, santai, menegangkan dan juga bahagia pasti ada di dalamnya. Begitupun dengan pernikahan, tetapi kalau kamu menikmatinya pasti tidak akan terasa berat" "Dulu Mas Fiat waktu lamar mbak, mbak masih seumur kamu. Jadi tahu betul apa yang kamu rasakan, kamu pasti berpikir kehidupan rumah tangga itu menyeramkan. Kamu harus tahu masak, mau kemana-mana harus izin suami dulu, ruang gerak terbatas, belum lagi kamu harus menyesuaikan diri sama ibu mertua yang pastinya berbeda dengan ibu kandung kamu." "Tapi, Mbak mencoba untuk belajar agar mas Fiat tidak menyesal karena telah memilih Mbak. Setidaknya beliau bisa menunjukkan ke ibu mertua mbak, kalau dia tidak salah memilih menantu. Sekarang, alhamdulillah Mbak bisa melewatinya, ditambah sekarang sudah ada Ratu yang menghibur Mbak disaat sedang lelah-lelahnya mengurus rumah." Medina tersenyum "Kamu pasti bisa Syah, nikmati setiap momennya, salah satunya rasa deg-degan kamu saat ini." ucapnya "Makasih mbak atas nasehatnya." Aisyah memeluk Medina yang baginya seperti kakak kandungnya sendiri. "Kapanpun Aisyah butuh nasehat mbak, Insyaa Allah Mbak akan selalu siap mendengarkan curhatan kamu." Medina tersenyum "Mbak keluar ya dek" Aisyah mengangguk, kini tinggal lah dia sendiri. Semalam Ayah dan Ibunya datang dan memberinya nasehat yang mungkin setiap putri yang akan berpisah dari kedua orang tuanya akan merasakan hal yang sama. "Aisyah sayang kan sama Ayah Ibu?" Ucap Ayahnya memeluk anak perempuan yang begitu disayanginya. "Sayanglah Ayah, sayang banget malah" ucap Aisyah. "Terima kasih ya sayang, selama menjadi anak ayah, Aisyah selalu berbakti kepada ayah dan ibu, Aisyah jadi anak yang baik dan tidak pernah mengecewakan kami. Aisyah tahu bukan Ayah dan Ibu menyayangi Aisyah meskipun kami jarang mengucapkannya." Aisyah mengangguk. "Ayah masih ingat bagaimana Aisyah jatuh dari sepeda dan menangis mencari ayah dan ibu, saat Aisyah terkunci di toilet, saat Aisyah gagal masuk ke Smp favorit, saat Aisyah tidak bisa menjadi juara serta saat Aisyah harus diopname di rumah sakit. Ayah dan ibu selalu ada disetiap momen itu, menemani Aisyah dan menenangkan Aisyah" air mata lelaki paruh baya itu tidak bisa dibendung lagi, mengingat sebentar lagi tugasnya akan segera digantikan dengan Adnan. "Sekarang, disetiap momen disisa waktu Aisyah, ayah dan ibu mungkin tidak akan selalu menemani Aisyah. Sekarang sudah ada Adnan, surga Aisyah juga bukan lagi di telapak kaki ibu, tapi sudah berpindah ke Adnan. Jadi, Aisyah sekarang harus belajar untuk menyesuaikan diri" ucap ayahnya lembut. "Boleh nggak, ayah dan Ibu meminta sesuatu?" "Ayah boleh meminta apapun, lebih dari satu juga nggak apa-apa, selama Aisyah bisa melakukannya" Ayahnya mengecup kening anaknya. "Sekarang jika Aisyah ingin berbakti kepada Ayah dan Ibu maka Aisyah harus menuruti segala perkataan Adnan. Apapun yang Adnan katakan, ikutilah selama itu tidak menentang syariat islam. Jangan pernah menunjukan wajah masam dan berani membentaknya, sekalipun Aisyah begitu marah, sekalipun Aisyah begitu kecewa. Jadikan ibu sebagai panutan Aisyah. Aisyah nggak pernah kan liat ibu marah sama ayah" Aisyah mengangguk, selama hidupnya dia tidak pernah melihat ibunya membentak ayahnya "Kalau Adnan lelah datanglah menghiburnya, kamu juga harus selalu ada disaat dia butuh teman untuk berbicara, jangan biarkan dia kesepian." ucap Ayahnya Aisyah dapat melihat bahwa ayahnya sedang mati-matian menahan tangisnya. Sementara Ibunya tidak henti-henti memeluknya dan menangis, hanya tangisan tetapi mampu membuat Aisyah mengerti, bahwa kini surganya benar-benar berpindah. Sebelum beranjak Ayahnya membisikkan kata-kata yang membuat Aisyah tidak henti-hentinya menangis. "Nak, sekarang yang utama adalah Adnan. Kalau ingin bahagiakan Ayah dan ibu, maka bahagiakanlah Adnan. Jadi, istri sholehah ya mutiara cantiknya ayah" *** Dapat Aisyah dengar lewat pengeras suara betapa mantapnya Adnan mengucap ijab kabul, kini dia benar-benar resmi menjadi seorang istri. "Ya Adnan Ramadhan Haritsah bin Haritsah anakahtuka wa zawwaj-tuka makhthubataka Aisyah Adira Akbar binti Akbar bi mahri mushaf alquran wa alatil ‘ibadah haalan" "Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madz-kuur haalan" ucap Adnan dengan sekali tarikan napas, ucapan syukur tidak hentinya menggema, semua orang yang berada di sana merasakan kebahagiaan. *** "Assalamualaikum warohmatullahi wabarakatuh" Adnan membuka pintu kamar Aisyah, dekorasi kamar pengantin dengan bunga mawar merah yang mendominasi menjadi hal pertama yang ditangkap oleh mata Adnan "Wa..wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh" Aisyah meneguk salivanya, Aisyah telah duduk manis dengan gaun putih yang membungkus tubuhnya. Aisyah gemetar, tangannya sudah dingin dan berkeringat. Adnan tersenyum manis dan duduk di hadapan perempuan yang kini telah halal untuknya. Tanpa disuruh Aisyah mengambil tangan Adnan untuk kemudian dia cium punggung tangannya. Adnan tersenyum lembut kemudian menyentuh ubung-ubun Aisyah sembari membaca do'a " Allaahumma innii as-aluka khayraha wa khayra maa jabaltahaa 'alaihi wa a'uudzu bika min syarrihaa wa min syarri maa jabaltahaa 'alaihi. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya." Kemudian di kecupnya dahi Aisyah dalam-dalam, wanita yang di cintainya sekian lama kini sudah halal untuknya" "Mari kita sholat sunnah dua rakaat" ucap Adnan yang diangguki oleh Aisyah, dia benar-benar menjadi sosok yang pendiam "Kamu masih memiliki wudhu?" "Ii..Iya kak, belum batal" ucap Aisyah terbata-bata, Adnan tersenyum melihat tingkah wanita yang menjadi istrinya sekarang "Kenapa Kak Adnan tertawa?" Tanya Aisyah, Adnan malah menggeleng dan melanjutkan tawanya. Apa kah ada yang salah dengan dirinya? Apakah make upnya aneh? Apa dia seperti ondel-ondel? Ini pertama kalinya wajahnya dirias, apakah dia terlihat berbeda? Astagfirullah Aisyah, dia segera mengenyahkan pemikiran anehnya kemudian berdiri di belakang Adnan untuk melaksanakan sholat dua rakaat. Abdullah bin Mas'ud pernah mengatakan kepada seseorang yang baru menikah, Kalau istrimu datang menghampirimu, maka perintahkanlah dia shalat dua rakaat di belakangmu" (HR. Abu Bakr bin Abi Syaibah). *** Setelah menemui tamu-tamu yang hadir, mereka akhirnya dapat beristirahat dengan tenang di dalam kamar. Adnan dan Aisyah sudah memakai piyama couple yang telah disediakan oleh Ibu Aisyah. Meskipun awalnya mereka berdua menolak, karena malu. "Aisyah, bolehkah kakak meminta sesuatu kepadamu?" Aisyah bukan main kagetnya, apakah Adnan akan meminta haknya sebagai suami? Aisyah belum siap tetapi jika Aisyah menolak Allah akan murka kepadanya. Adnan menangkup kedua pipi Aisyah "Tenang, Kakak tidak meminta yang aneh-aneh, kakak cuma mau kamu berhenti memanggilku dengan sebutan kakak, nanti kalau kita jalan, bukannya sebagai suami tetapi orang akan mengira jika kamu adalah adikku bukan istrimu." "Lalu, kakak mau Aisyah panggil apa?" Tanya Aisyah "Panggil sayang juga boleh" Adnan menggoda Aisyah yang membuat pipi Aisyah merona. "Kalau Mas, boleh nggak kak? Soalnya Ibu memanggil sebutan itu untuk Ayah." Tanya Aisyah. Adnan tersenyum "Boleh sayang" sayang? Ini kali pertama Adnan memanggilnya dengan sebutan sayang dan hal itu benar-benar sukses membuat jantung Aisyah berpacu lebih cepat. "Aisyah, boleh Mas mengajukan pertanyaan?" Ucap Adnan "Pertanyaan apa itu Mas?" Pipinya bersemu merah, bukan pipi Aisyah melainkan pipi Adnan. Ini kali pertama Aisyah memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Romansa pengantin baru memang hampir saja membuat mereka jantungan satu sama lain. "Dua hari lagi, cuti Mas akan berakhir dan otomatis kita akan segera kembali ke rumah Mas. Tetapi, kalau Aisyah masih ingin berlama-lama di sini, Mas akan mengizinkannnya. Tetapi mungkin Mas akan ke sini setiap tiga hari sekali karena banyak hal yang harus Mas selesaikan dan jarak rumah orang tua Aisyah dan rumah sakit cukup jauh." Hening selama beberapa detik hingga kemudian Aisyah menjawab perkataan Adnan. "Aisyah sudah resmi menjadi istri Mas, Mas adalah imam Aisyah jadi kemanapun Imam pergi pastilah makmumnya akan ikut." Aisyah tersenyum lembut. "Terimakasih istriku" kemudian Adnan mencium kening Aisyah membuat mata perempuan itu membulat. "Aisyah maluuu" Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangannya membuat Adnan tertawa. "Manisnya istriku" ucapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN