Seep, mantap. Persiapan selesai. Well, nggak ada persiapan sih sebenarnya. Hanya cokelat dan bunga yang aku beli barusan di minimarket depan kompleks. Em, maksudku bukan kompleks, karena nggak layak disebut kompleks. Di pinggiran kota sini kompleks pastilah kata-kata yang asing. Ya iya, kan identik dengan rumah mevah? Kalau rumah sederhana disebutnya pemukiman kali ya? Apa kalo pemukiman itu besar? Ah, aku pengen nanya ke kalian padahal. Jawab dalam hati aja deh kalo yang tau sebutannya apa ya.
Savira sudah aku undang, semalam sama Farhan sekalian. Mereka excited banget. Apalagi si dedek tuh. Pen banget ngerasain atmosfer turnamen. Sampai-sampai dia bilang cita-citanya jadi pro player? Bukan player versi anak-anak sekarang ya? Kalo yang itu nggak baik soalnya. Savira bahkan minta aku jemput. Ess, jadi juga boncengin cecan. Motor Bang Bogem juga udah aku booking seharian ini. Tanpa panjar sih bookingnya. Orang nggak disewain ini, cukup beliin bensin aja, itupun nggak harus. Kesadaran sendiri aja kalo habis minjem motor orang.
Ini motor walaupun tua bukan untuk balap-balap Bang ya, untuk jemput cecan dan adek cecan ni Bang.
Si Boy, Eval, sama Bronby juga ikutan nonton. Sebenarnya ada turnamen online juga hari ini tapi aku ikut yang offline aja, lebih greget. Uangnya dikasih hari ini juga kalau menang. Lumayan bisa jadi OKB sehari.
"Paket," teriakku di depan pintu. Aku nggak mencet bel karena dua orang sudah siap di depan pintu.
"Kok paket sih, salah tau," balas Savira tersenyum.
"Harusnya apa?" Tanyaku penasaran
"Ojol,, wkwk," jawabnya singkat.
"Oh iya betul juga."
"Kak, beneran sering menang kalo main di turnamen?" Si Dedek yang sekarang nanya. Nggak yakin kali dia.
"Iya, kapan-kapan Kak Rovan ajak ke rumah, banyak pialanya disana."
"Okesiap."
"Dih, si Dedek doang nih yang diajak?" Savira yang naik di belakang tiba-tiba menyalak (bukan gitu ?)
"Ciyee cemburu?"
"Iyalah cemburu."
Lah apasih aneh. Harusnya respon cewek normal itu "nggak, siapa yang cemburu?" Atau something like that. How you like that lah ya. Kalian kalo di film nontonnya gitu kan? Cewek itu gengsinya omaigat. Padahal di dunia nyata nggak gitu amat. Dan bisa jadi, cerita-cerita itu yang ngubah mindsett cewek-cewek jadi suka gengsian. Bukannya nggak mungkin lho? Kalian tau sendiri betapa addict nya cewek sama film, berapa banyak yang ngehalu jadi pasangannya tah yong? (Tah yong saha Mang?) Itulah pokoknya, anggap aja ada yang namanya tah yong.
Aku nggak dengan sengaja melan-melanin laju motor. (Melan-melanin apa lagi? Temannya serotonin?) Bukannya nggak pen romantis kayak di drama, cuma monmaap. Pelan-pelan telat saya ke turnamen ini. Jauh mang. Jadi agak ngebut dikit adalah jalan terbaik. Minggu pagi jalanan kota tidak akan memberi kamu waktu untuk santuy. Banyak family-family yang sudah dengan semangat ingin pergi liburan. Dan di jalan bukan Q-time yang mereka inginkan bukan? Jadi wajar saja, orang-orang jadi sedikit ugal agar segera sampai destinasi wisata.
Uhh, setelah ngomel-ngomel di jalan, akhirnya kami sampai juga di arena pertarungan. Sudah rame sekali. Satu dua match mungkin sudah berjalan. Beruntungnya aku tidak ada di row awal, jadi boleh telat dikit.
"Cieee bawa suporter," teriak Bronby dari jauh melihat aku dan Savira baru sampai.
"Diam nyeet," balasku.
"Kayaknya kita bakal dianggurin nih," seru Eval setelah aku mendekat.
"Apaan sih?"
"Udah, yuk langsung masuk aja?" Abang-abang Preman juga udah datang, kayak Presiden aja aku kalau udah gini. Dikawal sama paspampres (bener gak ya?)
Yang lain juga gitu, jarang ada yang berani datang sendiri. Semua pasti di-bodyguard-in sama anggota klub atau teman rental mereka biasa main. Aku udah cerita kan apa aja yang bisa terjadi? Akhir-akhir ini sih udah aman-aman aja. Tapi bukan berarti nggak mungkin kejadian lagi. Kayak orang demo lah, walau kebanyakan aman dan tertib, tetap aja polisi harus bersiaga takutnya ada kejadian anarkis.
Aku menggendong Farhan kedalam. Bukan modus ya, aku takut dia kejepit atau kena senggol. Wkwk jadi inget becandaannya sultan-sultan crazy rich di salah satu negara yang diapit dua benua dan dua samudera. Aku nggak paham sih apa maksudnya senggol dong. Monmaap.
"Van, giliran lu tuh." Boy memberi kode. Ini saatnya aku berlaga. Watch it netijen. Ah sayang ini bukan channel yutup,kalo enggak aku pasti udah live vlog. Hello gais balik lagi, wkwkwk.
Duh pengen banget ceritain setiap detail pertandingannya sama kalian. Tapi kasian kamu (kaum) hawa pasti nggak relate. Sad juga mereka udah capek-capek baca dari awal, malah bosen di chapter ini. Pokoknya aku bisa masuk final aja, padahal lucu sekali sih pemain-pemainnya. Ada yang nyerah sebelum waktu habis karena udah aku bantai, ada yang ngedumel sendiri habis dikucing-kuxingin sama aku. Ada juga yang banyak cocot diawal taunya kopong. Sampai di final aku akhirnya ketemu sama orang yang skillnya hampir setara aku. Beberapa kali aku ketemu dia sih. Kayaknya kalau nggak ada aku, dia udah jadi juara umum di rental. Head-to-head kami 10-2-6. Kalau ada yang nanya 10 siapa, kalian pasti nggak pernah nonton kartun 90an dimana karakter utama pasti paling jago. Hahah, bukan ges, yang 10 dia tau. Orang udah bapack-bapack. Tapi 5 pertemuan terakhir aku 3 menang dan 1 imbang, jadi tren nya sedang di aku. Kata orang sekarang handicap ya?
Partai ini pasti panas. Aku harus superserius karena sekali slip aku bisa dipelonxo sama bapack tattoan ini. Fokus, main tenang, pasiing kaki ke kaki, sabar gaming. Itu kuncinya. Dia parkir bus parah sih, sekali counter ngerinya kayak ketemu setan. Okey, so far so good. Aku masih bermain-main kanan kiri kayak goyang t****k. Si Bapak juga sabar banget menunggu. Kayaknya dia udah terbiasa dengan kehidupan rumah tangga, jadinya udah nggak gampang emosi.
Ah, ? kerebut. Di counter sama Mo Salah, alaaaah pasti jebol punya. Kan 1-0. Argh, aku agak kesal. Tanganku memukul paha. Dari belakang aku dengar Farhan teriak, "Semangat Kak Rovan. Forza Rovan." Itu memang chant buat aku. Abang-abang preman yang buat, Forza dalam bahasa italy artinya ayo (sok paham amat ni anak)
Half time, aku ketinggalan sebiji goal. Meski nyerang terus udah 7 hari 7 malam nggak tembus. Ah, kan jadinya aku ceritain, monmaap ya gurls, karena ini final jadi aku harus cerita. Savira mendekat dan memberikan minum, pelan dia bilang, "Semangat, kamu pasti bisa. Forza Rovan." Waaaah. Mendengar itu, energiku meningkat berkali lipat. Aku makin gencar menggempur, hingga akhirnya bisa menyamakan skor di menit 63. Gollazoo, semua fans (ehm, bukan fans om ya. Penonton bayaran) bersorak kegirangan. Ayoo.
Setelahnya aku menjadi agak frustrasi mencari goal kemenangan. Ini si Pak Tua nggak ngelawan lagi nunggu diserang doang. Inhale, exhale. Aku coba tenang, tapi gagal.
Menit 89, dia dapet momen counter lagi. Sepersekian detik aku berpikir ini harus gagal. Kalau seri lamgsung pinalty, okelah chance-nya 50:50. Maka aku ambil keputusan untuk sleding jahat. Kartu merah, its fine. Toh mau penalty juga. Tapi apa yang tak aku kalkulasikan terjadi.
"?kasar banget??," ucap si Bapak
"Lah, kan nggak ada yang larang?" Jawabku.
Aku salah, sangat salah menjawab seperti itu. Kerah bajuku ditarik, aku dibanting sampai kepentok kursi gaming yang tadi aku duduki. Yang lain coba mendekat dan membantuku, namun si bengal tatoan ini sudah begitu beringas. Belum lagi bodyguardnya coba menghalangi abang-abang preman untuk menolong. Keributan tak terhindarkan. Astaga, Savira? Farhan? Dimana mereka?