Pertama Kali Telat Malah....

1007 Kata
Prakk, satu tinju melayang ke wajahku. Binatang buas di depanku mengamuik. Kata-kataku tadi seolah menjadi pemantik kebakaran hebat. Aku berusaha bertahan, melindungi diriku dari serangan brutal bersusulan. Dia melempar apa saja, pria pemabuk ini pasti tak peduli apa yang akan terjadi. Yang dia tahu, aku sudah menyinggungnya dengan ucapanku barusan. Dan tidak boleh ada yang melakukan itu semenjak kejadian dua tahun lalu. "Robin ,Stop!" Kata seseorang dari kejauhan. Dia, aku kenal suaranya. Ashh, sakit. Itu Kak Rossi. "Dasar nggak guna, Rovan yang ngurusin kamu tapi kamu malah mukul dia. Cabut sana!" Teriak Kak Rossi garang. "Kamu nggak apa-apa dek?" Sahutnya kemudian setelah Bang Robin pergi. "Aku oke Kak," jawabku lirih. "Itu pelipis kamu luka, Kakak ambil obat dulu ya?" Kak Rossi berlalu mengambil obat. Dia masih hafal posisi barang-barang di rumah ini ternyata. Sengaja tidak aku pindahkan sih, banyak kenangan di setiap tumpukan, rak, bahkan semua sudut rumah inipun seakan bisa merasakan. Melihat susunan ini selalu membuatku merasa, mereka masih ada disini. Kami masih keluarga yang utuh dan bahagia. "Kamu kenapa nggak ngelawan sih Van?" Tanya Kak Rossi sekembalinya dari ruang tengah, mengambil kotak P3K. "Ngaoain kak? Kan gimanapun dia abangku juga?" Jawabku masih meringis kesakitan. "Jangan dilembekin terus dianya. Malah makin semena-mena nanti. Coba kalau Kakak tadi nggak datang, kita nggak tau kan apa yang bakal dia lakuin sama kamu?" "Justru Kakak jangan ngomong yang nyakitin perasaan dia kak. Aku ngerti hidup jadi dia itu pasti nggak enak. Kakak bayangin aja berapa banyak bullyan, hinaan, dan bahkan tekanan yang harus dia terima. Dia bahkan langsung di-DO dari kampusnya kak. Kita sebagai keluarga yang tersisa harusnya support dia." Aku nggak tau darimana bisa sebijak itu. Bahkan aku nggak belibet sama sekali ngomongin ini. "Udah kamu malam ini tidur aja. Biar kakak yang nungguin dia balik." Kak Rossi menyuruhku istirahat. "Makasi ya kak." Akhirnya, setelah sekian puluh (bahkan mungkin ratus) malam, aku bisa tidur lagi. Nggak harus begadang. Astaga, aku bahkan lupa rasanya kasurku sendiri. Alhamdulillah malam ini bisa tidur lagi disini. Ssshhh, badanku sakit, langsung tidur kali ya? Selamat malam dunia. *** "Van, van. Bangun dek udah pagi." Suara seorang perempuan membangunkanku. Samar-samar, suaranya mirip sekali dengan suara Ibu. "Eh Kak. Mm, jam berapa kak?" "Setengah tujuh dek." "Astaga aku telat. Yaah Bang Panjul pasti udah lewat ya kak?" "Udah kamu ke sekolah naik ojek online aja. Nanti kakak pesenin ya?" "Yaudah kak, aku mandi dulu ya?" "Buruan gih nanti telat." Tanpa babibu, aku langsung ngiprit ke kamar mandi. Nggak peduli dengan suasna rumah. Apakah Bang Robin pulang malam tadi? Apa dia mabuk? Ah nggak sempat mikirin itu. Bahaya nih kalau telat sekolah. Hari ini ada ujian fisika. Bisa mati berdiri aku kalau terlambat. Ayo buru hey, duh shampoo mana lagi. Hey dimana anda shampoo? Sialan, nyelip di rak bawah. "Lets go bersatu dengan angin larilah sampai tujuan," gumamku menyanyikan salah satu lagu OST kartun 90-an yang memorable itu. Dah, ambil handur, standing, dan terbang. Tuh kan saking buburunya handuk jadi handur. "Itu ojeknya udah didepan." "Iya kak, makasi ya. Aku berangkat dulu." "Eh Van, ini ada bekal buat kamu." "Oh oke kak, aku pergi dulu." Abang ojol udah nangkring depan rumah. Senyumnya sumringah, sesuai panduan perusahaan kali ya? Baguslah, setidaknya dia bukan tipikal driver yang kadang kalo ngechat suka kurang sopan. Atau dia yang salah maps, kita yang dimaki-maki. Haha, aku kayak ngerti aja perojolan. Padahal baru kali ini naik. Wkwk, aku cuma baca-baca di screenshootan netijen sih. Kadang ada yang suka membagikan chat-chat kalo mereka kesal. Giliran dikasih bintang 1 ngomel-ngomel. Bilangnya dia kerja bukan main-main, kalau bintang 1 dia disuspend. Tapi yaa kadang sikapnya sendiri yang bikin ratingnya cuma pantas dikasih 1. Tenang, aku nggak sepenuhnya belain pelanggan kok. Banyak juga kostumer yang kelakuannya perlu direvisi. Cancel seenaknya, orderan fiktif, bahkan ngasih bintang 5 beratnya kayak apaan tau. Plastiknya sobek dikit, bintang 3, drivernya ngebut dikit, bintang 4. Padahal ngasih bintang 5 nggak ngeluarin modal gitu lho? Kenapa sih nggak bisa normal-normal aja? Drivernya ngejalanin panduan perusahaan, ramah, kalau salah maps minta maaf atau konfirmasi lagi. Kostumer juga bantu drivernya kan butuh bintang 5. Kenapa mesti di drama-dramain? Duh, jalanan kota sudah mulai sumpek nih jam segini. Hal yang jarang aku liat sih. Ternyata udah jauh lebih parah ya dari dua tahun lalu. Mungkin karena populasi mobil lebih banyak. Makanya daripada aku menceritakan keruwetan jalanan, mending bahas ojol kan. Bagsu, sudah mau sampai. Tapi ini jam, eh. 07:15? Wadidaw, aku telat nih. Mati. "Bang, disini aja," teriakku dari belakang. Sudah sangat dekat, daripada nunggu macet lagi mending jalan aja. "Yaudah, oke Mas." "Ini helmnya bang," ujarku seraya ambil ancang-ancang lari. "Totalnya jadi 25 ribu Mas?" Kata si Abang saat aku udah lari 2 langkah. Astaga belum dibayar sama Kak Rossi. Wasted sudah nih aku. Duh dompet mana dompet. Arghh. Mana lagi nih? Hilang di saat seperti ini? "B-bang, mangao, eh maap dompet saya ngamu, eh, nggak kenemu. Eh nggak ke-te-mu Bang." "Wah gimana ini ya Mas?" Sial, bagaimana ini? "Ada apa Bang?" Tiba-tiba seorang cewek mendekat. Sepertinya dia baru turun dari mobil mewah yang berhenti persis disampingku. "Ini Mbak, si Masnya lupa bawa dompet kayaknya." Si Abang menjelaskan dengan nada yang, sumpah, dia nggak marah. "Yaudah Bang, pake duit saya aja dulu. Kan dia temen sekolah saya," Kata cewek itu. "Makasi ya Mbak, permisi Mas." Bahkan dia masih sempat permisi. "Makasi ya Bang," jawabku masih agak segan sama abang ojolnya. Sehat-sehat Bang, semoga lancar terus rezekinya. Jarang ada orang baik kayak Abang. "Kak, makasi ya? Kalau nggak ada kakak, nggak tau deh tadi." Kali ini aku sudah menghadap pada perempuan yang barusan membantuku. "Sama-sama Rovan," jawabnya. "Lah, kakak tau nama saya?" Sepersekian detik kemudian aku merasa sebego itu, kan ada di seragam. "Kita satu angkatan kok." Nah yang ini baru harusnya aku tanyain kenapa. "Eh iya Savira." "Hmm, aku sering liat kamu dihukum lari di lapangan sendirian pagi-pagi. Guru-guru juga suka bahas kamu di kelas aku." "Aduh resputasi, eh reputasi aku pasti udah turun kali." "Hahaha." Dia malah ketawa. "Eh kita telat." Astaga, kenapa aku lupa bel masuk udah bunyi. RIP lah ujian fisika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN