Shess, kembali lagi di pagi yang penuh rasa tak pasti. Ceileh, semalaman aku nggak pulang samsek (sama sekali ya). Yaiyalah, kan nginep di rental. Untung bawa kunci rumah, pagi-pagi begini pasti si Robin belum bangun. Eh nggak boleh gitu, Bang Robin. Wkwk, yang kemaren aku pake emot ternyata bisa, kalian yang baca pasti kaget. Tapi seru juga bisa pake emot binatang. Jadi nggak kasar kan vibesnya? Hahaha.
Aku membuka pintu pelan-pelan. Sebetulmya nggak takut ketemu sih, males aja harus memulai hari dengan debat nggak jelas. Kayak yang onoh aja suka debat pake urat, pake intelektual, tapi nggak nemu solusinya. Kalaupun nemu yaa buat dissna aja. Nggak guna buat negara gitu atau organisasi apalah.
Ah udah bahas ginian aja lho pagi. Sekolah cuk. Masih sekolah, masih belum dewasa dan belum kecewa.
Berangkat duls everyone, nanti telat. Kamu juga gaskeun lah. Kamu yang lagi nunggu momen buat nyatain perasaan, gaskan, nanti ditikung. Wkwk, kenapa sok bijak begitu akunya? Emang mau nembak hari ini? Well, nggak ada prepare sih. Tapi kalau ada momen mungkin Savira akan kutembak. Capek juga gengs di cengin terus di grup WA. Si Bronby sama Eval tu suka kali cari perkara. Masa dia bilang, pepet doang jadian kaga. Kan nantangin namanya?Ah kalau cerita ini udah banyak yang baca pasti seru. Aku bisa nanya di komen bagusnya nembak pake cara apa. Tapi namanya Indonesia yah, cerita kan harus liat penulisnya dulu. Kalo penulisnya punya nama baru di baca, baru beli bukunya. Kalo penulis baru mah siapa, nggak ah nggak mau buang duit. Pasti gaje ini. Ada sih cara lain, pake mutualisme. Pake orang-orang yang pura-pura komen excited padahal nggak baca. Waah bagus kak ceritanya, waah nggak sabar nih nunggu part selanjutnya. Padahal nggak pernah baca. Iya gess jadi jangan ketipu kalau ada yang komen gitu. Karena ada sistem di kalangan penulis platform online yang namanya mutualan. Simpelnya kalau kita komen begituan di cerita dia, dia juga bakal komen balik di cerita kita. Tujuannya ya banyakin like, komen, vote, atau apalah. Sama aja kayak beli followers di ig, atau beli subs di youtube kayaknya. Padahal tu sebenarnya penulis di platform online banyak yang bagus-bagus ceritanya. Aku suka baca juga idenya sih keren-keren. Bahkan banyak yang lwbih keren dari cerita yang biasa difilmkan yang konfliknya hampir itu-itu aja. Eps, no hate buat cerita-cerita terkenal yang difilmkan ya. Nggak usah hating-hating ges, bikin capek soul doang. Mending saling rispek satu sama lain aja. Aku cerita gini karena emang yang aku rasain sebagai penulis tu gitu. Sayang aja.
Nais, nyampe. Jadi nggak kerasa kalau sambil cerita sama kalian. Hopefully kita bisa cerita banyak hal lagi nanti. Semoga kalian nggak kesel dan tetap mau lanjut baca part berikutnya ya?
***
"Ehm, pistol mana pistol?" Tuh kan langsung mulai si Bronby pagi-pagi.
"Paan sih lu?" Aku merespons sinis.
"Perlu kita yang beliin bunga nggak ya Boy?" Lanjut Eval.
"Metik belakang sekolah aja," kata Boy.
"Diam kalian cucumya Darwin," celetukku.
"Van, van. Savira tuh di luar," sahut Eval setelah nelihat keluar.
Aku beranjak dan melihat keluar pintu. Barangkali Savira menunggu, mungkin mau ngobrol atau mau ngasih sesuatu.
Mana nggak ada, mataku mencari ke semua arah. Tidak ada tanda-tanda Savira disini. Aku membalikkan badan dan bersiap balik ke bangku.
"Ciyee bucin, denger namanya aja langsung ketrigger," ucap Bronby meledekku. Kalau kata orang jawa ngenyek ya? Komen dibawah yang orang jawa. Barangkali aku salah. Halah lagu-laguan lu Vans.
"Sialan, Bani Abu Lahab," teriakku bercanda.
Nggak kok, aku nggak marah. Agak kesel sih dicengin terus. Tapi bagaimanapun mereka teman-temanku. Kata orang, kadang teman bisa jauh lebih baik dari keluarga. Dalam beberapa hal aku setuju. Contohnya buat cerita, banyak hal yang lebih enak kita ceritain ke teman daripada ke keluarga. Mungkin karena mereka seumuran. Jadi lebih relate gitu. Cuman kalo ngecengin mereka juaranya sih.
Aku bakal kaget kalau ada yang komen beneran sih.
Pelajaran hari ini biasa aja. Nggak ada yang seru. Biologi masih di sistem pencernaan. Lanjut ke sejarah manusia purba. Aku sekarang udah mulai normal, nggak sering dihukum lagi kayak kemarin-kemarin. Udah bener sekarang tidurnya. Kalo tidur itu di rumah, di sekolah belajar. Kalau ngegosip itu di mall atau di kafe nongki-nongki, bukan di ruang sidang. Eh maaf nyenggol terus. Kena somasi baru tahu rasa. Ampuun.
Jam istirahat juga berlangsung seperti biasa. Nggak ada pertemuan dengan Savira hari ini. Nggak apa-apa. Kalau ketemu terus kangennya kapan? Yaaah bangcaad. Eh coba pake stiker lagi ya?
Yaaah ? dasar.
Ditemani lagu Cinta Simpul mati seru weey. Kerasa vibes anak-anak pramuka gitu. Relate lah sama anak-anak sekolahan kayak aku. Lagu-lagu Indonesia sih emang kreatif-kreatif sih. Salut sama penyanyi kita. Enak-enak didengar banyakan.
Bukan enak-enak yang lain ya bos?
"Woy lu pada bantuin gue dong, ngecengin mulu?" Aku mulai serius, sudah cukup ceng-cengannya ya.
"Bantuin apa Bor?" Sahut Bronby, orang paling responsif kalau diajak ngomong.
"Bantuin nembak ?," jawabku.
"Lah nembak ? mah tinggal pake ketapel to?" Seru. Eval ngeselin.
"Serius ?, dasar cihuwahuwa." Aku ngeplak kepalanya Eval.
"Oke serius. Mau nembak gimana rencananya?" Boy yang paling baik emang.
"Yaa itu aku nggak tau. Aku kan nggak pernah nembak sebelumnya. Bron, lu kan udah pengalaman nih, kasih ide dong?"
"Hmm, gimana ya bagusnya? Gue kebanyakan sih kalo soal ide." Sialan si Bronby, memang player sih anaknya.
"Lu pasti mau yang diem-diem kan Van bukan yang banyak orang tau?" Bronby paham betul aku anaknya nggak suka pansos. Apalagi Savira. Orang ada sparing basket di sekolah aja dia nggak nonton?
"Iya Bron, cukup aku, kalian sama Savira and the gang aja yang tau. Temen-temen kelas kita jangan. Meninggoy gue dimintain pajak jadian nanti."
"Hahaha, oke-oke." Semuanya tertawa.
"Nah, gini aja. Lu kan bilang pernah ngajarin dia main PS. Gimana kalo lu ajak dia ke turnamen minggu depan? Habis menang udah deh lu tembak?" Cerdas, Bronby memang kelas soalan ide nakal.
"Nah bagus juga tuh," timpal Eval. Aseek kayak puisi gitu ya? Rimanya sama. Timpal Eval.
"Oke sih, bagus juga. Aku sjapin apa aja berarti?"
"Bunga, coklat, standar lah."
"Oke-oke, tak beli dulu."
"Jangan sekarang juga belinya ?."
"Kenapa?"
"Lumer nanti coklatnya."
"Betul juga."
Mantap, kalo kamu punya teman ahli strategi gini kan enak. Nggak usah pusing mikirnya cuy.