6. Lamaran Adnan

1913 Kata
“Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. Tirmidzi. Al Albani berkata dalam Adh Dho’ifah bahwa hadits ini hasan lighoirihi). Hari ini adalah hari yang begitu mendebarkan bagi dua umat manusia, yang satu tidak bisa menetralkan perasaannya karena takut akan penolakan dan yang satu lagi bimbang dengan jawaban yang akan dia berikan kepada lelaki yang ditemuinya semalam. "Ca, aku takut" ucap Aisyah, Caca yang sedang memainkan ponselnya memutar bola matanya, dia sudah berulang kali menenangkan Aisyah tapi temannya ini benar-benar susah untuk tenang, belum beberapa menit dia akan kembali mengatakan kalimat tersebut. "Kamu bawa santai saja, rileks dong, ini bukan putusan pengadilan untuk terdakwa kok" "Kamu ini malah bercanda, Liat daja nanti, kalau kamu ada di posisi aku baru deh sadar gimana rasanya" ucap Aisyah mencoba mengatur nafasnya. Caca mengernyit "Idih, siapa coba yang mau nikah" jawab Caca memutar bola matanya. Dia paling anti membahas mengenai pernikahan dirinya. "Hush, do'a loh itu" ucap Aisyah mencubit pipi kanan Caca "Emang aku gak mau nikah kok" jawab Caca cuek. Caca memang sangat parno dengan yang namanya pernikahan setelah kakak sulungnya, Kak Mitha bercerai dengan suaminya karena mengalami kekerasan rumah tangga. Bahkan, kekerasan itu terjadi di depan matanya sendiri. "Tenang saja, aku yakin Dokter Adnan itu lelaki yang baik untuk kamu, dia sholeh, ganteng, mapan, dia nggak bakal mungkin menyakiti kamu. Lelaki seperti itu jarang ditemui dikehidupan nyata. Paling di cerita w*****d atau drama doang. Tapi kalau kamu pun belum yakin pun nggak apa-apa, itu pilihan kamu. Namun, harus kamu ingat, kalau kamu menolak dia, kedepannya belum tentu kamu mendapatkan suami yang seperti dia, suami yang bisa membimbing kamu ke surga." Caca benar, jika Aisyah menolak Adnan belum tentu dia akan mendapatkan lelaki seperti Adnan nanti. Bisa jadi lelaki yang datang setelah Adnan, tidak lebih baik dalam urusan agama. Ah entah, dia bimbang. "Ayo, sekarang kita keluar, aku udah di w******p sama Ibu kamu, kita di suruh turun sekarang." Ucap Caca yang telah diberi tugas untuk membawa Aisyah turun. "Jangan dulu Ca" Aisyah mengenggam tangan Caca erat, seperti seorang anak yang tidak mau ditinggal pergi oleh ibunya ke pasar. Bisakah Aisyah menghilang saja sekarang dan baru muncul ketika Adnan sudah pergi dari rumahnya tetapi ini bukanlah negeri dongeng. Aisyah hidup di dunia nyata dan sekarang dia harus menghadapi realita tersebut. "Kamu tidak sendiri. Ada Ayah, Ibu, dan keluarga dari Dokter Adnan, ada aku juga yang menemani kamu" Aisyah menggeleng, dia takut. "Atau mau Dokter Adnan saja yang menjemput?" Aisyah lantas menatap horor Caca yang sekarang cengengesan. Dia menggigit bibirnya dan mengucapkan bismillah dalam hati. "Ayo, orang di bawah pada nungguin, nggak sopan loh kalau mereka dibiarin menunggu lama." Aisyah dengan berat hati mengikuti langkah Caca. Jantungnya berpacu dua kali lebih cepat, dia menuruni anak tangga dan kemudian sampai di depan lelaki yang duduk di hadapan kedua orang tuanya. Adnan tersenyum. Adnan dua kali lipat, ah tidak sepuluh kali lipat lebih tampan hari ini. Dengan kemeja biru navy yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih di tambah senyum manisnya, jika dia tersenyum ada lesung pipi yang tercetak jelas di sana. "Duduk di sini Aisyah" ucap Ayahnya, Aisyah duduk di tengah, disampingnya ada ayah dan ibu, posisinya berada tepat di hadapan Adnan. "Adnan telah menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. Adnan dengan niat baiknya ingin melamar kamu sayang tapi ayah dan ibu menyerahkan keputusan sepenuhnya sama kamu. Jika kamu menerima, Ayah dan Ibu juga akan menerima begitu pun sebaliknya, jika Aisyah belum siap, ayah akan menerimanya." Ucap Ayahnya menatap putrinya dengan lembut, Aisyah sudah tahu bahkan dia yang menyuruh Adnan untuk datang ke rumahnya jika memang dia benar-benar serius dan lelaki yang tidak jauh dari pandangannya benar-benar serius dengan apa yang diucapkannya. "Silahkan nak Adnan, tanyakan sendiri kepada Aisyah" sambung Ayah Aisyah. Dengan raut wajah yang tenang, Adnan berbicara dengan nada yang paling lembut kepada perempuan yang sudah lama mengisi ruang dihatinya "Sudah lama Kakak ingin menanyakan ini tetapi baru qadarullah baru terlaksana sekarang" Adnan memberi jeda "Aisyah Adira Akbar, bersediakah kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku, menjadi seseorang yang akan mendampingiku di saat bahagia dan juga ada disaat terburuk di dalam hidupku. Serta menjadi makmumku untuk menggapai surga-Nya nanti?" Ucap Adnan, siapa pun yang mendengarnya pasti tahu bahwa tidak ada keraguan disana terdengar mantap dalam satu helaan nafas. Aisyah diam menimbang jawaban yang akan dia lontarkan, hingga akhirnya suara Aisyah menggema, semoga hal ini adalah jawaban dari sholat istikharahnya "Bismillah, apabila Ayah dan Ibu ridha, izinkan Aisyah menerima lamaran dari Kak Adnan" kemudian Aisyah kembali menunduk malu. Hari ini dia dibuat luluh dengan kalimat yang Adnan ucapkan. Bahkan, caranya mengucapkan itu begitu yakin, membuat perempuan itu merasa terlindungi jika mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya. Allah adalah penulis skenario terbaik. Semoga keputusan Aisyah untuk menerima lamaran Adnan adalah keputusan yang benar. "Bagaimana Om, Tante, apakah Om dan Tante bersedia menerima lamaran dari Adnan?" Ucap Adnan "Om dan Tante tentu saja bersedia menerima lamaran kamu, Adnan" ucap Ayah Aisyah, semua orang yang ada di ruangan itu mengucap syukur kepada Allah subhana wata'ala. *** "Masyaa Allah, kamu cantik banget" ucap Caca ketika melihat Aisyah mengenakan gaun pengantin yang dijahit oleh ibu dari Caca yang nota benenya seorang desainer terkenal yang sering merancang baju para artis tanah air, bukan rancangan baju sexy yang lekukan tubuh si wanita terekspos sempurna melainkan baju yang wanita muslimah seharusnya pakai, longgar dan tidak menerawang. Seperti yang Aisyah pakai hari ini, gaun putihnya nampak kontras dengan wajahnya yang berseri dan kulitnya yang putih membuat gaun itu pas, apalagi kebahagiaan di wajahnya begitu kentara. "Gimana gaunnya sayang, ada yang perlu tante perbaiki atau mungkin Aisyah mau ganti gaun yang lain?" Tanya Ibu Caca "Nggak ada kok Tante, aku suka banget detailnya." Ucap Aisyah sopan "Harus suka dong, kan ibu aku ngejahit" ucap Caca yang di hadiahi gelengan dari ibunya, anak yang percaya dirinya over. Setelah fitting baju Aisyah dan Caca memutuskan untuk jalan-jalan, kata Caca mungkin ini akan menjadi jalan-jalan terakhirnya dengan Aisyah tanpa harus meminta izin kepada calon suami temannya. Waktu memang berjalan dengan cepat, rasanya baru kemarin mereka berebut boneka. Sekarang mereka telah tumbuh menjadi wanita yang akan dipersunting oleh lelaki pilihannya. "Kamu tuh Ca, bener-bener bikin bingung tahu nggak. Keliling dari toko satu ke toko yang lain, ujung-ujungnya barang yang kamu pilih yang ada di toko pertama." Aisyah mengeleng takjub. Kakinya sudah pegal karena menemani sahabatnya itu. "Memilih itu memang harus banyak pertimbangan, kamu harus memilih yang terbaik, kamu harus tahu itu, apalagi kalau pilihannya banyak" "Omonganmu Ca, gaya banget." Caca hanya nyengir tanpa dosa. Mereka berdua berjalan beriringan sampai bahu tegap seseorang tidak sengaja menabrak tubuh mungilnya, barang-barang serta tasnya jatuh berserakan. "Maaf dek, saya tidak sengaja" ucap pria yang menabrak Aisyah "Hati-hati bang kalau jalan" bukannya Aisyah, malah Caca yang menjawab, andaikan dia tidak memegang adab kepada orang yang lebih tua sudah di pastikan dia akan mengamuk. "Maaf sekali lagi dek" pria itu kemudian berlalu. "Gini nih orang kalau jalan nggak liat-liat" ucap Caca cemberut sambil membereskan barang-barang Aisyah yang berserakan, untung saja ini bukan hari libur jadi masih kurang orang yang berlalu-lalang hingga mereka dapat membereskan barang dengan cepat. "Allah beserta orang yang sabar Ca" ucap Aisyah "Kan aku yang ditabrak, kenapa malah kamu yang marah" Aisyah tertawa melihat sahabatnya yang mendelik tajam kemudian perempuan itu beristigfar. Caca memegang dadanya kemudian bergumam "Astagfirullah, sabar Caca, orang sabar jodohnya oppa-oppa korea" lalu mereka berdua tertawa. "Kalau oppa korea aja, semangat banget" tegur Aisyah mendapat anggukan mantap dari Caca. "Kamu belum tahu sih sensasi suka cowok itu gimana. Nanti, kalau kamu jatuh cinta sama Dokter Adnan, baru deh kamu rasain apa yang aku rasakan selama ini" Aisyah hanya diam, dalam hati dia bertanya-tanya memang iya, sehebat itu sampai membuat kita senyum-senyum sendiri seperti apa yang Caca rasakan saat memandang foto lelaki yang bahkan tidak pernah ditemuinya di dunia nyata? *** "Kamu lihat ponsel aku nggak Ca?" Ucap Aisyah ketika menyadari ponselnya tidak ada di dalam tas serta kantong gamisnya. Dia mencari-cari di bawah meja makan, mungkin tidak sengaja terjatuh. Caca ikut mencari di dalam tasnya, tetapi hasilnya nihil. "Coba cari lagi, mungkin terselip" ucap Caca sambil menyendok suapan terakhir nasi gorengnya. "Nggak ada Ca, ini udah aku cari baik-baik" ucap Aisyah yang kini membongkar isi tasnya. "Astagfirullah, jangan-jangan Orang yang tadi nabrak kamu itu copet lagi." "Jangan su'udzon dulu kamu, coba telpon mama kamu, mungkin ketinggalan waktu kita fitting baju" ucap Aisyah yang segera diangguki oleh Caca tetapi jawabn ibunya juga sama, tidak ada. "Tuh kan, aku bilang juga apa. Bukannya su'udzon tapi waspada, sekarang tuh banyak orang yang modusnya kayak gitu, alasan nabrak padahal niatnya mau mencuri." "Jadi sekarang gimana dong?" Tanya Aisyah panik. "Gimana apanya, yah beli ponsel baru." Ucap Caca enteng. "Di sana tuh banyak kontak penting" ucap Aisyah, yang jadi masalahnya sekarang adalah isi dari hpnya. Kontak-kontak penting serta beberapa file penting yang belum di pindahkan ke laptopnya. Beruntung Aisyah tidak memiliki satu pun foto wajahnya di dalam ponsel tersebut, masalahnya bagaimana jika foto itu nanti disalahgunakan, diedit sembarangan seperti kasus-kasus yang marak terjadi sekarang. Beruntungnya, dia selalu rajin memindahkan file-file seperti itu ke laptop karena takut hal yang tidak di inginkan seperti hari ini terjadi. "Tapi kamu ingat password media sosial kamu kan?" Tanya Caca polos "Nggak, aku lupa" ucap Aisyah tanpa dosa berbanding terbalik dengan ekspresi Caca. "Melayanglah sudah dua juta followers kamu." "Kok malah followers sih yang di bahas. Lagi pula aku juga bahagia dengan hilangnya ponselku, aku bisa buat akun baru. Punya followers banyak bikin hpku berisik" Aisyah memang memiliki banyak pengikut di i********: karena dia pernah menjadi juara satu Lomba Hafidz Qur'an seluruh Indonesia yang akhirnya membuat namanya tidak asing lagi, lomba tersebut ditayangkan dibeberapa stasiun tv. Bahkan dia pernah diundang secara langsung oleh kedutaan arab dan dipertemukan dengan banyak Syekh yang memiliki suara yang merdu ketika melantunkan ayat suci Al-qur'an. Videonya membaca qur'an telah ditonton oleh jutaan orang. Dia juga menjadi juara cerdas cermat yang pernah diadakan di Jakarta, tidak hanya itu, dia pun pernah menjadi relawan muda terbaik dan mendapatkan penghargaan langsung dari Presiden. Diusianya yang masih muda, dia sudah mengukir banyak prestasi. Prestasi dan wajah yang cantik adalah sesuatu yang jarang dimiliki oleh seorang perempuan. Kebanyakan perempuan lebih memilih mempercantik diri daripada menambah wawasan dan ilmu agama. Sementara Aisyah memiliki keduanya sekaligus, dia bahkan membuktikan bahwa anak IPS pun bisa mengukir prestasi sama halnya dengan anak IPA. Apapun jurusannya, kita yang menentukan, ingin sukses atau tidak. Caca geleng-geleng kepala hingga akhirnya suara panggilan masuk dari ponsel Caca menginterupsi perdebatan mereka. "Dokter Adnan" ucap Caca "Pasti dia nyariin kamu, ini angkat telponnya" Caca memberikan ponselnya pada Aisyah. Aisyah mengambil ponsel yang di sodorkan Caca. Belum sempat dia nengucapkan salam, seseorang di ujung sana lebih dahulu mengucapkannya. "Assalamualaikum, Caca. Aisyah bersama kamu kan? Dari tadi saya telpon tidak diangkat-angkat." Nada khawatir Adnan benar-benar membuat Aisyah merasa berbeda, jantung perempuan itu berdegup kencang. Dia yakin, jika Caca sedikit lebih dekat dengannya maka suara detak jantungnya bisa terdengar. Bagaimana bisa tidak mendengar kabar Aisyah membuatnya panik seperti ini. "Wa...wa'alaikumsalam, Ini Aisyah kak" terdengar Adnan bernapas lega di ujung sana "Maaf telponnya tidak Aisyah angkat soalnya ponsel Aisyah hilang, dicuri orang." "Innalillah. Tapi, kamu nggak apa-apa kan?" "Alhamdulillah Aisyah baik-baik aja kak" "Alhamdulillah, jangan seperti ini lagi yah dek. Kakak benar-benar khawatir, nanti kalau mau ke mana-mana, bareng ayah dan ibu, jangan cuma berdua dengan Caca." "Maafin Aisyah ya kak, sudah membuat khawatir" Aisyah merasa bersalah. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, mengetahui kamu sehat tidak kurang satu apapun, sudah lebih dari dari cukup. Kalau begitu kakak tutup dulu soalnya ada jadwal operasi,  assalamualaikum Aisyah" "Wa'alaikumussalam" Aisyah memegangi dadanya, jantungnya berdetak di luar batas normal. Ternyata begini rasanya di perlakukan seperti seorang wanita yang sesungguhnya. KEMBALI MENYAPA, hahaha. Doakan Semoga rajin update. Eh jangan jadi pembaca gelap dong jangan lupa vote dan beri saran yah 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN