Serius Sekali

1009 Kata
"Nggak tidur Van?" Suara Bang Panjul agak sering (kok sering? sSerak maksudnya). Hmm, apa dia terkena Covid-19? (Heey baru mulai episodenya, jangan ngejokes). "Nggak bang, jam tidur udah bener. Haha," jawabku tanpa memperdulikan pikiran aneh barusan. Apa itu Covid-19? Kami tidak kenal. "Widih mantap." "Tapi palingan besok rusak lagi Bang," buru-buru aku klarifikasi sebelum opini berkembang. Aku jarang sekali memperhatikan jalanan yang kami lalui setiap pagi. Yaiyalah, orang biasanya molor? Wkwk. Ternyata seru juga di perjalanan. Bang Panjul iseng nge-olengin mobil. Dia bilang kalau aku tidur, dia biasanya nggak lakuin itu. Takut bikin aku kaget. Tipis-tipis aku juga diajarin ngemudiin truk air ini (sebut saja truk lah ya). Ternyata ada namanya loh. Aku kira cuma orang yang punya nama, truk juga rupanya. "Siapa namanya Bang?" Tanyaku kepo. "Rahmat Perkasa," jawab si Abang mantap. Kami tertawa setelahnya. Itu nama yang keren. Bang Panjul mulai ugal-ugalan, membuatku senyum-senyum sembari menahan adrenalin. Syukurlah, sekolah sudah dekat. Ah, kalau tau gini mending aku tidur tadi. Rasanya kalau aku tidur, dia tidak segila ini nyetirnya. Tapi tak apa, ini seharusnya memang tugasku sebagai penumpang gratisan, menemani supir ngobrol. "Van, tau nggak kenapa Abang nyetirnya ugal pagi ini?" "Karena aku nggak tidur Bang?" "Bukan." "Terus kenapa Bang?" "Abang lagi galau Van." "Dih, bisa galau juga Bang. Kenapa tu?" "Bisa lah, Abang kan normal. Ya karena orang tua cewek Abang belum bisa nerima Abang yang cuma kerjaannya gini." "Waah masalah Abang klasik sekali. Banyak dialami orang Bang." "Iya, kan dunia ini emang ngukur orang dari materinya Van." "Padahal kalo nggak ada yang nganter air, itu orsng kaya juga nggak bisa minum ya Bang?" "Nah betul." "Kalo cewek Abang sendiri permasalahin nggak Bang kerjaan Abang?" "Dia sih aman-aman aja Van." "Oh, kalo gitu tenang aja Bang." "Lah kenapa gitu?" "Kalo dia yakin, dia pasti bisa yakinin ortunya Bang. Abang cuma perlu make sure dia yakin aja Bang." "Yaah Abang takutnya dia nanti dipaksa aja sih sama orang tuanya." "Yaah, kita cuma bisa mengusahakan yang terbaik aja Bang. Apapun hasilnya pasti Tuhan milih yang terbaik Bang." "Iya sih Van. Abang juga udah mulai belajar ikhlas. Bukannya pesimis ya, cuma siap-siap kalau kejadiannya nggak seperti yang kita harapkan." "Semangat Bang. Pasti bisa kok." "Sa ae lu." "Makasi ya Bang. Turun duls." "Mantap duls." Kebetulan sudah sampe sekolah. Jadi obrolan paginya mesti disudahi. Aku melompat keluar pintu (mayan tinggi gess) dan jalan catwalk ke gerbang. Dih catwalk, kata si anu lagi. Ya gak papa kan nggak ada yang liat ini. Mau jalan handstand juga terserah aku kan? Ribut ae kayak omongan tetangga. Kerja dimana sekarang? Kapan nikah? Whaaaa, cot. Pak Bahar baru saja selesai membuka gerbang. Dari kejauhan aku melihat dia menyeka keringat. Topinya belum terpasang, mungkin karena masih pagi. Aku tak mempercepat langakh. Tetap saja jalan santai. Rekorku sebagai siswa yang datang paling pagi belum terkalahkan. Sekali terlambat its okay. Apalagi terlambatnya kayak kemarin. Waah aku suka sekali. What an experience? Eh ndak bisa bahasa inggris ya? Maaf-maaf. "Naah gini dong. Datang pagi jangan telat kayak kemarin," Pak Bahar langsung menodongku. "Kemarin ketiduran Pak, hehe." "Hari ini seger banget kayaknya?" "Oh iya dong Pak. Semangat pagi." "Biasanya loyo?" "Biasanya bagi saya pagi itu malam Pak, haha." "Haha, ada-ada aja kamu." "Saya langsung ke kelas ya Pak. Ada ujian soalnya." "Howalah oke-oke Van." Tu kan, Pak Bahar sudah kenal banget sama aku. Kallian cobain triknya deh. Aku nggak jamin sih kalo nggak berhasil. *** Waktunya masuk kelas. Eh, bukan kelas aku. Aku kan ujiannya di lokal Savira. Agak canggung sih pas jalan dan belok ke pintu 11 A. Maklum, katanya disini anak pintar semua. Biasa, kalau di sekolah, urutan kelas kadang menunjukkan level akademisnya. Nggak heran kenapa yang juara umum biasanya anak A atau 1. Ah nanti ajalah masuknya. Nunggu Bu Sinta dateng aja duls. Di dalam ngeri banget, isinya anak ambis semua. Savira hebat juga bisa temenan sama orang pintar dan kayaknya tulus. Maksudku, biasanya orang pintar dan yang penih ambisi gitu kalo temenan pasti ada maunya. Berteman berdasarkan mutualisme. Oknum lho ya bukannya semua anak kaya dan pintar kek gitu. Kalau di cycle kalian nggak kayak gitu, komen aja dibawah. Pas sekali Bu Sinta datang. Biarin dia jalan duluan deh. Eh, Novi nggak ada. Kemana dia? "Van itu ada kursi kosong di sebelah Savira. Kamu duduk disana aja ya?" Ah Bu Sinta, kayak di web series aja. "Ciee sebelahan," Elisa menyoraki dari belakang. "Van, kamu udah ready kan?" Savira nampakmya khwatir aku belum siap ujian hari ini. "Udah kok, tenang aja Ra. Kan semalem diajarin sama guru privat aku." "Siapa?" Tanya dia pura-pura polos. "Ada, cewek deket rumah. Cantik," jawabku. Savira diam nggak menjawab lagi. Soal ujian dibagikan, Bu Sinta berkeliling mengecek kalau-kalau ada yang menyontek. Haah, haha. Soalnya ternyata nggak sesulit itu. Tau gini aku ujian kemarin aja ya? Dih shombong amat. Nggak lah, kalau ujiannya kemarin pasti aku cuma nyalin soal lagi, wkwk. Kan belajarnya baru tadi malam? Aku sempat melihat sekitar dan berpikir, "Ooh trrnyata orang pintar kalo ujian diem-diem bae ya. Beda sama kelas aku. Ada yang siul-siul, puter-puter pena, sampai ada yang benerin make up pas ujian. Aneh-aneh emang. Savira gimana ya? Ah harusnya aku nggak nanya. Kan dia guruku? Lihatlah, mukanya datar sekali ngerjain soal. Nggak kelihatan mikir sama sekali. Kayak sedang menuliskan apa yang ada di otaknya aja gitu. Nggak pake banyak mikir. Ulangan fisika di SMA juga kadang ngebolehin pake kalkulator. Info aja bagi teman-teman yang belum tau. Termasuk yang kali ini. Jadi beban ngitung-ngitung pasti berkurang jauh. Hmm, mereka serius sekali. Bahkan kalo aku cerita apapun ke kalian soal mereka, pasti mereka nggak denger. Saking seriusnya. Kumpulin ah, bosen lama-lama di kelas orang. Tapi bentar, ngasih paket dulu ke Savira. "Ra, ada paket nih." Ucapku sembari menyodorkan sebuah kotak. "Rovan, apa itu?" Mampey Bu Sinta liat. Guru Fisika yang kalem itu bakal berubah menjadi pribadi berbeda kalau marah. Seperti dua orang berlainan. Kayak Yugi sama Yammi Yugi gitulah. Yang paham berarti kita seumuran wkwk. "Kamu nyontek ya?" "Nggak Bu. Ini saya mau ngumpulin san balik ke kelas. Saya udah selesai kok Bu." "Terus apa yang kamu kasih sama Savira?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN