Belajar Bos, Besok Ujian

1015 Kata
"Harus bilang Hallo lagi ya?" Tanyaku langsung setelah tersambung. "Nggak usah," jawab Savira di layar. "Tapi udah kebilang." "Yaudah, mau gimana lagi." "Rem dulu kalau mau belok Ra. Kalau nabrak terus kamu nggak akan bisa menang." "Iya udah ngerem ini. Tapi masih nabrak." "Kamu ngeremnya udah sejengkal mau nabrak. Jelas aja kena. Emang menurut kamu pencet rem gitu auto berhenti di tempat? Kan enggak." "Enggak gitu ya?" "Enggak Savira." "Aku kira gitu," ucapnya polos. Bikin mau tepok jidat rasanya. "Seru banget ya mainnya?" Kak Rossi tiba-tiba ikutan ngomong. Bikin seseorang di layar Amoletku auto kaget. Gamenya aja langsung di pause. "Eh, Kak. Maaf aku nggak liat." "Haha, gapapa. Santai aja." "Siapa namanya tadi Van?" Tanya Kak Rossi padaku. "Sarinah kak," jawabku. "Iih kamu. Bukan Kak, aku Savira." Hahaha, aku ditempeleng sama Kak Rossi, ganti-ganti nama anak orang sembarangan. "Kenal dimana sama Si Bengal ini Ra?" "Baru kenal hari ini kak. Tadi di depan gerbang. Sebelumnya cuma liat dia sering dihukum lari di lapangan aja sama guru." "Dih, diaduin." Aku nyelonong. "Iih enggak, kan Kakak kamu nanya Van. Aku cuman jawab aja." "Dasar bengal dihukum terus." "Udah ah kak, aku mau belajar ni. Kakak telpon siapa kek. Telpon adeknya Savira deh biar dia kesal. Dia lagi mabar ep ep tu. Ini aku kasih nomornya." "Yaudah, belajar yang bener ya adek manis. Jangan ngeliatin layar HP terus nanti kalau belajar ya. Kakak keluar dulu," satu dua detik kepalaku dielus sama Kak Rossi. Setelahnya, di rempeleng lagi. "Bye Savira." "Bye Kak. Sampai ketemu." Emh sopan banget kalau udah sama orang. "Itu race nya udah selesai Ra?" Aku balik nanya soal game. Tadi di pause setauku. "Udah ah aku nyerah. Gabisa aku." "Yaudah besok-besok aku ajarin lagi kalau kesana. Sekarang ajarin aku fisika dulu yok? Bisa kena semprot aku ni kalau nggak bagus nilainya." "Iya deh, aku ambil buku sebentar ya?" "Okey Bu Guru," jawabku sambil hormat bendera. Kami akhirnya mulai belajar beberapa menit kemudian. Udah kayak kelas online gitu. Akhirnya oake aplikasi Meeting biar Savira bisa presentasi. Asli keren beut. Aku rasa jika Bimbel online kekurangan mentor, Savira pasti bisa diterima kerja disana. Bukan cuma itu, dia pasti menangin mentor favorit di bulan pertamanya kerja. Tapi Savira mana butuh nyambi gitu, uangnya kan nggak ada serinya. Malam yang memesona. Meski langit tak hadir dengan gugusan bintang yang indah sebagai latarnya, rintik air yang turun seolah memainkan perannya. Menemani aku yang fokus menatap layar ponsel. E-nggak fokus sih sebenarnya. Seperti ngeliat stream catur yang streamernya cantik. Pasti perhatiannya ke ekspresi kakak streamer bukan ke caturnya. Pengennya sih gitu. Cuma besok itu ujian fisika bukan ujian Savira. Yok bisa yok fokus yok. Nggak kerasa udah sejam. Waah kalau lewat semenit aku harus bayar double nih, haha. Nggak sih, dia udah mulai ngantuk kayaknya. Masa dia bilang 5 volt 2 ampere itu 20 watt, harusnya kan 10. "Sampai sini kamu paham kan Van?" Kata dia beberapa saat setelah aku protes. "Udah kok Ra. Aku udah siap buat ujian besok. Makasi ya udah dibantuin. Kamunya sampe ngantuk gitu?" "Iya Van. Aku seneng kok ngajarin kamu. Kamu cepet banget ngertinya soalnya." "Yaudah, tidur gih. Jangan lupa ingetin Farhan buat tidur ya? Nanti dia bablas main ep ep sampe pagi." "Iya, kamu juga jangan begadang. Nanti kesiangan lagi." "Siaps." "Aku tutup ya?" "Awkays." Di luar sudah sepi. Kak Rossi udah tidur kali ya? Mending aku cek pintu deh. Mastiin udah kekunci atau belum. Sekalian naruh gelas kopi ini di tempat cucu (cuci Ngaab). "Jadi dia yang tadi bantuin kamu bayar ojol?" Kak Rossi ternyata masih ada di ruang tengah. "I-iya kak," jawabku kaget. "Cantik ya?" Tanya dia lagi. "Iya," jawabku. "Di sekolah famous nggak?" Mantap mode interogasi dimulai. "Nggak kak. Dia nggak eksis girl gitu anaknya. Lebih ke kalem aja." "Hoo, anak perpus gitu?" "Dia seringnya ada di UKS malah. Nggak tau juga sih. Mungkin karena tadi dia piket. Sebelumnya aku jarang banget liat dia." "Ooh gitu. Hidden gem?" "Bisa jadi. Udah ah Kak aku mau nycui gelas." "Eh Van," Kak Rossi manggil lagi setelah aku jalan beberapa langkah. "Iya kak?" "Semangat!" "Semangat buat apa?" "Pepet terus bro. Jangan sampe lolos." Ahaha, Kak Rossi masih aja bisa becanda. Walau sekarang udah kurang sih semenjak nikah. Yaa mungkin karena dia udah nggak tinggal disini. Tapi Kak Rossi emang tipe kakak yang asyik gitu lah. Enak juga buat diajak cerita. Kalau dia ketemu Savira mungkin bisa panjang itu obrolan perempuan. Waktunya tidur. Biar nggak kesiangan lagi. Jangan sampai telat hari ini. Besok woy bukan hari ini kata si anu. Lah emang udah ganti hari, mogimana? Ada masalah? Nggak, bukan kalian kok gess. Ada aja gitu. Soul yang sok iye. Kalian pasti nemu banyak dah. Yang merasa lebih tau dari siapapun, merasa lebih pintar dari akumulasi kecerdasan manusia di seluruh dunia. Ngomongin orang lu ya? Nggak hey, kan nggak nyebut inisial. Nggak tau juga inisialnya siapa. Ngomongin problematikanya aja. Seperti kasus korupsi, orangnya nggak penting. Yang penting kan kasus sama duitnya. Siapa aja bisa korupsi, cuman kalau korupsinya udah nggak ada, orangnya akan hilang sendiri. Wkwk, aku sok-sokan bijak. Jadi yang harus diberantas itu kasus dan budayanya, bukan hanya orangnya. Waah auto disorakin netizen euy. Nggak-nggak, canda. Canda korupsi aku nggak ikut-ikut. Tinggal tidur ah. ** (Eh, maap kurang satu, *) "Ehh, tumben bangunnya pagi?" Kak Rossi agak kaget liat aku bangun cepet. "Kan ada ujian Kak. Nggak mungkin telat lagi kan?" "Iya deh, padahal ujiannya nggak pagi." "Ya kali ujian fisika sehabis lari-lari di lapangan kak? Bisa dapat nol aku." "Van, kamu mulai teraturin tidur ya? Kan nggak mungkin dihukum terus tiap pagi karena ketiduran di kelas." "Tapi Kak. Bang Robin?" "Soal itu udah tenang aja. Dia nggak akan keluar malam lagi kok." "Kok bisa kak?" "Udah, kamu siap-siap gih sana. Nanti juga tau sendiri kenapa." Hmm, kenapa Kak Rossi bisa seyakin itu ya? Mandi dulu lah, nanti pikirin lagi. Sekarang fokus dulu prepare sekolah. Jangan telat, habis itu ujian fisika. Sumpah aku sih agak deg-degan sama ujian kali ini. Kelistrikan soalnya. Emang bukan yang paling sulit sih. Cuma aku ngerasa ini materi yang menantang aja. Amit-amit jangan sampai remedial. Nah, itu Bang Panjul. Pas sekali
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN